Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pikiran Objektif Menuju Indonesia Yang Inklusif

Penulis: Andi Zulfajrin Syam

“Put something in the right place” yang kira-kira bila kita maknai dalam konteks bahasa Indonesia, berarti tempatkanlah sesuatu pada tempatnya. Pepatah ini harus kita internalisasi dalam diri dan perbuatan, termasuk dalam menilai kinerja para pemangku kebijakan di negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa pemangku kebijakan di negeri ini masih sering tidak maksimal dalam penegakan dan impelementasi regulasi yang mereka buat sendiri. Masih banyak regulasi-regulasi yang belum tepat sasaran, terutama mengenai regulasi tentang pemenuhan hak-hak difabel. Tetapi, apakah kita pesimis kepada mereka, sang pemangku kebijakan itu? Menurut penulis, hal tersebut kurang tepat juga. Toh, pemangku kebijakan yang kini berkuasa juga pilihan rakyat sendiri,. Jadi, sungguh kurang elok bila kita menyesali dan selalu menghujat segala kebijakan yang diambil oleh para pemangku kebijakan yang notabenenya kita pilih sendiri . Apakah penulis termasuk sangat pro pemerintah?

Gambar

Sebenarnya, tidak juga. Penulis sering memberi kritik dan saran kepada pemerintah. Namun, penulis juga merasa perlu mengajak diri dan semua pembaca agar lebih jeli dan objektif lagi dalam menilai sesuatu. Istilahnya, “boleh menilai, tetapi jangan sekali-kali gemar menghakimi.” Jangan-jangan kita yang kini sering menghujat penguasa dan menganggap semua kebijakannya adalah buruk, malah pada waktu silam adalah pendukung fanatik. Atau bisa jadi pendukung lawan politik penguasa sekarang. Tapi pada akhirnya kita melihat, bahwa para elit itu kini malah menjadi satu, dan bahkan menjadi bagian penting dalam kabinet kekuasaan.

Marilah kita sebagai manusia pembelajar, terutama kita yang difabel membuka mata hati, pikiran, dan meluaskan perasaan. Bahwa jangan-jangan kita adalah korban dari permainan politik busuk mereka, aktor-aktor di balik layar yang hanya ingin melihat kehancuran persatuan bangsa, tanpa pernah betul-betul memikirkan kemaslahatan orang lain, terutama kita yang difabel.

Melalui tulisan sederhana ini, penulis ingin mengajak seluruh pembaca, bahwa segala sesuatu yang di dalamnya ada keburukan, pasti pula ada kebaikan yang terkandung. Begitu pun sebaliknya. Jadi, bagi penulis, penguasa yang ada sekarang patut juga diberi apresiasi bila dapat mengakomodir kebutuhan dan hak-hak difabel. Contohnya kisah dua teman difabel netra yang berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia bernama Fazlur Rahman, S.Pd., M.Pd yang berasal dari Kab. Kerinci (Jambi) dan sekarang tinggal di Jakarta Timur. Ia merupakan difabel netra yang juga sebagai Ketua Bidang Kader di Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

“sekarang Alhamdulillah saya telah memiliki pekerjaan tetap yaitu sebagai tenaga pengajar di SMA 87 jakarta selatan,” ujarnya saat berbincang dengan penulis.

Sedikit berbagi pengalaman, beliau menceritakan proses pendaftarannya hingga lulus seleksi PNS.

“Saya adalah tunet yang tidak begitu lancar dalam teknologi karena masih dalam proses. Di waktu tahun 2019, saya butuh bantuan orang lain untuk mendaftarkan diri. Kemudian saya didaftarkan teman saya dengan saya berada di sampingnya. Dengan tekat dan niat karena Allah SWT saya mendaftarkan diri. Setelah itu saya membaca syarat dan kiat-kiat dalam tes CAT atau SKD. Saya membuka Youtube, membeli buku CAT dan mengumpulkan soal-soal SKD dari tahun sebelumnya. Dan selama menunggu nomor pendaftaran dan pengumuman skd dikeluarkan, saya tetap belajar dan membaca dengan metode hp, laptop, dan minta bacakan oleh orang lain termasuk gambar-gambar."

"Setelah beberapa waktu nomor pendaftaran saya lulus menuju tahap selanjutnya yakni skd. Saya tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini. Karena tahun 2018 juga pernah mendaftarkan diri tapi saya gagal. Saya belajar siang malam. Pemerintah DKI membuka 2 persen untuk penyandang disabilitas dan saya mengambil itu dengan memilih formasi guru bahasa Ingris di sma 87" tambahnya.

Menurut pria yang akrab disapa bang Alun ini, walaupun dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah, difabel harus bekerja keras untuk membuktikan kompetensi diri. Bukan mengharapkan kasihan atau relasi internal.

"Saya tes di kantor Wali Kota Jakarta Selatan dengan disediakannya komputer khusus untuk tunanetra sehingga kita bisa tes dengan kompetensi sportif dan mengandalkan kualitas diri bukan nilai kasihan ataupun jaringan. Setelah tes SKD, alhamdulillah saya lulus dan melebihi passing grade atau ambang batas dari aturan tes SKD. Saya mengerjakannya dengan hikmat dan penuh dengan rasa sportifitas dan terlayani dengan baik, oleh Pemerintah DKI jakarta. alhasil saya lulus menuju tahap SKB. Ternyata yang dibutuhkan hanya 11 kuota dan yang lulus hanya saya diantara 44 lainnya. Dan kini saya mengajar di sma 87."

Kemudian, difabel netra selanjutnya yang juga bercerita pengalamannya mengenai pengangkatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil, adalah Ahmad Syarif, S.Pd.I., M.Pd, yang terangkat sebagai tenaga pendidik di Madrasah Aliyah Negeri 2 Probolinggo Jawa Timur.

"Kalau yang soal lulus PNS, mungkin tempatku termasuk yang berjalan sesuai harapan. Waktu masa pendaftaran awal seleksi berkas, karena memang jalur disabilitas yang kuambil, alhamdulillah Kanwil Kemenag Jatim sama sekali tidak mempersulit, meskipun saya juga dari luar daerah, tidak mempermasalahkan itu," Tuturnya.

Menurut Syarif, ada juga beberapa teman yang dipermasalahkan oleh kanwil Kemenag di daerah lain, dengan alasan bahwa teman difabel netra yang mendaftar itu adalah totally blind. sehingga pada saat seleksi administratif, teman difabel netra yang total itu pun digugurkan. Namun lain halnya yang dirasakan oleh Syarif, karena Kanwil Kemenag Jatim sangat akomodatif dan tidak mempermasalahkan meskipun Syarif juga adalah seorang totally blind.

Pada saat awal sepertinya memang ada juga yang meragukan kemampuan seorang difabel netra mengajar. Namun secara umum, penerimaan pihak sekolah dan siswa-siswi baik terhadapnya. Dalam soal tugas mengajar, Syarif pun tidak dibedakan dengan guru-guru lain yang non-difabel.

Sekarang ini, Syarif mengajar pada beberapa kelas dari semua tingkatan dan jurusan (Agama, Ips, dan IPA) sebagai guru Sejarah Kebudayaan Islam. Selain aktif mengajar, Syarif juga dipercaya terlibat dalam beberapa kegiatan sekolah seperti panitia penerimaan siswa baru sebagai wakil Sekretaris PPDB dari tahun 2020 hingga tahun 2021 ini. Di luar aktifitas pembelajaran di sekolah, Syarif juga membuat kelompok diskusi literasi bagi para siswa yang memiliki ketertarikan pada bidang literasi.

Selain mengajar, pria berdarah Pinrang, Sulawesi Selatan ini juga memberikan edukasi dan penyadaran (disability awareness) kepada siswa-siswinya di sekolah.

"Alhamdulillaah sekarang penerimaan mereka cukup baik serta luwes menerima keberadaan saya sebagai guru mereka yang adalah guru difabel netra pertama dan satu-satunya di sekolah madrasah tersebut," pungkasnya. ***

Edited by: Ismail Naharuddin

Foto Andi Zulfajrin Syam

Sekilas Tentang Penulis

Hai, semua. assalamualaikum. Kenalin saya, Fajrin. Hobi saya membaca apa saja, menulis apa saja, mendengarkan apa saja, termasuk mendengarkan suara hati sendiri dan suara hati orang lain. Cita-cita saya tidak muluk-muluk. Asal bisa bermanfaat bagi sesama, menjadi orang kaya, dan matinya masuk syurga. itu sudah alhamdulillah banget. Bagi kawan-kawan, yang ingin mengenal saya lebih dekat. Silahkan tanya sama orang tua atau kekasih saya ya, wassalam. #Fajrin #Motivasi #Perenungan

Post a Comment for "Pikiran Objektif Menuju Indonesia Yang Inklusif"