Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stigma Disabilitas Netra

Penulis: Nabilah Ananda Yuni Sugiharto

Saya heran dengan adanya pandangan buruk terhadap disabilitas yang selalu terlihat lemah. Seolah tunanetra itu adalah penyakit. Memang, ada beberapa tunanetra yang awalnya menderita penyakit seperti demam, campak, terkena virus, atau bahkan terkena katarak.

Gambar Wanita Duduk Di Atas Kursi Roda

Itulah yang saya alami sehingga mata saya mengalami kebutaan. Saya terkena katarak sejak berusia dua tahun. Pada usia tiga tahun, saya menjalani operasi agar mata saya bisa melihat kembali. Dokter mengatakan, bahwa jika tidak diambil tindakan operasi, saya akan mengalami kebutaan seumur hidup. Dan orangtua saya tak mengiginkan itu.

Pernah suatu ketika, saya bersama seorang teman yang disabilitas netra juga bertemu dengan seseorang. Ia menanyakan, "Anda ini tunanetra karena penyakit kan?" Saya mendengar pertanyaan itu dan menjawab untuk meluruskan, "Tidak selamanya seperti itu. Karena kami mengalami kebutaan disebabkan oleh sesuatu yang berbeda-beda. Ada orang yang sejak lahir sudah mengalami kebutaan, ada yang karena penyakit, ada juga yang karena kecelakaan."

Lagi, sewaktu saya pulang dari suatu kegiatan, sang driver ojol memandangi saya. Ia memandang saya agak lama. Saya bisa mengetahuinya karena saya adalah low vision. Low vision sendiri adalah keadaan seseorang yang tunanetra tapi masih memiliki penglihatan sedikit. Memang saya adalah tunanetra low vision, tetapi jika keluar rumah selalu sedia menggunakan tongkat. Karena saya terkadang mendapatkan masalah saat berjalan. Kadang tersandung, kadang pula terjatuh karena tak melihat sebuah lubang di depan saya. Tongkat itulah sang penyelamat saya ketika berada di luar rumah.

Driver itu menyanyakan tentang saya kepada teman saya, "Teman anda itu buta ya?" Namun, saya kemudian menjawab, "Iya, pak. Saya memang tunanetra. Bapak jangan sungkan-sungkan menanyakan hal itu pada saya, pak. Karena saya tidak malu kalau di Tanya soal itu."

Driver itu menjawab, "Okelah dek. Maaf yah, saya tak paham." Kemudian saya pun menjelaskan kepada bapak itu kalau saya menggunakan tongkat karena apa.

Di selah-selah percakapan, bapak itu kembali mengungkapkan, bahwa dia juga sering menemui disabilitas di jalan. Ada yang menjual keripik, memijat dan memainkan alat musi. Setelah ia mengatakannya, saya pun memberikan informasi yang mungkin telah biasa diketahui orang banyak, atau malah tidak. Saya menjelaskan bahwa kehidupan tunanetra juga beragam, sama dengan orang-orang kebanyakan.

"Ada juga teman-teman tunanetra yang sukses bahkan sampai kuliah di Australia, Selandia Baru, bahkan ada juga yang lolos seleksi PNS," begitu yang saya katakan. Saat mendengarkan penjelasan saya, driver ojol itu seketika termenung dan mengatakan kalau tunanetra tak boleh di pandang remeh oleh masyarakat umum yang masih bisa melihat.

Saya pun mengiyakan, "Memang, pak tunanetra itu juga mampu berhasil. Jadi ketika tunanetra ingin berkarya atau berintegrasi dengan masyarakat, sebaiknya tidak ada perlakuan diskriminasi. Karena tunanetra hanya butuh ruang, bukan rasa kasihan."

Bapak itu seketika tergeleng-geleng dan seperti ingin menangis. Saat saya mendengarkan suara nya yang terserak, saya bertanya, "Kenapa suara bapak seperti ingin menangis?" Bapak itu mengatakan, "Saya bangga dengan kalian yang mengalami tunanetra karena meskipun memiliki kekurangan tapi ekspektasi untuk bergerak sangat tinggi. Kami saja yang masih bisa melihat biasa malas untuk bekerja. Apalagi mau berkarya seperti kalian. Masih banyak yang bermalas-malasan, mengandalkan penghasilan dari mengemis, mencari barang-barang yang telah dibuang, padahal masih punya kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih bermartabat."

Saat mendengarkan pernyataan bapak itu, saya pun bersyukur sekali dengan apa yang saya miliki saat ini. Seketika terbesit dalam hati saya bahwa Allah memberikan saya keterbatasan tapi masih berpotensi untuk berhasil sama seperti mereka yang masih bisa melihat. Itulah hikma terbesar di dalamnya. Saya juga bersyukur karena Allah masih memberikan saya kemampuan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana sebenarnya disabilitas netra itu. Serta masih diberikan kemampuan dan kesempatan untuk memasyarakatkan isu disabilitas netra yang mungkin masih banyak yang belum mengenalnya, sehingga belum memahaminya.

Maka dari itu, marilah membangun solidaritas kepada sesama. Tak peduli itu non disabilitas atau pun disabilitas. Dan marilah bersama memperjuangkan apa yang menjadi hak seluruh masyarakat, tak terkecuali mereka yang terpinggirkan. Perjuangan tiada tara, yang diselingi dengan do'a. Karena perjuangan akan selalu digencarkan, tidak sampai di sini, di tulisan ini, namun selamanya! *** Edited by Ismail

Foto Nabilah Sugiharto

Sekilas Tentang Penulis

Nabilah, adalah disabilitas netra yang saat ini mendaftarkan diri menjadi calon mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Makassar. Keseriusannya untuk memperdalam literasi termanifestasi dari bergabungnya di Forum Lingkar Pena Cabang Makassar. Kini ia mencoba menuangkan gagasan melalui tulisan-tulisan sederhananya.

1 comment for "Stigma Disabilitas Netra"