Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PINTU

Karangan: Ahmad Dahri

“... Karena tercekik kesedihan, api yang dipuja seolah air. Air yang diduga seolah api, berkobar membakar semua yang ada ...” (Syaih al Busairi 608-698 H)

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

“Sudah malam. Adik tidur dulu. Besok kan bisa ketemu bapak,” pinta Sumirah pada anaknya yang enggan tidur sebelum bapaknya pulang.

“Enggak, aku nunggu Bapak saja!” angkuhnya sambil melempar pandangan ke arah berlawanan dengan Sumirah.

Di pematang sawah yang rimbun dengan padi meraya, Tirjo sedang memperbaiki jalannya air. Untuk mengairi sawah. Biasanya petani menggunakan jasa para “tukang air”, istilah bagi mereka yang menerima tugas pengairan dari desa. Itu pun ada kasnya dan Tirjo salah satunya. Ia kerap pulang malam hari hanya untuk menyeleseikan tugas yang kadang ia terima sampai 4 hektar sawah. Dalam sehari, setiap hektarnya membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk menyeleseikan pengairan.

Sebenarnya pekerjaan sebagai tukang air bukanlah pilihannya. Tirjo lebih menyukai pekerjaan sebagai permak sepatu di sudut pasar. Memang banyak pintu dan kunci untuk membuka rizki. Tetapi setelah kepergian ayahnya, mau tidak mau ia harus menggarap sawah peninggalan ayahnya. Terlebih saat ayahnya berpesan agar tidak jauh-jauh dari sawah karena di sana pintu ketenangan.

Banyak orang mengira ketenangan sama halnya dengan kebahagiaan. Mereka menelusuri hutan-hutan baju di mall-mall, makan di resto-resto ternama hanya untuk memenuhi apa yang mereka anggap sebagai “kebahagiaan” yang pada dasarnya hanya memancing kemelut dalam pikiran. Bagaimana mereka bisa memenuhi kebahagiaannya lagi. Dengan begitu mereka dibuat rumit oleh dirinya sendiri. ***

“Tirjo, bagaimana sawahmu?” tanya bibinya.

“Tinggal menunggu panen saja bi. Tapi ya jarang saya tunggui. Mungkin banyak yang rompang dilahap burung emprit,” jawabnya sambil menghisap sebatang rokok kretek kesukaannya.

“Kamu itu sudah punya anak-istri, mbok. Belajar jaga amanah bapakmu toh. Gajimu sebagai tukang banyu itu lho ngepres toh? Apalagi kini anakmu sudah masuk TK. Belum kebutuhanmu di rumah. Bapakmu itu dulu bisa beli apa-apa. Bisa nabung, bisa ngrumati kamu itu ya dari sawah,” sergah bibinya.

“Aku dengar dari beberapa tetangga. Katanya kamu punya hutang sama Turi. Untuk apa uangnya?” bibinya serius.

Tirjo diam seribu bahasa berlomba bersama sepi yang menyelimuti rumahnya. Ia hanya memutar-mutar sebatang rokok dan sesekali menghisapnya acuh. Ia menyimpan segala rahasia di dasar pikirannya. Kadang berjuang melawan kemauannya. Pikirannya melangkah sempoyongan seperti sedang mencari pintu di kegelapan dan dalam keadaan mabuk. Ia teringat akan usahanya sebagai tukang permak sepatu yang terhenti lantaran ayahnya yang sedang sakit saat itu. Modal yang ia dapat dari hasil pinjaman seperti hantu yang mengejarnya. Tidak banyak memang, tapi bagi seorang Tirjo hutang tetaplah hutang yang tidak bisa diukur besar kecilnya.

“Jo…” sergah bibinya.

“Eh…Iya bi. aku memang punya hutang tapi akan segera kulunasi,” jawabnya terbata-bata.

Bibinya tersenyum dan menepuk pundak Tirjo. Kemudian berlalu menyisakan pesan singkat yang menacap dibenaknya.

“Belajarlah bertanggung jawab,” ujar bibinya.

Setelah dinyatakan lulus sekolah menengah atas, Tirjo memutuskan untuk mengikuti program les satu bulan gratis di BLK kabupaten Malang. Di sana ia memilih pengembangan diri di bidang permak sepatu. Sebenarnya ada banyak pilihan seperti ngelas, membuat papan nama, sablon dan lain sebagainya. Namun hati nurani Tirjo memilih tukang permak sepatu.

Ia teringat saat sekolah dulu. Ia memiliki seorang teman yang tidak pernah ganti sepatu sejak kelas satu. Bahkan di kala yang lain berseragam baru, teman Tirjo itu, hanya mengenakan seragam lusuh. Tirjo merasa iba padanya. Kemudian memberikan sepatu bekas miliknya. Karena sedikit bolong di area jempol kaki, maka tirjo menjahitnya. Entah dari mana ia memiliki kemampuan menjahit. Padahal ayah ibunya petani tulen.

Sebelum kenaikan kelas, Tirjo memberikan sepatu yang ia jahit sendiri kepada temannya tadi. Said, namanya. Pemuda asal kampung Ringin Sari itu merasa senang dengan pemberian Tirjo. Ia memang dari keluarga yang terbilang miskin. Mungkin bukan miskin, tapi karena ia anak yatim akhirnya tanggung jawab atas dirinya berada di pundak ibunya yang saat itu pun sudah sering sakit.

Said tidak menyangka jika Tirjo memperhatikan keadaannya. Ia sangat berterima kasih kepada Tirjo. Bahkan saking senangnya ia semakin giat belajar dengan harapan bisa mambahagiakan ibunya dan Tirjo yang sudah memberinya sepatu. Sampai pada akhirnya menginjak masa Ujian Akhir Sekolah, Said menjadi Juara umum di sekolahnya. Ternyata betul Tirjo sangat bahagia dengan hasil yang diterima oleh Said. Ia menyalami dan mendoakan Said. Begitu juga Said, ia berbalik mendoakan Tirjo. Hari itu penuh dengan doa dan harapan yang menggembirakan.

Said menerima Beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kampus ternama di Surabaya. Sedangkan Tirjo ingin langsung bekerja dan tidak mau meneruskan pendidikannya. Padahal Tirjo juga memiliki kesempatan untuk mendapat beasiswa tersebut.

“Jo, beneran kamu tidak kuliah? Terus kamu mau kerja di mana?” tanya Said sambil memegang pundak Tirjo.

“Aku mau ikut program les di BLK di kabupaten. Setelah itu aku ingin membuka usaha sendiri, Id,” jawab Tirjo semangat.

“Tapi Jo, Kamu juga bisa mendapat beasiswa itu kalau mau. Ayo kita urus mumpung masih dibuka pendaftarannya. Siapa tahu dengan kita kuliah, kita bisa merubah nasib kita kelak.”

“Enggak Id, aku ingin bantu bapak dan ibuku. Mereka sudah sepuh. Apalagi bapak sudah sering sakit sekarang. Kamu saja yang melanjutkan. Semoga dilancarkan semuanya.”

Said tidak mampu memaksanya. Bibirnya kelu, suranya terhenti di tenggorokannya. Apalagi ketika mendengar bahwa bapaknya Tirjo sering sakit. Dengan berat hati, Said hanya memberinya semangat dan mendoakannya. Sejak pertemuan itu, Tirjo tidak lagi berjumpa dengan Said.

***

Keinginan Tirjo untuk membuka usaha permak sepatu tidak semudah yang ia bayangkan. Ayahnya menolak dengan keras keinginannya. Namun Tirjo bersikeras dengan keputusannya, sampai memberanikan diri untuk meminjam modal kepada Turi. Turi adalah pelanggan kopi Bik Salamah yang ia kenal seminggu setelah ia bersitegang dengan Ayahnya.

Menurut Ayahnya, Tirjo belum siap untuk memulai usaha sendiri. dia harus banyak belajar dan mencari pengalaman. Oleh karenanya, ayahnya meminta untuk ikut menggarap sawahnya bersama.

“Kalau sudah ada tabungan dari hasil panen, silahkan kamu buka usaha sendiri. yang paling penting sekarang adalah kamu belajar dulu,” kata ayahnya.

“Tapi saya sudah pernah ikut BLK, pak. Bekalnya sudah ada. Apalagi pasti akan banyak pelanggan jika kita buka di pasar,” Tirjo ngeyel.

“Jo..., Pasar itu keras. Kalau mentalnya nggak kuat, bisa ngedrop lho.... Tapi terserah kamu, bapak belum mengijinkan, kalau kamu mau berjalan sendiri ya monggo. Yang penting bapak sudah mengingatkan.”

Siang itu, warung bik Salamah benar-benar penuh sesak dengan kepulan asap rokok dan aroma kopi. Gorengan di dalam kotak-kotak plastik berjejer. Ada yang tinggal satu, ada yang tinggal separuh. Pun ada yang masih penuh. Tirjo clingukan, melihat ke seluruh penjuru warung. Ia mencari Turi, si Bank titil yang katanya gampang sekali minjamkan uang. Tapi modalnya lumayan besar.

Tirjo masih saja clingukan. Sampai akhirnya ia temukan Turi dengan jaket kulit berwarna coklat muda, berambut klimis dan bersepatu lancip. Ia duduk di pojok warung, sambil membetulkan kemeja kotak-kotaknya. Ia menghisap dalam-dalam batangan rokok yang diapit kedua jari tangannya.

Sebelum menghampiri Turi, Tirjo memesan segelas kopi dan dua eceran rokok. Ia melihat lagi si Turi. Entah dalam dirinya berusaha meyakinkannya. "Benarkah aku akan meminjam uang ke dia?" gumamnya. Namun ia meyakinkan diri, dengan alasan, ia ingin belajar mandiri. "Tapi jaminannya apa nanti? Kalau bunganya gede. Apakah bisa tertutupi dengan hasil usaha permak sepatuku yang masih baru? pastinya di pasar banyak saingannya," ia bergumam.

Berkecamuk di dalam dirinya, sampai ia tak mendengarkan panggilan Bik Salamah.

“Jo.... Kopine! Jo.... Jo....,” panggil Bik Salamah.

“Eh... iya bi... sepurane, suwun-suwun.”

“Nglamun ae..., iki rokok e, 6000 sak kopine.”

“Iya Bik, iki duwite.”

Harga rokok eceran sedang naik 500 perak per batangnya, kata pemerintah ini kebijakan baru dalam percukaian. Tapi bagi rakyat kecil asal mulut ngebul, perkara rokok naik harganya urusan belakang.

Seperti halnya Turi, yang penting utangan lancar, nasabah nambah, dan bunga mekar sebesar-besarnya.

“Turi... Sibuk?”

“Enggak Jo... Sini ngopi. Ambil gorengan Jo. Atau camilan pisan!”

“Iya Tur... Suwun-suwun. Ngene jo...”

“Piye-piye..., enek opo?”

Tirjo masih gelagapan, bingung. Kelu rasanya. Tetapi ia benar-benar ingin membuka usaha, tapi modal ndak punya.

“Hihihi..., aku arep nyilih modal Tur?”

“Oalah, Gampang-Gampang. Kamu butuh berapa duwit? Tapi harus sesuai dengan jaminan dan ada bunganya. Kamu bisa bayar bunga saja tiap bulan, dan melunasinya jika sudah jatuh tempo. Atau kamu bisa nyicil perbulan sama bunganya.”

“Wah... aku ndak ngerti e. Kalau untuk sewa tempat dan beli bahan-bahan sepatu kira-kira butuh berapa ya?”

“Kamu mau sewa di mana?”

“Kemarin, aku dengar dari tetangga kalau di pasar ada bedak seluas 2x4 meter, dan menurutku bisa untuk buat usaha permak sepatu. Kira-kira harga sewanya 3 juta setahun, atau bayar uang bulanan sebesar 180 ribu rupiah.”

“Oalah, gini aja Jo. Kalau saranku kamu langsung saja ambil pinjaman 5 juta atau 7 juta. Itu cukup untuk modal usahamu. Juga. Kalau uang segitu bunganya sekitar 25%. Jadi yah kira-kira perbulan kalau kamu mau nyicil ya 680 ribu. Gimana? Tapi jangan lupa jaminannya ada dulu? Kalau ada nanti gampang biar aku yang urus.”

Tirjo masih diam saja. Ia berpikir sejenak lalu ia mengeluarkan sertifikat rumahnya. Tapi masih tampak ragu dalam matanya. Ia mau menyodorkan sertifikat itu, tapi ia masih ragu.

“Oalah Jo... Kalau gak yakin, gak masalah jo!”

“Semisal sing gak usah jaminan piye Tur, aku kasihan sama bapakku.”

“Sebenarnya aku ada uang 3 Juta. Tapi itu jangka waktunya dua bulan. Kira-kira kamu bisa ndak kalau mengembalikan uang itu selama dua bulan?”

“Tiga bulan piye Tur? Tak usahakan, asal ndak ada jaminannya. Kamu bisa bawa ktpku.”

Turi mengiyakan lalu memberikan uangnya.

***

Dua bulan berlalu. Usaha Tirjo juga lumayan jalan. Ayahnya yang awalnya tidak setuju, lambat laun menerimanya walaupun masih belum sepenuhnya. Namun ada permasalahan yang kemudian menghampiri keluarga Tirjo. Penyakit ayahnya kambuh, bahkan menjadi lebih parah. Menurut bibi Tirjo, ayahnya kebanyakan mikir Tirjo. Apalagi setelah mendengar kalau ia berhutang kepada Turi, si Bank titil.

Tirjo semakin sedih hatinya. Ia merasa bersalah kepada Ayahnya. Ia dampingi ayahnya di rumah sakit. Sampai akhirnya, sudah menjadi garis kehidupannya, Ayahnya meninggal dunia karena mengidap kangker lambung.

Betapa berat rasanya, Tirjo seakan mengumpat dirinya, karena kecerobohannya. Ia tak memikirkan kondisi Ayahnya. Ia hanya beropsesi kepada usahanya. Ia tak memikirkan apa yang diharapkan ayahnya. Mau bagaimana, menyesal juga tak ada untungnya. Sekarang ia hanya perlu belajar menyadari dan bertanggung jawab atas segala pilihannya.

***

Tirjo tak mampu mengembalikan uang pinjamannya. Hampir tiap hari Turi mengunjunginya. Ia meminta dan bahkan mengancam untuk menyita rumahnya. Jika ia tak segera mengembalikan uangnya.

Tirjo meminta kepada Turi untuk memberi jangka waktu lagi. Namun ia menolak. Sampai akhirnya Tak terlihat lagi Turi berseliweran, lama sekali. Dan dengan-dengar, Turi ditangkap Polisi karena terlibat dalam penggelapan uang di kantornya.

Kabar tersebut, menjadi berkah bagi Tirjo. Selama lima tahun ia tak bertemu Turi. Ia menggarap tanah warisan ayahnya, dan bekerja sebagai Tukang air. Lapaknya di pasar dulu bangkrut. Ia menyesal karena tak menghiraukan pinta ayahnya. Setiap malam ia selalu mengingat ayahnya. Seakan ada kesalahan yang tak tertebus dalam kehidupannya.

Di suatu pagi, Tirjo mengasah cangkulnya. Sambil duduk di bangku reot di depan rumahnya. Anaknya lari-lari bermain kuda-kudaan dari pelepah pisang. Istrinya memetik sayur bayam di samping rumahnya. Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti di rumahnya. Di dalam mobil tampak seorang laki-laki dengan pakaian rapi. Rambutnya klimis rapi, tubuhnya yang kecil seakan Tirjo mengenalnya. Di jok mobil sebelah tampak seorang perempuan cantik dan menggendong anak kecil yang berumur sekitar enam bulan. Dan di jok belakang seorang perempuan tua sedang membetulkan selendang di pundaknya.

Mereka keluar, dan ternyata itu adalah Said dan keluarganya. Ia menjadi seorang pengusaha batu marmer dan juga memiliki lembaga bimbingan belajar di kota. Said menghampiri Tirjo lalu memeluknya.

“Jo..., aku ikut berbela sungkawa. Aku baru tahu bahwa ayahmu sudah meninggal empat tahun yang lalu. Bagaimana kabarmu sekarang? Mana anakmu?”

“Ya Allah, Id... terima kasih, kamu sudah sukses sekarang. Alhamdulillah aku sehat, Id. Ini anakku. Ia sudah TK.”

Mereka saling melepas rindu. Tirjo menceritakan segalanya kepada Said. Sesekali ia menangis, mengusap air matanya, lalu tertawa. Said memberikan semangat kepadanya. Ia menyodorkan amplop berisi uang. Amplop itu tebal sekali, Tirjo tak percaya jika temannya dulu masih ingat kepadanya. Said juga menawarkan pekerjaan kepada Tirjo untuk ikut bekerja di perusahaannya.

Dari perjumpaan itu, Tirjo tahu bahwa tiada pintu yang terkunci selagi ia mau membuka dan mencari kuncinya. Ia bersyukur kepada Tuhan, bahkan ia merangkul istri dan anaknya. Ia sujud syukur, dan menangis tersedu-sedu. Said memandangnya haru.

***

Sumbernanas, 2021

Foto Ahmad Dahri

Sekilas Tentang Penulis

Ahmad Dahri, penjual kopi dari Malang. Merintis Usaha kopi sejak semester awal kuliahnya. Menulis dan membaca menjadi hobinya. Kumpulan cerpen "Purna Ke Seratus" (Gubuklawas, 2017) adalah buku kumcer pertamanya. Bisa saling menyapa melalui email lekdah91@gmail.com.

Post a Comment for "PINTU"