Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nakal-Nakal Idul Fitri, Satu Potret Euforia Lebaran

Suatu malam, seorang ibu-ibu keluar dari rumahnya dan menghampiri segerombolan anak-anak yang asyik bermain kembang api. Kembang api tak lain disebut "bereccung" di kampung halaman saya. Harganya bervariasi ternyata. Yang biasa-biasa saja harganya murah. Sedangkan yang luar biasa, alias jangkauannya tinggi sehingga dapat dilihat sampai ke beberapa lokasi di sekitarnya memiliki harga yang saya pikir lebih baik beli hape, harddisk, atau peripheral lainnya, hehehe...

Gambar Anak-Anak

Kembali ke cerita, ibu-ibu yang keluar sepertinya merasa sedikit terganggu dengan suara kembang api yang dimainkan anak-anak. Setelah teguran itu disemburkan, akhirnya anak-anak pasrah untuk mencari tempat yang lain.

Malam itu tak lain adalah malam hari raya Idul Fitri. Di mana kumandang takbir bergema dari suatu masjid di perumahan tempat saya tinggal. Yah, malam itu adalah malam kemenangan bagi umat muslim. Segalanya dipersiapkan untuk menyambut pagi yang baru. Baru untuk mereka yang taat, namun sepatutnya bahagia bagi semua umat muslim. Baik yang serba berkecukupan, maupun mereka yang pas-pasan. Di situlah guna zakat fitrah. Harta yang dibagikan untuk kawan-kawan merasakan kemuliaan 1 Syawal. Begitulah para pemuka agama memberikan saya sedikit pengetahuan.

Uniknya, ada sesuatu yang menggelitik. Beberapa masjid telah memfungsikan anak-anak untuk mengumandangkan azan, bahkan di malam takbiran anak-anaklah yang melantunkan takbiran di masjid. Gambaran ini menurut saya tidak sesimpang yang dikira. Karena baguslah ketika kita mampu merangkul anak-anak untuk aktif di masjid.

Lalu, kemana anak-anak yang bermain kembang api tadi? Mereka yang tak seberuntung teman mereka yang mengumandangkan takbir di masjid. Mereka yang kena marah dari seorang warga. Mereka yang langsung berlarian dan mencari tempat bermain yang baru. Sebagian dari mereka ada yang tertawa, sebagiannya lagi merasa was-was.

Gambaran tersebut seolah sudah menjadi ciri khas lebaran yang membuat gembira hati saya. Hal tersebut bisa saya pahami bahwa Idul Fitri benar-benar hari raya. Hari raya yang anak-anak tahu bahwa hari itu patut untuk dirayakan. Patut untuk dimeriahkan. Tentu dengan cara mereka. Cara anak-anak. Walaupun ada dari beberapa orang tua yang tidak sepaham, namun itulah anak-anak. Gembira, tertawa lepas, dan lari.

Di kampung halaman, saat malam lebaran dulu saya bersama sepupu juga beberapa kali mencoba memeriahkan lebaran. Kembang api murahan, hanya memancing ketawa dari om, tante, nenek dan mamak karena tidak sebagus kembang api yang harganya selangit. Yah, karena itu tadi. Kami semua berpikir untuk apa membeli kembang api yang mahal? Toh, seketika telah melangit di angkasa, uangnya juga ikut terbang di sana.

Sebenarnya, ada satu mainan anak-anak yang populer digunakan untuk memeriahkan malam lebaran. Yaitu petasan. Suara letusan yang dihasilkan itulah yang disukai oleh mereka. Saya juga tidak tahu mengapa. Mengapa harus petasan? Mengapa harus letusan besar yang disukai mereka? Yang saya tahu, mereka memainkan petasan atau kembang api untuk memeriahkan malam lebaran.

Di pagi hari saat menjelang shalat 'id, kembali anak-anak memenuhi masjid. Mungkin ada yang ikut sama orang tua mereka, namun bergabung bersama teman-teman mereka yang lain. Di parkiran, kendaraan diatur sedemikian rupa agar tidak berantakan dan mengganggu jika ada jamaah yang terpaksa shalat di jalan, tepatnya di luar pekarangan masjid. Yah, seperti yang biasa kita dapatkan. Saking banyaknya jamaah, pekarangan pun tidak cukup untuk melaksanakan shalat 'id.

Namun hal yang biasa mungkin bagi para pembaca tulisan ini, kembali yang bertugas mengatur kendaraan adalah anak-anak. Saya tidak tahu apakah mereka-mereka yang bertugas kala itu adalah mereka yang semalam ditegur oleh warga, ataukah mereka yang ikut mengumandangkan takbir di masjid. Yang jelas, adalah gambaran keindahan hari raya bukan terdapat pada orang dewasa, namun pada wajah anak-anak.

Satu lagi yang beberapa waktu lalu teman saya sempat mengingatkan. Ia bercerita tentang salah satu kebiasaan anak-anak saat lebaran. Namun, pikiran saya yang mungkin tidak sampai, sehingga saya belum mampu mencerna kebiasaan yang ia ceritakan. Ternyata setelah menyaksikan kenyataan yang telah diceritakan oleh teman saya itu di hari lebaran ini, saya baru memahami. Ini yang dimaksud olehnya.

Di pagi hari setelah menyantap menu kegemaran di hari lebaran, saya kembali mendengarkan segerombolan anak-anak menghampiri rumah-rumah, mengetok-ngetok dan mengucapkan salam. "Tantaa... Ziaraah! Tantaa... Ziarah! Tanta... Ziarah!". Yah, itu adalah sebuah potret yang pernah saya saksikan sebelumnya. Di hari lebaran, anak-anak lagi-lagi bereksplorasi. Mendatangi rumah-rumah, memaksudkan ziarah, padahal mengharapkan rupiah. Senyuman lagi-lagi saya ukirkan bukan tanda sinis, tapi tanda geli.

Kegelian itu semakin menjadi-jadi tatkala mengetahui beberapa dari mereka tidak direspon oleh penghuni rumah. Dalam hati merasa kasihan, namun geli menyaksikan tingkah anak-anak peziarah itu. Saya langsung meneriaki mamak. Untuk bersiap-siap didatangi oleh segerombolan anak-anak. Ia langsung memahami. Dan ikut geli melihat mereka memberi salam ziarah, namun tak ada respon.

Mamak yang tadinya telah menyiapkan apa yang dimaksudkan para peziarah itu, malah heran ketika mereka pergi tidak melalui rumah kami. Namun beberapa saat kemudian, ada dua orang anak laki-laki yang datang dan memberikan salam. Akhirnya kedengaran ucapan terima kasih yang mereka haturkan kepada mamak yang menyambut mereka sembari jahil mengatakan, "Mau ziarah apa?".

Lebaran adalah hari raya. Benar hari raya Idul Fitri. Di mana menurut para ustadz, kita yang taat selama Ramadhan akan kembali fitrah, seperti bayi yang tak berdosa. Namun, dalam realita yang terjadi, lebaran mungkin tidak sampai di situ. Lebaran adalah hari kebahagiaan, hari kesenangan, hari gelak tawa. Itu semua karena anak-anak. Kelakuan mereka yang bermain petasan, mendatangi rumah untuk ziarah yang bagi sebagian orang mereka sebut kenakalan itulah yang menyemarakkan lebaran. Saya jadi ingat beberapa lagu dari Iwan Fals yang bercerita tentang kegembiraan anak-anak. Anak-anak yang asyik bermain bola, tanpa sepatu, tanpa sandal, dan bukan di lapangan. Anak-anak yang menangis karena minta susu, serta anak-anak gelandangan yang bertahan hidup dengan cara mereka masing-masing.

Bagi saya seluruh potret yang saya terangkan di atas adalah realita hidup. Sesuatu yang menuntut kebijaksanaan orang yang lebih dewasa. Memandang mereka yang mungkin sering kita stigmakan sebagai anak-anak nakal dari sudut yang lain. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu diberikan kesempatan untuk terbang melihat hiruk pikuk kota dengan berbagai macam kompleksitasnya?

Post a Comment for "Nakal-Nakal Idul Fitri, Satu Potret Euforia Lebaran"