Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tak Perlu Jadi Budayawan Tuk Melestarikan Budaya

Penulis: M. Agung Naser

Tulisan ini berangkat dari refleksi saya atas diskusi-diskusi kecil bahkan dialog-dialog yang berkembang dan dinarasikan masyarakat. Entah itu dengan orang yang lebih tua, maupun anak muda yang duduk berdiskusi terkait kebudayaan. Kalau diperhatikan, narasi yang berkembang akan menyudutkan anak muda dengan berbagai justic yang dibangun. Mulai dari anak muda tidak perduli terhadap kebudayaan sampai bermunculan narasi anak-anak zaman sekarang sudah tak tau adat istiadat. tak hanya dari orang yang lebih tua ke anak muda, bahkan sesama anak muda pun juga saling menyalahkan.

Gambar Pria Mengenakan Headset Hitam

Pertanyaan sederhananya adalah, sampai kapan kita selalu memposisikan anak muda dalam posisi tidak mengerti, tidak tau apa-apa soal kebudayaan? Apakah persoalan kebudayaan hanya akan berkutat pada hal demikian? Tentunya kita perlu melangkah lebih cepat dan menjadikan anak muda sebagai penggerak kebudayaan dengan keahlian yang dimiliki masing-masing personal tanpa menghilangkan nilai di dalam kebudayaan tertentu.

Disamping berkembangnya justifikasi tersebut, teknologi yang semakin berkembang menggugah saya Meminjam istilah Soekarno, M. Adam dalam buku "Pasir, Batu dan Etos Budaya", bahwa teknologi tidak bisa dilihat atau dipahami sekedar teknologi semata. Akan tetapi harus dipahami bahwa ini merupakan proyek budaya sesuai dengan ideologi yang mereka anut, (Kapitalisme). Dari sini, kita tak bisa pungkiri bahwa yang dekat dengan teknologi akan semakin bertambah jumlahnya atau istilah kerennya bonus demografi yang didominasi generasi muda. Kondisi demikian malahan memperkeruh stigma yang pada endingnya anak muda menjadi sasaran empuk disudutkan sebagai subjek pembawa kehancuran Adat istiadat. Kecenderungan ini mestinya harus lepas dari pola pikir kita dan memanfaatkan kemampuan anak muda sebagai subyek untuk memajukan kebudayaan. Bukan malah disalahkan terus menerus.

Ada banyak memang anak muda yang bergerak melestarikan kebudayaan di desa-desa dengan Komunitasnya masing-masing. Ikthiar yang baik ini mesti di berikan tepuk tangan karena dengan adanya komunitas-komunitas ini bisa menjaga ketahanan budaya lokal kita untuk melawan kekuatan yang semakin kencang dari luar. Meski jarang sekali disentuh pemerintah daerah. Saya melihat komunitas yang eksis dalam pemajuan kebudayaan di Galela, Kabupaten Halmahera Utara, akan terus berkarya lewat semangat dalam merawat ketahanan budaya. Hanya saja, mereka tidak disentuh untuk memanfaatkan kebudayaan dan hanya sebatas melestarikan.

Kita mungkin tak pernah memikirkan bagaimana masa depan Rorano, obat tradisional yang sering kita minum ketika mengidap sakit perut (Poko madane). Ketika kehidupan berjalan maju pembuat rorano pun mulai hilang perlahan. Apakah akan kita biarkan? Tentunya tidak! Bahkan pikiran liar saya mengarah kepada memanfaatkan tumbuhan rorano berkembang dalam industri farmasi. Ini artinya kebudayaan agar tetap lestari mesti dimanfaatkan agar berdampak. jika tidak, ia akan habis dimakan zaman.

Atau kita mungkin tak pernah memikirkan keberlanjutan salah satu warisan budaya yang sudah di akui secara nasional. Yaitu "Seri Godoba" di desa Limau yang bisa direfleksikan sebagai media memperkuat semangat kegotong-royongan. Saya mengajak untuk duduk minum kopi sambil memikirkan sejenak, kenapa ada banyak warisan budaya di Galela, tapi seolah-olah ini semua jauh dari percakapan anak Muda? Kalaupun dekat yang dibicarakan hanya akan fokus kepada Tari-tarian. Tak ada yang salah. Mungkin karena makna sempit ini membuat Anak-anak muda yang tak suka menari menjauhkan diri. Padahal bisa saja mereka memiliki keahlian didalam pembuatan film-film pendek. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengangkat warisan budaya Galela berkembang dalam industri film. Begitu juga dengan game online yang semakin menjamur dan selalu dijadikan ancaman terhadap etika anak muda. Mungkinkah kita pernah berpikir tentang membuat game online yang menceritakan kejayaan kesultanan di maluku utara pada masa lalu sebagai media bermain sekaligus belajar?

Intinya adalah, kerja-kerja kebudayaan tak bisa sendirian. Mestinya bergandeng tangan antara komunitas dan pemerintah daerah. apalagi kemunculan Undang-Undang Pemajuan kebudayaan Nomor 7 Tahun 2017, menjadi spirit bersama menggali potensi kebudayaan untuk bisa berdampak terdahap ekonomi,politik bahkan sosial. Mengingat ketidakperhatian kita terhadap kebudayaan yang mungkin karena merasa menggurusi kebudayaan daerah tak akan membuat bertambahnya 9 bahan pokok didapur. Sehingga cenderung diabaikan.

Empat langkah strategis yaitu perlindungan, pemanfaatan, pengembangan dan pembinaan menjadi langkah yang baik ketika semua pihak punya niat mewujudkannya dan membutuhkan kerja sama semua pihak. Bukan hanya urusan dinas terkait maupun tetua adat. Karena merawat budaya tak perlu harus jadi budayawan atau antropolog. Aakan tetapi, menjadi kewajiban semua pihak untuk melestarikan warisan para leluhur.

Alangkah baiknya jika anak muda di Galela, Kabupaten Halmahera Utara menjadi garda terdepan Menggiring arus teknologi untuk mengangkat kebudayaan lokal yang kita miliki sembari memperkuat internalisasi kearifan lokal serta Merumuskan pemanfaatan warisan budaya kita. Ikhtiar ini juga bisa memperkecil cara pikir kita yang terus menyalahkan sesama anak muda dan perkembangan zaman tanpa berusaha menggiringnya kedalam pemanfaatan Warisan Budaya. Waulahu alam bissawaf! ***

Foto M. Agung Naser

Sekilas Tentang Penulis

M. Agung Naser, lahir di Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 6 april 1998. Pria yang suka kopi dan sedang berusaha mencintai teh ini tergabung dalam sahabat Pandu Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia sedang dalam proses belajar menulis dan telah menyumbangkan puisi dalam ontologi puisi berjudul "Equilibirium" yang diterbitkan hauta Utama.

Post a Comment for "Tak Perlu Jadi Budayawan Tuk Melestarikan Budaya"