Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadhan dan 2 Idul Fitri

Penulis: Sujono Said

Catatan ini, hanyalah sebuah momen untuk melakukan refleksi mengenang kembali sebuah masa sulid yang tentu berujung pada sebuah rasa syukur. Mengapa? Lantaran ramadhan dan idul fitri tahun 1441 Hijriah(2020 miladiah) adalah masa tersulit bagi kita ummat islam di seluruh dunia. Dimana, semua harus berproses dari rumah.

Suasana Ziarah Tahun Ini

Dimana sekolah, bekerja, beribadah, dan semua hal dilakukan dari rumah. Lantaran kita dilanda berbagai ketakutan. Mulai dari ketakutan tertular covid, hingga ketakutan terhadap para penegak protkes seperti inspektur covid, pol PP, dan lainnya yang setiap saat dapat meng cut semua kegiatan peribadatan kita walau pun kita berada di dalam lingkungan komunitas sendiri. Namun demikian, bagi penulis Allah menurunkan berkah tersendiri. Karena, penulis selain focus membaca al-quran yang dengannya kita akan mendapat limpahan pahala, penulis juga berkesempatan untuk menamatkan bacaan faforit seperti Sang pencerah, trilogy 5 menara, kisah hidup seorang Andi F. noya, dan masih banyak lagi buku faforit lainnya yang banyak memberikan inside buat penulis.

Bahkan saat-saat sulit sekalipun, penulis sering mengisi ceramah umum dan ceramah agama plus diskusi melalui group-group whats app. Belum lagi, terkait urusan dinas dan urusan sebagai seorang yang aktif dalam dunia organisasi banyak-banyak menggunakan fasilitas seperti zoom, google meet, dan lain sebagainya.

Saat idul fitri tiba, al-hamdulillah, lantaran semua sudah mulai dilonggarkan. Mengapa? Bagi sebagian dari kita shalat idul fitri sudah mulai dibolehkan. Namun, harus dengan pembatasan kapasitas jamaah. Tapi, banyak dari kita yang melakukan shalat id dirumah dan kepala keluarga bertindak jadi khatib dan imam dadakan, dan sebahagian lagi menjadi panitia idulfitri dadakan. Walau demikian. Keadaan pun berangsur pulih.

Suasana Jelang Ramadhan

Namun, setelah setahun wabah ini bersemayam di belahan bumi Allah, mungkin karena kita telah berdamai dengan MR covid, sehingga badai pun dianggap telah berlalu. Ditambah lagi dengan kejenuhan sebagian masyarakat tertahan di rumah, walau mungkin ada yang sudah dalam posisi wenak di rumah, mengapa dalam posisi wenak, karena dilihat dari komentarnya ketika ada yang mewacanakan akan memulai segalanya dari luar.

Seperti apa komentar mereka? Ketika pemerintah mewacanakan bahwa resepsi pernikahan, ulangtahun dan semua yang berbau selebrasi sudah boleh dilakukan di hotel. Ada dari mereka yang berkomentar begini “ Nanti saya akan menggugat kebijakan tersebut jika benar di realisasikan”, ada yang bilang “wabah kan masih ada, jangan perparah keadaan lagi deh”, dan komentar lainnya. Namun demikian, usaha menuju masa adaptasi baru yang dikenal dengan new normal life tetap dilaksanakan.

Suasana Ramadhan Tahun Ini

Alhamdulillah, ketika kita sudah berada dalam masa adaptasi baru sudah berjalan nyaris sempurna, tamu Allah yang bernama Ramadhan pun tiba setelah hilal terlihat dan pemerintah menetapkan keberadaannya jatuh pada tanggal 13 april 2021-idul fitri pun jatuh pada 13 mei kemarin. Ramadhan yang baru meninggalkan kita barusan, adalah ramadhan yang amat penulis dan mungkin seluruh masyarakat syukuri. Mengapa? Walaupun pembatasan masih dilakukan di sana sini, tapi kita khususnya penulis sudah boleh melakukan ibadah ramadhan di masjid, mushallah, langgar, surau, atau munasa.

Semua itu, dapat kita lakukan dengan penuh kekhusuan. Bahkan acara buka puasa bersama (Bukber) sudah boleh dilakukan dengan menyewa fasilitas public seperti cavay, resto, dan hotel tentu dengan protocol kesehatan yang amat ketat. Namun, bagi sebahagian dari mereka yang berkegiatan tetap hidmat dan syarat akan euphoria akibat kerinduan yang terpendam di dalam rumah. Walau pemerintah melarang kita untuk mudik lebaran, penulis tetap dapat ber silatur-rahim secara firtual. Tapi, alhamdulillah, tahun ini penulis sudah 2 hari bersilatur-rahim dengan orang-orang terdekat dengan penulis. Semua itu, adalah hal-hal yang amat penulis syukuri saat ini.

Suasana Idul Fitri Tahun Ini

Namun demikian, penulis mengajak diri dan pembaca sekalian agar tidak lengah karena covid siap mengintai siapapun. Walau begitu, kita harus tetap tenang, kuatkan iman, dan jaga imun serta jalankan protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO. Mengapa? Karena itu adalah ikhtiar kita sebagai manusia untuk membumi hanguskan covid dari bumi Allah yang amat kita cintai ini. Sebagai mana firman Allah dalam QS ar-ra’ad ayat11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kita tidak melakukannya sendiri”. Upaya pemerintah seperti melakukan vaksinasi, tentu harus didukung dengan bersedia mendapatkan suntikan selama 2 tahap sembari kita sebagai masyarakat baik kolektif maupun personal harus tetap melaksanakan protocol kesehatan. Akhirnya, penulis mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1syawal 1442 H. ***

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Sujono Said, disapa akrab kak Jono. Seorang aktivis dan penulis senior disabilitas netra Makassar. Saat ini menjalani hari-hari dengan mengajar di salah satu Sekolah Luar Biasa Khusus Disabilitas Netra Makassar. Tulisannya yang hangat dibaca banyak terpajang dalam sosial media yang dia miliki.

Post a Comment for "Ramadhan dan 2 Idul Fitri"