Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Pengabdian, Ekspresi Diri, Hingga Mindset Milenial

Minggu, 23 Mei 2021, saya mendapatkan kesempatan berbincang gurau bersama salah seorang sahabat saya. Ialah Rizkah Rustam Arumdapta. Pengurus DPD PERTUNI Sulawesi Selatan, yang menurut saya memiliki pola pikir yang patut menjadi contoh untuk aktivis perempuan muda Makassar. Ia eksploratif, elaboratif, dan selalu mendukung apa saja yang sifatnya positif demi kemajuan tunanetra-tunanetra muda yang potensial khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan.

Ia juga merupakan salah seorang guru bantu di Sekolah Luar Biasa Khusus Tunanetra Yayasan Pembinaan Tunanetra (YAPTI) Makassar. Sejak tahun 2018, ia diamanahkan untuk membina adik-adik tunanetra yang memerlukan perlakuan khusus dalam proses belajar. Di sinilah, ia membuktikan daya kreasi yang dimilikinya dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif untuk adik-adik berkebutuhan khusus.

"Hobi saya bukan mengajar sebenarnya. Tapi, hobi saya adalah berbicara. Nah, kegiatan berbicara itu salah satunya bisa saya dapatkan lewat mengajar. Itu merupakan hal yang relevan," tutur kak Rizkah, sapaan akrab saya dengan beliau saat berbincang pukul 21.00 WITA.

Di sekolah, kak Rizkah memiliki 6 orang siswa dengan masing-masing kemampuan yang berbeda-beda. Beberapa di antara mereka ada yang masih bisa berbicara, ada yang tidak, ada pula yang bisa berbicara namun tidak dapat diajak berkomunikasi.

"Dikarenakan kemampuannya yang berbeda tersebut, maka dalam proses pembelajaran, saya mengatur jadwal tersendiri. Misalnya saya membuat pertemuan untuk mereka yang tipe kemampuannya sama untuk hari tertentu. Karena jika mereka disatukan di waktu yang sama, itu tidaklah efektif. Saya telah diberikan keleluasaan oleh pihak sekolah untuk mencari model pembelajaran yang pas untuk adik-adik ini. Makanya, saya menerapkan model pembelajaran individual. Setiap siswa memiliki penanganan tersendiri," ujarnya.

Walaupun Rizkah bukan merupakan sarjana keguruan, dan belum pernah mendapatkan kesempatan untuk menapaki dunia perkuliahan, namun ia telah menunjukkan sebuah kapabilitas dalam membimbing adik-adik sebagai wujud dari filosofi pendidikan. Profesionalitas berhasil ditunjukkannya melihat perkembangan adik-adik tunanetra autis dan grahita memperlihatkan kemajuan yang pesat. Anto, salah satu siswa yang dibimbingnya, kini telah mampu mengerjakan pekerjaan keseharian, seperti mencuci pakaiannya sendiri. Ia juga telah banyak mengetahui kosa kata baku yang mungkin sebagian dari kita juga belum mengetahuinya.

"Sebenarnya klasifikasi autis dan grahita untuk keenam siswa saya itu hanya berdasarkan analisis dan pengalaman saya sendiri. Belum pernah ada asesmen untuk mereka baik dari seorang psikolog atau dari otoritas lain. Dari apa yang saya ketahui tersebutlah, maka saya memberikan porsi belajar kepada mereka sesuai kemampuannya, yang ditinjau dari keseharian mereka. Namun, bagi saya, kriteria ketuntasan untuk mereka bukanlah seperti apa yang biasanya dihadapi oleh kita secara formal di sekolah. Melainkan keterampilan dalam mengerjakan tugas-tugas keseharian untuk diri sendiri."

Di setiap pekerjaan yang memerlukan rutinitas, tentu saja berpeluang untuk mendatangkan rasa jenuh. Dalam hal ini, Rizkah pun demikian. Namun, rasa jenuh itu tidaklah datang dari siswa-siswa yang dihadapinya, melainkan suatu yang lumrah, aktivitas yang dilakukan terus menerus.

Rasa jenuh itu manusiawilah. Rutinitas memang sewajarnya akan mendatangkan kejenuhan. Namun, rasa jenuh itu bukan bersumber dari siswa-siswa saya. Justru merekalah yang biasa mengusir kejenuhan tersebut. Mereka sering saya ajak bercanda, dan terkadang kelakuan yang mereka tunjukkan juga lucu-lucu. Di sinilah saya mencoba mengeksplorasi hal-hal baru untuk diterapkan dalam proses pembelajaran mereka. Jadi, terkadang saya menerapkan pembelajaran di luar kelas, yakni mengajak mereka untuk berbelanja. Kebetulan, saya dipercayakan untuk memegang uang saku hasil beasiswa siswa-siswa saya. Dari situlah, saya mengajak mereka untuk membeli sesuatu yang mereka sukai, atau membeli sesuatu untuk kebutuhan keseharian mereka. Dengan begitu, mereka sedikit demi sedikit dapat diajarkan kemandirian untuk membeli kebutuhan secara mandiri. Namun, hal itu saya lakukan untuk beberapa dari siswa saya yang memang memungkinkan untuk itu. Karena, tidak semua dari siswa-siswa saya mampu melakukan hal tersebut."

Ia mengaku, tak ada perbedaan rasa tatkala berinteraksi dengan adik-adik tunanetra berkebutuhan khusus sejak sebelum diangkat menjadi guru bantu, hingga setelah mendapatkan kesempatan untuk membimbing mereka. Rizkah telah lama berinteraksi dengan mereka, tepatnya sejak ia tinggal di asrama tunanetra. Di sana ada beberapa dari adik-adiknya yang mengalami kedisabilitasan ganda. Ia tak pernah sanksi dengan mereka. Malah, ia percaya, jika mereka terus-menerus digenjot untuk mandiri, mereka juga akan bisa.

"Memang butuh kesabaran untuk memberikan mereka keterampilan, setidaknya untuk mengurus diri mereka sendiri. Perlu pengajaran yang berulang-ulang untuk bisa tertanam dalam diri mereka. Peranan orang tua untuk memahami kemampuan anaknya tersebut sangatlah penting. Di samping itu, menurut saya komunitas yang peduli dengan kehidupan-kehidupan anak-anak yang mempunyai permasalahan mental dan intelektual sangatlah perlu dibentuk. Hal ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk lebih memahami bagaimana cara untuk memberdayakan mereka. Karena, masih ada dari mereka yang berpontensi bisa diberdayakan. Setidaknya ada satu dari mereka sebagai representasi. Nantinya, secara perlahan akan tersosialisasikan tentang mereka yang juga dapat berdaya. Namun, memang itu semua butuh perjuangan yang tidak mudah. Perlu perjalanan yang panjang untuk mewujudkannya."

Bakat Yang Terpendam

Di sela-sela percakapan saya, topik akhirnya dialihkan ke salah satu kegemaran yang dimiliki perempuan berusia 33 tahun ini. Eksisnya dalam dunia maya membuktikan jiwanya yang milenialis. Dalam channel youtubenya, Rizka Arumdapta<, ditemukan berbagai video yang mempersembahkan olah vokal yang elok.

"Jadi waktu saya kecil, saya suka disuruh menyanyi sama tetangga, terus dikasih gula-gula. Dikasih ikut lomba sama orang tua, terus dapat juara. Yang saya tahu hanya itu. Jadi saya tidak pernah belajar olah vokl. Dan menyanyi bukan profesi impian saya, namun hanya sebatas hobi untuk menghibur orang lain dan diri saya sendiri. Pernah sih ikut menyanyi, tingkat lurah, camat, provinsi. Dapat juara pernah, tapi jarang," ujarnya sembari tertawa geli.

Selain itu, hasil dari stalking saya di medsos yang dimilikinya membuat saya mendapatkan salah satu video memasak. Namun, judul video yang membuat saya bingung akhirnya membuat saya melontarkan pertanyaan kepadanya tentang arti dari "Tumis Ceria", salah satu judul video yang ada dalam channel youtubenya. Bisa disimak pada video berikut!

"Jadi memasak itu bukan hobi, tapi tuntutan hidup. Tumis ceria itu adalah inspirasi dari Brownies, yang merupakan kue yang gagal, tapi sekarang menjadi kue yang banyak dimakan orang. SSaya memberikan nama sendiri, karena saya membuat resepnya sendiri. Karena semua hal yang bernilai positif, harus saya eksplorasi. Gagal atau tidaknya, yang penting ada usaha. Begitu pemikiran saya."

Mindset Anak Muda Ala Rizkah

Sedikit menceritakan perbedaan model komunikasi zaman 90-an dengan era kekinian, Rizkah menjelaskan pengalamannya dalam mendapati berbagai alat-alat komunikasi yang berkembang di zamannya. Perkembangan teknologi tersebut telah menghiasi masa kanak-kanak perempuan tunanetra kurang awas ini.

"Jadi dulu itu ada yang dibilang Pager. Yang bunyinya "Tidililit... Tidililit..." Tapi saya waktu itu masih kecil, belum berani sentuh yang begitu-begituan. Terus ada juga yang namanya wartel, yang dibuat di dalam bilik, kita bisa menelepon ke orang-orang. Saya sering dibawa ke wartel, tapi hanya sebagai obat nyamuk, hehe... Orang menelpon dengan pacarnya, saya berdiri termangu di dalam," tuturnya sambil tertawa.

Era digitalisasi memang membawa kemudahan bagi semua. Kemudahan komunikasi, kemudahan komersial, kemudahan dalam mencukupi kebutuhan dan kemudahan dalam belajar. Rizkah berpendapat, bagi anak-anak muda yang tidak memanfaatkan teknologi dengan baik, memang dialah anak muda yang malas.

"Dulu hape hanya bisa dipakai untuk telepon, sms, sama senter-senter, hehe... Sekarang ada yang namanya om Google. Semua sudah tersedia di situ. Saya saja, sering memanfaatkan fitur canggih ini. Saya punya aplikasi, hanya mengucapkan "OK Google!" maka saya sudah bisa menelusuri apapun itu informasi hanya melalui ucapan saya. Jadi, anak muda sekarang itu, Mudah. Mudah dalam mengakses informasi. Hanya anak muda yang malaslah yang tidak mau belajar. Apa sih, susahnya belajar? Saya saja yang sudah tua, kalau ada hal yang membuat saya penasaran, saya langsung searching di Google. Sayangnya banyak yang tidak memanfaatkannya dengan baik. Jadi, harapan saya, ayolah kita eksis sama-sama. Karena fasilitas yang ada sekarang sangat mendukung untuk berkembang," pungkasnya di akhir percakapan.

Demikianlah hasil perbincangan saya bersama Rizkah Arumdapta, seorang guru yang eksploratif, mempunyai bakat dan berwawasan milenial. So, seperti kata kak Rizkah, janganlah malas untuk memanfaatkan teknologi dalam belajar. Menggali potensi sebisa mungkin, untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi yang kini telah diwarnai dengan pandemi corona yang belum kunjung usai. Teknologi yang semakin berkembang, perlahan menggeser mata pencaharian lama, namun menuntut keahlian teknis di dalamnya. KKeep SPIRIT and Express your own style..!

Post a Comment for "Dari Pengabdian, Ekspresi Diri, Hingga Mindset Milenial"