Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indahnya Perbedaan

Karangan: Rezky Try Ulva

Bumi tempat berpijak bagi setiap manusia, namun tak ada yang sama antara satu dan lainnya. Seperti kisah cinta, jalan hidup, strata social, penentuan jalan hidup, dan begitu pun iman yang ditetapkan dalam hati.

Gambar Pasangan Sedang Piknik Romantis

Dia adalah seorang pemuda yang taat beribadah juga rendah hati. Ya, dialah Syahid Fahmi.

“Syahid, kamu enggak ke rumah sakit nak?”

“Ini, Syahid baru mau pergi bu.”

“Sampaikan salam Ibu sama Aisyah ya!”

Di perjalanan menuju rumah sakit, Syahid melihat Maikel sedang berjalan kaki.

“Hei, bro, kamu mau kemana?”

“Aku mau ke gereja.”

“Ya udah, sini aku antar!”

Dia pun mengantar Maikel ke gereja, karena hari minggu adalah waktu dimana agama Kristen melakukan ibadahnya.

Namun tanpa dia sadari, ada sepasang mata memperhatikannya.

Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, Syahid dan Maikel berbincang-bincang, hingga tanpa mereka sadari mobil telah memasuki pagar gereja.

“... Hahaha!”

“Kel, ternyata perbincangan kita sampai disini dulu.”

“Hehe, oke thank you bro!”

Dia lalu membelokkan mobilnya, kemudian menuju rumah sakit Wahidin Makassar.

Sesampai di rumah sakit, dia langsung menemui istrinya Aisyah yang ditemani oleh adiknya Fitri.

“Sayang, gimana keadaan kamu?” tanya Syahid kepada Aisyah yang masih terbaring lemah di tempat tidur.

“Kepala Isyah masih terasa pusing, Mas,” sahutnya lirih.

“Ia, sayang. Kamu sabar ya, aku yakin kamu pasti cepat sembuh!” hibur Syahid sambil membelai rambut istrinya.

Ketika Syahid sedang menghibur perempuan berparas cantik itu, Dokter pun masuk ke kamar Aisyah, dengan didampingi Perawat dan mengatakan dia sudah boleh pulang, karena kondisinya sudah membaik.

Jadi, Aisyah hanya tinggal rawwat jalan saja.

Dia pun segera mengurus administrasinya, lalu menyuruh Fitri bersiap-siap pulang ke rumah.

Sesampai mereka di rumah, Ibu menyambut kepulangan Aisyah dengan membuat syukuran kecil bersama para tetangga disekitar kompleks perumahan.

Saat mereka sedang asyik menyantap makanan,tung plang pling, bunyi lonceng pintu pun terdengar.

Syahid pun segera ke pintu untuk melihat siapa yang datang.

Dia kemudian terkejut, ternyata yang datang adalah Maikel.

“Hid, gimana keadaan istrimu?”

“Alhamdulillah, dia sudah sehat, makanya Dokter sudah mengizinkan dia pulang.”

“Hid. Istrimu sebenarnya sakit apa?”

“Istriku sudah sejak lama menderita tumor dan batok kepala bagian belakangnya terpaksa harus dilepas,” ujarnya dengan kesedihan yang hanya dapat diterjemahkan oleh rindu yang sewaktu-waktu hadir menghias hari yang bernyanyi nelangsa.

“Oh, kasihan!” sahut Maikel dengan mengerenyitkan dahinya.

Syukuran telah usai, tamu-tamu juga berpamitan satu-persatu.

Hari-demi hari kesehatan Aisyah pun semakin membaik.

Dan karena itulah, Syahid pun memutuskan kembali mengajar di pesantren.

“Sayang. Besok aku mulai mengajar lagi di pesantren,” tutur Syahid sambil mengecup kening istrinya disertai perasaan sayang hingga tak dapat terukur oleh semua yang sunyi.

“Ia, sayang,” sahut Aisyah sambil tersenyum manis dan tersipu lembut.

Keesokkan harinya, Syahid pun berangkat ke pesantren Darul Istikomah. Tempat selama ini dia menimbah ilmu dan mengapdi sebagai salah-satu pengajar disana.

Sesampai dia di pesantren, dia langsung menghadap kepada ustat Hapits selaku pimpinan pesantren.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Oh, masih punya muka kamu datang ketempat ini?”

“Maksud pak ustat, saya tidak mengerti, pak?”

“Saya tahu, kamu sudah murtat dari agama Islam.”

“Dari mana bapak dapat berita seperti itu, pak?”

“Malik sudah bebeapa kali melihat kamu pergi dan masuk ke gereja pada setiap hari Minggu.”

“Itu tidak benar, pak. Saya memang memiliki sahabat yang beragama non muslim, tapi, saya tidak pernah melanggar dari syariat Islam, pak.” Tegas Syahid.”

“Ah, saya tidak perduli, lagi pula tenagamu sudah tidak diperlukan lagi di tempat ini.”

“Maksud bapak, saya dipecat?”

“Ia.”

“Baik pak. Saya akan segera keluar dari sini.”

Dia akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan kecewa.

Sesampai dia di rumah, Sang istri menyambut dengan senyumannya yang manis.

“Mas. Udah pulang?”

“Ia, sayang,” sahut Syahid sambil mencium tangan istrinya.

“Sayang. Aku dipecat dari pesantren,” tutur Syahid dengan suara lirih.

“Mengapa itu bisa terjadi, Mas?” tanya Aisyah penasaran.

“Aku difitnah, murtat dari agama.”

“Apa… Mengapa mas, itu bisa terjadi?” tanya Aisyah dengan wajah terkejut.

“Ya udalah sayang. Mungkin sampai disini saja pengabdian di pesantren yang pernah membuat aku menjadi seperti sekarang.”

“Ia Mas,” sahut Aisyah berusaha tersenyum.

Syahid dan istrinya pun kembali menjalani hari-hari seperti biasa.

Setahun berlalu, Syahid pun memboyong Aisyah ikut tinggal Di Bali, karena dia diterimah kerja pada sebuah pesantren yang ada di Provinsi Bali.

Namun, ketika dia sedang bertamasya ke pantai Kuta bersama istrinya dia terkejut melihat sesosok pria, sedang berdiri bersama seorang wanita tidak jauh berdiri dihadapannya.

“Hei, Maikel, sedang apa kamu disini?” tanya Syahid penasaran.

“Hid. Aku sudah 4 bulan kerja disini.”

“Oh, ya. Bagus dong kalau gitu!”

“Kamu sendiri, lagi ngapain di kota Bali?” tanya Maikel penasaran.

“Aku juga kerja dikota ini, tepatnya di pesantren,” sahut Syahid.

“Oh ya, ternyata Tuhan mempertemukan lagi kita disini.”

“Hem, boleh tahu siapa wanita yang kamu gandeng itu?” tanya Syahid menggoda.

“Oh ya, itu Angel istriku.”

“oh, syukurlah kalau kamu sudah beristri juga.”

Mereka kemudian berjalan bersama, menghabiskan waktu sepanjang malam.

Syahid dan Aisyah pun bergegas pulang. Dan sesampainya di rumah, dia dan istrinya kemudian masuk ke kamar lalu lanjut menonton tivi, karena tak lama lagi waktu shalat subhu akan tiba.

Ketika tivi baru dinyalakan, mereka sontak terkejut, melihat berita di televisi yang memberitakan tentang seorang aktivis jamaat kristiani , yang membakar sebuah masjid yang terletak di Tanah Lot.

Dan yang paling mengejutkan, ialah ketika nama beserta foto yang disebut ternyata adalah Maikel sahabat mereka sendiri.

Mereka pun bergegas pergi ke tempat Maikel ditahan.

“Maikel. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tidak tahu Hid.”

“Kamu tenang saja, kami tahu kamu tidak bersalah!”

“Ia. Mas Syahid benar Kel, kita semua tahu kalau saat kejadian kamu ada di pantai bersama kami.”

Seminggu pun berlalu, akhirnya pria bertubuh kekar itu dibebaskan karena pada saat kejadian, dia sedang berada di pantai Kuta Bali bersama istri dan kedua sahabatnya.

* Lima tahun pun berlalu, lamat-lamat sebagian manusia menyadari kesalahannya masing-masing.

Begitu halnya dengan pak Hapits, yang lambat mengetahui bahwa Syahid bawahan yang sangat dipercayainya itu sengaja difitnah oleh Malik untuk memecah belah persatuan ummat beragama.

Kring kring kring… Suara telepon tat kala membuyarkan Syahid yang sedari tadi sibuk memeriksa soal-soal yang akan diberikan pada santri-santrinya saat ujian nanti.

“Halo, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

“Syahid. Ini saya pak Hafits, nak,” tukas pak Hafits mengingatkan.

“Oh, ia pak,” sahutnya.

“Syahid. Maafkan segala kekeliruan Bapak, yang telah mempercayai perkataan Malik, nak!”

“Saya sudah lama melupakan masalah itu, pak,” tutur Syahid kepada pak Hafits.

“Syahid. Dengan segala kerendahan hati, Bapak ingin kamu kembali lagi mengajar di pesantren, nak!”

“Maaf, Pa. Saya bukannya tidak mau, hanya saja saya telah diberi kepercayaan untuk memimpin pesantren ini, pak,” tolak Syahid dengan berat hati kepada pak Hafits.

“Baiklah nak. Bapak tidak mau memaksa tapi, jika seandainya kamu berkeinginan untuk kembali lagi di pesantren, Bapak akan menerimanya, nak."

“Ia. Terima kasih banyak, pak!”

Akhirnya, pembicaraan antara Syahid dan pak Hafits pun usai, kemudian dia bergegas kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya, sebab dia baru saja selesai melakukan pencengkokan ginjal, akibat dari obat-obatan pasca oprasi pengangkatan tumor 5 tahun yang lalu.

Tapi, ketika Syahid baru membelokkan mobilnya di depan kuburan, tiba-tiba saja dia melihat seorang lelaki berjubah hitam sedang menangis di sebuah pusara.

“Astagafirullah, itukan Maikel!” serunya dalam hati.

Ketika dia berniat mendekati Maikel, dia sontak terkejut melihat nama yang terukir di atas pusara itu.

“Angel… Tidak mungkin!” serunya dalam hati.

Dia pun memberanikan diri, bertanya kepada sahabatnya itu.

“Maikel. Apa benar yang kulihat ini?” tanya Syahid dengan rasa tidak percaya.

“Ia,” sahut Maikel dengan suara yang terbatah-batah dan bercucuran air mata.

“Mengapa bisa terjadi?” tanya Syahid penuh luka.

Maikel pun terdiam, dan tak langsung menjawab pertanyaan Syahid.

Hari-hari telah berlalu, kematian Angel masih menjadi pertanyaan yang menggujam di dalam hati Syahid dan istrinya.

Hingga, pada suatu ketika, dia pun mengetahui bahwa Angel lah yang telah menyumbangkan ginjal untuk kesembuhan Aisyah.

Rasa sakit bercampur haru menyelimuti hati Syahid, karena dia baru tahu, jika Angel lah orang yang selama ini disembunyikan identitasnya oleh pihak rumah sakit.

Setiap hari, Syahid terus mencari keberadaan Maikel, hingga pada suatu hari sahabatnya itu mengirim surat kepada Syahid dan Aisyah.

Di dalam surat, Angel mengatakan, bahwa Di akhir hidupnya, ingin membahagiakan sahabat yang amat dicintai, dengan memberikan kesempatan hidup melalui ginjalnya.

Akhirnya, hari itu menjadi hari yang penuh luka dan penuh air mata bagi Syahid dan istrinya, sebab mereka menyadari betapa besar kuasa Tuhan menciptakan ummat-Nya meski dengan perbedaan.

Makassar, 8 Juli 2019

Foto Diri Rezky Try Ulva

Sekilas Tentang Penulis

nama saya Reski Try Ulva atau biasa dipanggil Ulva. Panggilan masa kecil Uppa, panggilan kesayangan, Reski. Lahir di Ujung pandang, pada tanggal 20 Oktober 1993. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Saya adalah seorang disabilitas netra total bluint. Saya senang memasak, dan menulis, serta membaca apa saja untuk menambah cakrawala berpikir. Bacaan favorit, yaitu Novel.

1 comment for "Indahnya Perbedaan"