Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tidak Ada Rindu di Monumen Mandala

Karangan: Nabila May Sweetha

Kisah ini sederhana saja sebenarnya. Hanya tentang saya, monumen mandala, dan seseorang yang membuat saya bodoh berkali-kali.

Gambar Pasangan Sedang Piknik Romantis

Monumen mandala, seperti namanya, adalah sebuah monumen yang terletak di kota Makassar. Kalian tidak perlu susah menerka bagaimana wujudnya, karena monumen mandala ini mirip seperti monas di Jakarta. Bedanya mandala lebih sederhana.

SMA Negeri 16 Makassar, tempat saya bersekolah, tidak begitu jauh dari monumen mandala. Hanya perlu berjalan kaki beberapa menit. Saya bersekolah dengan sistem full days school, atau dalam kata lain sekolah penuh waktu. Mulai dari jam tujuh pagi sampai dengan jam empat sore. Lelahnya minta ampun, tetapi untungnya proses ajar mengajar hanya berlangsung hari senin sampai dengan hari jumat. Hari minggu semua anak murid sudah bisa leha-leha, beristirahat di rumah masing-masing. Di hari sabtu, sebagian anak bisa leha-leha tapi sebagiannya lagi tidak. Salah satu jenis anak yang tidak bisa berleha-leha di hari sabtu adalah saya. Sebagai anak yang aktif di ekstrakulikuler sekolah, saya harus datang hampir setiap hari sabtu. Di hari sabtu biasanya sekolah tidak begitu ramai, hanya ada beberapa murid yang juga aktif di ekstrakulikuler.

Setiap sabtu pagi saya akan ke sekolah, bertemu dengan teman-teman ekstrakulikuler lain, mengurus hal-hal yang perlu diselesaikan sambil menikmati masa remaja. Saya suka berada di sekolah. Maka dari itu, biasanya saya baru meninggalkan sekolah di sore hari. Saya akan menelepon bapak dan memintanya menjemput saya di depan monumen mandala.

“Mengapa tidak di depan sekolah saja bapak menjemput?”

Itu adalah pertanyaan yang sering kali ditanyakan teman-teman, tetapi saya pun tak bisa menjawabnya. Saya selalu menikmati waktu-waktu berjalan kaki dari sekolah ke arah monumen mandala, mendengarkan bising kendaraan sambil menghirup napas dalam-dalam. Betapapun di sore hari asap kendaraan seperti ingin mencengkram paru-paru, saya tetap suka menghirup napas dalam-dalam. Dengan begitu saya bisa mengenali kota tempat saya lahir, Makassar ....

Dari kebiasaan berjalan kaki inilah saya bertemu dia, seseorang yang mengubah banyak hal dalam kehidupan saya. Namanya Rafi. Pemuda yang selalu mengekori langkahku sambil bertanya, “Kenapa jalan sendirian?”

Lama kemudian baru saya sadar bahwa dia adalah murid di SMA 16 Makassar juga. Saya memang tipe perempuan yang cuek, malas memerhatikan sekitar yang tak berhubungan dengan diri sendiri. Makanya, tiga tahun bersekolah dan seangkatan dengan dia, saya bahkan tak ingat wajahnya sama sekali. Jangankan ingat, tahu bahwa kami satu sekolah pun tidak.

Sejak kelas tiga, dia sering membuntuti saya yang berjalan sendirian menuju monumen mandala. Kadang kala saya menjawab pertanyaan-pertanyaan absurtnya, kadang kala juga saya diamkan saja. Saya tidak pernah bertanya apapun kepada dia. Hingga pada hari kelulusan, dia menghampiri saya yang sedang duduk bercanda tawa bersama teman-teman sekelas. Dia datang dengan seragam yang sama seperti yang saya kenakan, tersenyum begitu manis. Dia mengajak saya ke kantin, dan saking syok. Nya mengetahui bahwa kami satu sekolahan, saya sempat tertegun sebentar.

Di hari kelulusan itu, dia menyatakan perasaannya. Bahwa dia menyukai saya. Sederhana sekali, saya menerima pernyataan itu. Kami pacaran. Saya memang suka juga dengan Rafi. Semua padanya saya sukai. Caranya berjalan, pertanyaan-pertanyaan tidak jelas yang dia lontarkan, hingga senyumnya. Kami hanya bertemu setiap hari sabtu, dan itu saja bisa membuat saya jatuh cinta. Satu bulan setelah pacaran, dia pernah bertanya seperti ini.

“Kenapa tidak tahu kalau saya juga siswa SMA 16?”

Saya menjelaskan bahwa saya orangnya cuek, selain itu fakta bahwa kami bertemu hanya di hari sabtu saja menjadi alasan. Setiap hari sabtu, anak-anak sekolah berpakaian biasa dan itu membuat saya tidak melihat lambang sekolahnya. Saat menjelaskan begitu, dia langsung tertawa.

“Hari sabtu saya tidak pernah ke sekolah, saya melihat kamu berjalan sendirian di depan cafe bapak saya dan saya mengikuti kamu.”

Satu alasan mengapa dia selalu datang tiba-tiba, membuntuti saya terjawab sudah. Karena ternyata dia menguntip saya bukan dari sekolah, tetapi dari cafe kepunyaan bapaknya.

Setelahnya, hubungan kami berjalan begitu manis. Rafi yang romantis, yang lucu, yang selalu punya pertanyaan absur. Dan saya yang selalu menjadi pendengar setia, hanya diam dan diam tiap kali dia berbicara. Hingga mala petaka itu datang.

Saya mengetahuinya dari teman sekelas, kami tak sengaja bertemu di mall saat saya jalan bersama Rafi. Pulang dari mall, teman itu langsung mengirim chat. Bertanya apa yang saya lakukan bersama Rafi. Saya bilang saja bahwa kami berpacaran, bahwa setelah kelulusan kami mulai jalan dan mulai merajut hubungan manis. Teman itu langsung mengingatkan saya bahwa Rafi adalah playboy, dia meminta saja segera menjauhi Rafi. Apakah saya dengan muda mendengarkannya?

Tentu tidak, ya, kan. Saya tetap mempertahankan hubungan itu, hanya lebih teliti lagi memerhatikan gerak-gerik Rafi. Dan akhirnya, tidak lama kemudian, kebusukan itu terbongkar. Rafi memang seorang playboy. Dia bergonta-ganti selingkuhan di belakang saya. Pada seorang temannya, yang berbaik hati menceritakan saya bagaimana Rafi sebenarnya, ia bercerita begini. Bahwa dia tidak pernah betah di satu perempuan saja. Dia selalu bergonta-ganti perempuan, tetapi hanya di belakang saya saja. Rafi tidak tahu mengapa, pada saya dia begitu ingin memiliki selamanya, tidak mau melepas meski jiwa playboynya meronta.

Saya memang mencintai dia, tapi mata saya tidak buta dan otak saya masih bisa berpikir dengan sempurna. Saya memutuskannya, memperlihatkan semua bukti perselingkuhannya. Ajaib, Rafi mengakui begitu saja semua perselingkuhan yang dia lakukan. Lalu kami putus baik-baik.

Setelahnya kami tidak putus komunikasi, malah Rafi menjadi serig curhat pada saya. Tentang perasaan, tentang wanita, atau tentang mengapa dia juga tidak tahan dengan sisi playboynya. Saya menjadi teman sekaligus pendengar yang baik.

Monumen mandala adalah tempat yang sering kali disewa orang-orang, untuk mengadakan even. Tiap kali ada even di sana, saya akan datang. Karena saya menyukai suasana mandala, kan saya pernah bilang kepada kalian. Dan satu dua kali saya pernah bertemu Rafi di sana. Saya sendiri, hanya bawa diri, dan dia yang menggandeng perempuan yang berganti-ganti.

Satu malam Rafi mengirim chat, saya balas seperti biasa. Tapi kali itu tidak ada cerita, tidak ada curhat-curhatan. Dia membuka pembicaraan dengan pertanyaan, “Ketemu, yok, di monumen mandala besok pagi. Ada pentas seni bagus.”

Saya mengiyakan, datang di pagi hari dengan setelan santai seperti biasa. Kaos putih di balut kemeja kuning yang sengaja tidak dikancing, lalu memakai celana jeans hitam dan sepatu kets putih. Saya menunggu sebentar hingga Rafi datang.

Kami lalu berjalan-jalan di pelataran mandala, sesekali Rafi melontarkan pertanyaan absurt seperti biasa. Tak terasa siang menjelang dan saya minta izin untuk pulang. Sebelum berpisah, Rafi sempat memegang tangan saya dengan niat menghentikan langkah saya. Memandangnya, saya bertanya ada apa.

“Kau tidak rindu?”

“Rindu apa?”

“Rindu saya ... rindu kita yang dulu,” Rafi melontarkan tanya yang kali ini serius.

Saya tersenyum, melepas tangannya dengan lembut, lantas berkata.

“Tidak ada rinndu di monumen mandala, Rafi.”

Kemudian saya berlari sambil tertawa-tawa. Bagi saya, begitulah kami berdua. Tidak ada yang bisa diulang lagi. Hubungan hanya bisa dimulai satu kali, dijalani satu kali, dan diakhiri satu kali pula. Tidak ada kesalahan yang diulang dua kali.

*** 26 Juni 2021 ***

Foto Nabila May Sweetha

Sekilas Tentang Penulis

Nabila May Sweetha adalah anak sulung yang terobsesi pada coklat, Harry Potter, dan lego Hello Kitty. Sehari-harinya aktif di PerDIK (lembaga independen yang fokus ke isu-isu difabel), dan sedang belajar menulis di Institut Sastra Makassar. Perempuan yang akrab disapa Lala itu telah menulis beberapa karya sastra, diantaranya adalah Warisan Kematian (novel), Ubur-ubur Di Matamu (novel, dan Kenangan Mengajari Kenangan Lainnya (kumpulan cerpen). Dia selalu menyuarakan hak-hak difabel perempuan, tentang betapa sebenarnya difabel perempuan semestinya berdaya alih-alih diam di bawah tekanan kaum patriarki. Tahun ini, gadis Bugis peranakan Nedherland itu baru saja tamat dari SMA Negeri 11 Makassar, dan fokus untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Post a Comment for "Tidak Ada Rindu di Monumen Mandala"