Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bukan Inspirasi! Belajar Jadi Wirausaha Profesional

Menjadi wirausaha adalah satu hal yang mengagumkan bagi saya. Kemampuan mengidentifikasi peluang dan mengembangkan ide untuk merintis sebuah usaha dengan jerih payah sendiri menggambarkan sosok yang seolah kuat berada di atas kaki sendiri. Selain itu, berkembangnya usaha bisa menjadi wadah untuk mempekerjakan orang-orang yang butuh pekerjaan. Secara tidak langsung, kita telah membantu pemerintah mengatasi pengangguran di negeri tercinta ini. Itulah sebabnya mengapa saya pribadi bermimpi untuk menjadi seorang wirausaha.

Almarhum bapak saya adalah wirausaha, seorang kontraktor. Setidaknya dia bukan pegawai, karyawan atau bawahan yang bekerja untuk orang lain. Tanpa bermaksud memandang negatif seseorang yang bekerja dan mendapatkan gaji bulanan, bapak saya secara tidak langsung memberikan gambaran kepada saya sejak kecil bahwa pekerjaan itu tanpa dicari, bisa kita ciptakan sendiri. Mendirikan CV, atau badan usaha lainnya. Yah, walaupun semua itu ujung-ujungnya memerlukan modal awal untuk mendirikan dan menggerakkan perusahaan, tapi bukannya modal itu bisa dicari? Bekerja setidaknya 1-2 tahun, mengumpulkan uang dan merencanakan jenjang karir selanjutnya.

Pertama kali belajar terjun di dunia bisnis sewaktu SMP. Itu juga karena bapak saya. Tidak sengaja beliau mendapatkan banner dari sebuah platform bisnis di internet. Sebagai generasi yang tumbuh tidak akrab dengan teknologi, akhirnya dia mengajak saya untuk membuatkan akun di platform bisnis tersebut. Tidak berjalan sebagaimana mestinya, tapi setidaknya produknya digunakan untuk pribadi dan keluarga. Dari situ saya kemudian belajar sedikit tentang e-commerce. Cara pasang iklan, mengenal situs dan forum jual beli, bahkan memanfaatkan sosial media seperti blog dan Facebook untuk pemasaran. Belum maksimal, tapi berproses dan sedikit membuahkan hasil.

Saya akhirnya mengenal bisnis afiliasi, reseller dan dropshipper. Setelah bapak tiada, entah mengapa saya ingin melanjutkan perjuangannya. Sepak terjang, kegagalan dan titik terendah yang dialaminya dalam merintis usaha seolah ingin saya bayar dengan gaya usaha saya sendiri. Pada akhirnya saya membuat toko online sendiri, dengan berbekal sedikit kemampuan web coding. Tapi, lagi-lagi gagal. Saya belajar banyak, bukan tentang hal-hal teknis, tapi soal konsep.

Konsep pemasaran, manajemen produk, dan pendistribusian nampaknya masih perlu saya asah sedalam-dalamnya. Tapi biarlah kegagalan yang saya alami sewaktu menimba ilmu di tingkat SMK itu saya jadikan bekal untuk ke depannya. Tidak sampai di situ, say pun mengalami suatu peristiwa yang mengharuskan saya menanggalkan seragam yang menjadi ideal bagi orang-orang sebaya saya. Karena telah melepas status pelajar, saya semakin terpacu untuk mewujudkan cita-cita saya yang dulu. Seolah ada doronga tersendiri untuk memperlihatkan bahwa tanpa sekolah saya pun bisa menghasilkan.

Akhirnya saya mencoba memperluas relasi di sebuah forum online terbesar saat itu. Tidak lain adalah KasKus. Siapa yang tidak mengenal media sosial yang mempunyai massa lumayan ini. Bagi netizen era 2000-an mungkin tidak asing lagi. Dari situ saya belajar banyak, tentang etika jual beli online, model-model partnership, peluang usaha di kalangan netizen, dan teknik promosi yang disukai konsumen. Setidaknya saya belajar, mengambil pengalaman, dan mendapatkan bekal untuk eksperimen selanjutnya.

Sampai kemudian, saya lagi-lagi mengambil pelajaran dari sepupu saya yang kebetulan membuka usaha di rumah saya yang menurutnya berlokasi strategis untuk usaha penatu. Saya belajar tentang konsep, manajemen dan satu hal yang paling penting adalah, berani mencoba. Hingga saat ini, saya pun melihat sebuah hasil dari modal keberanian tersebut. Akhirnya usaha yang dirintis mampu bertahan hingga sekarang dan menghasilkan omset yang lumayan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Baru-baru ini, saya mencoba untuk memulai kembali. Memanfaatkan Facebook sebagai sarana promosi, dan menghabiskan modal yang seminimal mungkin ternyata belum mampu menjawab pengorbanan saya. Ditambah lagi kegagalan menekuni bisnis produk digital yang juga baru-baru saya lakukan. Orang-orang mengutang di mana-mana. Tapi strategi mengelola keuangan termasuk piutang belum saya geluti. Semua karena ketidakmampuan saya untuk konsisten. Yah, satu hal yang kembali saya dapatkan, yakni satu kata itu, "Konsisten".

Saya belum cukup mampu untuk konsisten. Konsisten memerlukan ketekunan. Ketekunan untuk mengelola produk yang diinginkan konsumen, menyasar konsumen, dan keberanian menggunakan uang untuk keperluan produk dan pengelolaan. Saya masih perlu belajar, tapi terus mencoba.

Dalam satu webinar tentang kewirausahaan, dikatakan bahwa wirausaha bukanlah pekerjaan sampingan. Seorang wirausaha tidak akan bisa konsentrasi mengembangkan usahanya selama masih ada pekerjaan lain yang menjadi prioritas. Pendidikan misalnya. Usaha yang digeluti tidak serta merta akan berkembang selama ada pekerjaan selain usaha itu sendiri. Saya pribadi setuju dengan anggapan yang satu ini.

Hal lain yang saya dapatkan dari hasil pembelajaran saya selama ini adalah, perbedaan antara wirausaha dengan pebisnis. Seseorang bisa saja memberikan modal kepada orang lain untuk mengelola dan menjalankan usaha yang ditentukan. Tentu dengan kesepakatan antara kedua belah pihak. IIlustrasinya, saya mengajak salah seorang kawan untuk menjalankan usaha. Saya bertindak selaku pemodal yang memberikan keleluasaan kepada kawan saya untuk menjalankan roda usaha. Dengan perjanjian saya mendapatkan upah dari hasil pekerjaan yang dilakukan oleh kawan saya. Menurut saya itu adalah salah satu contoh dari spekulasi bisnis. Saya mempunyai cara lain untuk mendapatkan penghasilan. Tidak bekerja secara langsung, tapi dengan cara yang menguntungkan.

Contoh lain, saya memiliki pekerjaan utama sebagai karyawan. Sebagai sampingan, saya juga menjual pulsa kepada orang-orang tanpa melalui counter pulsa. Transaksi pulsa bisa dilakukan dimana saja saya berada tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama saya. Pekerjaan sampingan itu saya lakukan untuk menambah penghasilan semata-mata. Hal yang saya lakukan tersebut menurut saya adalah bisnis. Terlepas keinginan saya untuk mengembangkan bisnis tersebut atau tidak, yang jelas pekerjaan sampingan itu bukan menjadi prioritas saya.

Namun, anggaplah saya adalah seorang penjual kue. Saya menyediakan kue, menerima pesanan dan memiliki kurir untuk mengantarkan pesanan. Sebagai promosi, saya membagikan brosur kepada orang-orang yang tepat yang telah menjadi target pasar saya. Saya betul-betul menekuni manajemen usaha saya. Yang saya lakukan adalah bisnis, namun secara tidak langsung saya juga berwirausaha.

Saya memutar otak untuk mencapai target pasar, mengelola produk dan mengasah kemampuan teknis. Itulah bagian dari bisnis yang saya lakukan. Sementara, keberanian saya untuk mengeksekusi, mengambil resiko, dan menguatkan mental adalah bagian dari kewirausahaan itu sendiri. Sepintas mungkin hampir sama, tapi bagi saya itu tetap menjadi hal yang berbeda.

Banyak kita dapatkan, usaha yang dirintis oleh seseorang belum mampu berkembang walau telah berusia sekian lama. Hal ini perlu diidentifikasi, bagaimana pelakunya merencanakan jenjang usaha yang dirintisnya? Adakah matriks yang telah dibuat untuk kelangsungan usaha ke depannya? Jika belum, barangkali pelakunya belum dapat dikategorikan sebagai wirausaha atau pebisnis. Dari sini, mungkin dapat kita terka apa perbedaan mendasar antara wirausaha dengan pedagang.

Wirausaha bisa jadi pedagang. Tapi pedagang belum tentu wirausaha. Sementara itu, wirausaha sudah pasti adalah pebisnis, sedangkan pebisnis belum tentu wirausaha. Setidaknya hal ini yang kemudian memperkaya wawasan saya tentang kewirausahaan.

Setelah mengetahui perbedaan wirausaha dengan pebisnis beserta hubungan antar keduanya, setidaknya ada hal-hal yang perlu dikuasai dalam berbisnis. Karena berbicara tentang bisnis, maka akan cenderung merujuk pada strategi dan teknik. Seseorang harus mampu mengelola, entah itu keuangan, SDM, operasional serta pemasaran.

Secara teknis, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk yang satu ini. Berbagai perangkat lunak baik di komputer maupun di Smartphone dapat membantu kita dalam menganalisa kelangsungan usaha. Gunakan Microsoft Office untuk mengelola keuangan, media sosial untuk melancarkan pemasaran, dan berbagai aplikasi yang memungkinkan sebagai upaya branding perusahaan. Hal yang lebih bagus lagi, jika kita dibekali dengan ilmu administrasi dan manajemen. Tentu itu akan sangat membantu. Tapi kalau hal tersebut berbenturan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, kita dapat memperbanyak pengetahuan dengan cara membaca. Banyak e-book yang beredar di om Google yang menjelaskan tentang cara-cara administrasi dan manajemen yang baik.

Saya sendiri belum sepantasnya menggambarkan secara mendalam tentang hal-hal teknis seperti itu. Namun itulah yang pernah saya jalani dan cara-cara itu berhasil setidaknya membantu saya merekap seberapa besar kesalahan saya. Sampai saat ini pun saya masih belajar dari kegagalan sebelumnya, dan selalu mencoba untuk memulai. Saya hanya ingin bercerita soal pengalaman, dan berbagi cerita kegagalan yang mudah-mudahan mampu mendorong ke arah keberhasilan.

Post a Comment for "Bukan Inspirasi! Belajar Jadi Wirausaha Profesional"