Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Braille is Irreplaceable

Penulis: Miftah Hilmy Afifah

Dalam kemajuan internet yang semakin canggih dan multifungsi, manusia dituntut untuk mengembangkan serta memanfaatkan teknologi guna beradaptasi dalam keberlangsungan hidup. Pada era serba digitalisasi ini, hampir semua pekerjaan dialihkan pada mesin. Bentuk transformasi refolusi 4.0 yang merupakan penggabungan teknologi dan internet telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Gambar Aksara Braille

Tak terkecuali disabilitas netra. Salah satunya dalam bidang literasi, banyak disabilitas netra yang mulai memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memenuhi kebutuhan literasinya ketimbang mengandalkan perpustakaan konfensional dan buku cetak Braille. Dengan dilengkapi menu aksesibilitas pada setiap smartphone, semakin mempermudah disabilitas netra untuk memperbanyak bacaan. Khususnya yang hobi membaca dan menulis. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib huruf Braille? Apakah akan punah seiring perkembangan syber fisical? Sebab, tak dapat dimungkiri peminat huruf Braille saat ini menurut saya mulai merosot. Alasan yang acap saya dengar yaitu lantaran membaca huruf Braille lebih banyak makan waktu, tempat, menulisnya pun kurang efektif jika sedang melakukan observasi turun langsung ke lapangan.

Pengalaman saya, selama bersekolah di SLB, memang tidak pernah lepas dengan huruf timbul tersebut. Saban hari, belasan lembar bisa dihabiskan untuk menulis materi yang diberikan oleh guru. Bahkan, agar tidak terlalu boros pemakaian kertas, saya juga diajarkan penggunaan tusing yang sampai saat ini belum bisa saya hafal. Guru juga berpesan kalau tusing ini juga akan berguna jika saya melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, selama diperkuliahan, hanya beberapa kali Braille itu saya gunakan. Lantaran kecepatan menulis yang kurang cepat, serta suara ketukannya yang membuat saya khawatir mengganggu konsentrasi belajar teman-teman yang lain, itu sebabnya saya lebih mengandalkan sistem recording ketika berada di kelas.

Nah, dari pengalaman saya, merupakan salah satu bukti bahwasannya eksistensi Braille saat ini mulai tergantikan oleh sistem dari mesin atau lebih akrab dengan sebutan teknologi. Akan tetapi, teknologi tidak selalu merujuk pada mesin, alat, atau kumpulan teknik untuk memecahkan suatu masalah. Wikipedia telah mendefinisikan pengertian teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Selain itu, definisi teknologi juga dapat dipandang sebagai suatu kegiatan yang membentuk atau mengubah suatu budaya.

Kembali lagi pada penjelasan Braille di era digital. Sebenarnya Braille dan disabilitas netra tidak akan pernah bisa dipisahkan. Sebab, kehadiran Braille di dunia tak luput oleh keberadaan disabilitas netra itu sendiri. Tak heran jika Braille dinobatkan sebagai identitas seorang disabilitas netra. Braille-lah yang telah membawa disabilitas netra mengenal jendela dunia jauh sebelum perangkat lunak diciptakan. Namun, akankah penggunaan Braille tersisih dan tak terpakai lagi seperti yang dilantunkan pedangdut Rhita Sugiarto. Saya rasa tidak. Karena bagaimana pun era digital memanjakan kita, tetap tak mamppu menyinkirkan Braille dari kehidupan disabilitas netra.

Kesadaran melestarikan huruf Braille harus selalu kita pupuk. Jangan sampai kita buta terhadap huruf sendiri. Kalau bukan disabilitas netra, jelas tidak ada yang menggunakan huruf Braille tersebut. Walau saya jarang menulis dengan huruf Braille, akan tetapi Braille selalu saya pelajari. Misalnya dalam membaca Al-quran. Meski sudah banyak murotal yang bisa didengar di youtube, namun jelas perbedaannya ketimbang membaca langsung melalui lembaran yang sudah tentu bagaimana huruf beserta tanda bacanya. Sehingga tidak ada kekeliruan dan keraguan saat menghafal Al-qur’an. Bukankah beda panjang, pendek, apalagi salah pelafalan satu huruf saja akan mengubah makna? Demikian pula halnya dengan tanda-tanda dalam matematika. Meskipun agak rumit dan jumlahnya yang banyak, tentu perkara satu ini tak boleh disepelekan.

Adapun dalam belajar bahasa inggris, penggunaan Braille juga cukup berpengaruh. Disabilitas netra yang baru menghafal kosakata dalam bahasa inggris, perlu juga membaca bentuk kosakata tersebut disamping listening. Terutama bagi disabilitas netra yang belum terbiasa mendengarkan percakapan dalam bahasa inggris, akan kesulitan membedakan antara kosakata yang satu dengan yang lain. Contoh kata: “Two, too, to”, “One, want”, “Bread, breath”, dan masih banyak lagi kosakata bahasa inggris yang sekilas terdengar mirip, namun jika dicermati akan terdapat perbedaan dan makna yang tak sama.

Pernah suatu hari, ketika saya pertama kali memperlihatkan Braille kepada teman-teman saya yang waktu itu masih statusnya sebagai mahasiswa baru. Dengan membawa regelet dan stylus, serta Majalah Gema Braille yang ssampai saat ini kerap mengisi waktu senggang saya kala menunggu kuliah berlangsung. Alhasil, teman sekelas melingkari saya lantas berkata, “Baru kali inisaya lihat tulisan timbul ini secara langsung. Biasanya hanya lihat di TV”. Bahkan, ada yang memotret serta memvideokan seolah itu barang langkah yang sukar ditemukan. Sampai-sampai ada yang minta dituliskan nama lengkapnya untuk dijadikan pajangan. Betapa antusiasnya mereka dengan huruf Braille milik kita. Mengapa kita yang memilikinya harus malu apalagi gengsi?

Dari beberapa point di atas, semoga mampu menumbuhkan kecintaan kita sebagai penyandang disabilitas sensorik netra (PDSN) terhadap Braille yang telah banyak berperan dalam meningkatkan kesejahteraan para disabilitas netra. Sudah selayaknya kita sebagai warga disabilitas netra mengembangkan minat baca tulis Braille serta meneruskan semangat juang Louis Braille untuk mengajarkan pada disabilitas netra lainnya supaya jangan sampai buta huruf dan ketinggalan informasi yang tertuang dalam bentuk Braille. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Tetap semangat dan jangan pernah berhenti melestarikan Braille kapan pun dan dimana pun.

***

Foto Diri Penulis, Mifta Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh. Halo, perkenalkan namaku Miftah Hilmy Afifah. Biasa disapa Afifah. Tanggal lahir 2 Maret tahun 2000. Tempat tinggal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Aku seorang mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Aktifitas sehari-hari selain kuliah yaitu menulis cerpen dan puisi. Selain itu aku juga seorang penyiar radio streaming Langgam Mutiara. Hobiku menulis, memasak, dan mendengarkan lagu-lagu Korea.

Post a Comment for "Braille is Irreplaceable"