Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bidadari Terluka

Karangan: Reski Try Ulva

Batari. Ya, seperti itulah sapaannya. Nama itu. Sama maknanya dengan bidadari. Ibu sengaja memberi nama Batari, karena kesempurnaan fisik yang diberikan Tuhan untuknya.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Namun keindahan nama yang diberikan reduk oleh kekecewaan.

Malam itu, dia memandangi rembulan yang menyinari langit-langit biliknya. Seketika dia teringat kekasih hatinya.

Butiran bening tanpa sadar jatuh membasahi pipi yang merah merona. Dia semakin membenamkan wajahnya. Logika serta perasaan itu menyatuh seakan meleburkan diri dari kewarasan.

Kala itu, delapan tahun yang lalu. Di dalam museom Lagaligo, saat melakukan penelitian, laki-laki tampan yang kesempurnaannya tak tertandingi di kampus Universitas Hasanuddin, mengungkapkan perasaan yang telah beberapa lama dia pendam.

“Tari, sesungguhnya saya telah lama menyukaimu,” ungkap Hakim.

Dengan malu-malu, dia menjawab,

“Iya, saya juga memiliki perasaan yang sama, Kak,” sahutnya tertunduk dengan pipi yang memerah.

“Namun usia saya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari padamu,” imbuhnya dengan tatapan sedih.

“Apalah arti dari perbedaan usia kita, Kak?” sahutnya sembari menegakkan wajah dan menatap lembut kekasih hatinya.

Sepasang kekasih itu pun menjalani hubungan mereka.

Kabar itu kemudian sampai ke telinga Windi, sahabat Batari.

“Tar, benar kah kau dan Kak Hakim jadian?” tanya Windi.

“Iya,” sahutnya sembari mengangguk dan tersenyum.

“Apa kau yakin dengan hubungan kalian?” tanya gadis bertubuh kurus itu kepada Batari dengan menatapnya lamat-lamat.

“Entahlah, saya juga bingung,” ujarnya dengan mengerenyitkan dahi disertai perasaan nelangsa.

“Lalu, bagaimana jika Ayahmu tahu?” imbuh Windi sembari membelai rambut sahabatnya.

“Win, kau tahu saya, kan? Tentu Beliau akan tahu, entah setelah sesampai saya di rumah atau besok,” ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Perbincangan mereka pun usai. Kemudian kedua sahabat karip itu berpisah di parkiran.

Pertanyaan Windi di kampus tadi masih menggantung di dalam kepala. Dia memang mencintai Hakim. Namun permintaan Hakim untuk melamarnya serasa belum bisa dia terima.

Belum lagi jika Ayah tahu tentang hubungannya bersama sang kekasih.

Gadis mungil itu pun merasa gelisa. Tak bisa memejamkan mata. Sebentar memutar badan ke kanan, sebentar ke kiri.

Akhirnya dengan pergulatan perasaan yang cukup lama, dia pun memberanikan diri untuk memberitahu Ayah tercinta.

Dan persis dugaannya, Ayah menangis.

Dia tak mengerti. Mengapa Ayah tak begitu menyukai kekasihnya. Oleh sebab itu, dia memberanikan diri untuk bertanya,

“Ayah, Tari mohon ampun jika telah lancang bertanya, akan tetapi Tari hanya ingin tahu saja, Yah!” ungkapnya sembari menangis dan bersimpuh di hadapan Ayah.

Dengan terpaksa, lelaki tua itu pun mengatakan,

“Dia dulunya seorang pemakai narkoba, karena itu Ayah tidak mengizinkanmu berhubungan dengan dia!” tukasnya dengan wajah memerah.

Ayah juga memintanya meninggalkan Hakim. Karena Ayah tahu masa lalu kekasihnya itu.

Namun cinta sudah terlanjur dalam, sehingga rasa untuk meninggalkan tak sanggup dilakukan.

Hari-hari mereka jalani berdua. Hakim tampaknya sangat mengasihi Batari. Segala perhatian dia berikan, tapi Batari seorang gadis lugu yang menjalin kasih dengan lelaki yang memiliki segudang percintaan.

Akhirnya lelaki tampan itu tampaknya merasa bosan.

Bukan karena ingin mencari yang lain, tapi dia merasa terabaikan dengan keluguan yang dimiliki sang kekasih.

“Saya mencintainya, bahkan teramat sangat,” ujar Hakim kepada Ifan sahabatnya.

“Lantas mengapa kau ingin meninggalkannya?” tanya Ifan tak mengerti.

“Saya tidak mau membuatnya menderita dengan hidup bersama. Lagi pula Tari masih punya segudang cita-cita,” sahutnya nanar.

“Tapi, kau akan membuat dia terluka.”

“Saya tahu,” sahutnya terisap.

Melihat kondisi sahabatnya, Ifan pun tak melanjutkan perbincangan mereka.

Dia hanya duduk di sebelah Hakim sembari menghisap rokok di tangannya.

Seakan dia merasakan hal yang sama, saat Hakim tertidur, lelaki bertubuh gemuk itu pun mengambil gawai Hakim dari saku celananya. lalu mengetikkan kata-kata perpisahan untuk Batari.

Batari yang menerima pesan whatsapp dari Hakim, pun menangis.

Sepanjang malam dia terus saja menangis. Tak tahu dan tak mengerti mengapa kekasihnya tiba-tiba memutuskan hubungan mereka.

Hatinya terasa perih. Seakan terdengar hingga ke langit ketujuh.

Sementara ratusan kilo jauhnya, Hakim juga menikmati rasa sesalnya.

Ya, lelaki tampan itu memang mencintai gadis yang teramat dikasihi, namun perasaan itu harus dia kubur segera, dan melupakan kenangan tentang pujaan hatinya.

**** Enam bulan pun berlalu, Hakim pun berhasil melupakan Batari, dan mencoba membuka lembaran baru.

Berita itu akhirnya sampai ke telinga Batari.

“Tar, sudahlah! Kau harus bangkit, buktikan jika kau mampu tanpanya!” ujar Windi menguatkan.

“Iya, kau benar. Bahkan, bila perlu, saya akan secepatnya mencari pengganti dirinya!” sahutnya tersenyum disertai perasaan hancur dan tersirat makna.

Hati yang terluka, seumpama tersayat oleh sebilah pedang yang tajam. Sedangkan rasa kecewa bagai menghancurkan angan-angan yang telah terpatri.

Namun sebaliknya mampu menguatkan, dan mengubah pribadi.

Sejak Hakim benar-benar meninggalkannya, dia belajar siang dan malam untuk membalas sakit hatinya. Demi membuktikan, bahwa dia mampu menandingi kesempurnaan yang di miliki oleh kekasih Hakim.

Dan benar saja, kini gadis cantik itu mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Waah, ide-ide Kakak memang brilian, sehingga mampu menaklukkan beberapa penerbit!” ujar Rendi kepada rekan kerjanya sembari tersenyum.

“Iya, terima kasih, Ren!” sahutnya tersenyum sombong.

Batari sesungguhnya adalah gadis teduh nan lembut, namun kekecewaan cinta merubah prangai baik itu.

Dia sekarang cenderung kasar serta terlihat sombong.

Suatu hari, seorang lelaki tua tak sengaja menyerempet mobilnya, sehingga meninggalkan bekas goresan.

Dia kemudian naik pitam. Lalu berkata,

“Hei, Pak tua, jika sudah tak mampu bekerja, lebih baik tinggal di rumah saja menunggu ajal!” tungkasnya menimpali sembari tersenyum dan menyeringai.

Windi yang melihat kelakuan sahabatnya, merasa tak tahan, dan berkata,

“Tar, kau keterlaluan!” ungkapnya setengah berteriak.

Batari tak memperdulikan perkataan sahabatnya. Dia hanya menatap kedepan, fokus dengan kendaraan yang dibawah. Namun Windi yang sudah terlanjur kesal dan kecewa, pun menyuruh Batari untuk menurunkannya dari mobil.

Ya, gadis itu sangat kecewa kepada gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil. Bahkan berniat untuk memutuskan persahabatan mereka. Namun dia teringat janjinya kepada sahabatnya, bahwa apa pun yang terjadi dia takkan meninggalkannya.

Maka seminggu setelah kejadian itu, tepat di hari valentain, dia menemui Batari.

Batari yang juga menyayangi Windi menyambut pelukan itu.

Ya, mereka berpelukan layaknya dua orang yang sudah lama tak bertemu.

Akhirnya kedua sahabat karib itu kembali tertawa, dan melakukan kekonyolan bersama.

Di tengah kekonyolan itu, Windi mencoba mengingatkan telah berapa lama mereka bersahabat.

“Tar, kau ingat sudah berapa lama kita bersahabat?”

“Iya, tentu saja saya ingat!” serunya sembari tersenyum dan kembali memeluk sahabat tercinta.

“Tapi saya tak mau menjadi Batari yang dulu!” ungkapnya dengan wajah memerah.

“Iya, tapi ingatlah, ketamakan akan menghancurkanmu!” imbuh Windi mengingatkan.

Kata-kata Windi memang dia benarkan. Namun semua telah terjadi, dan pantang untuk berhenti.

Ya, gadis itu semakin menampakkan dirinya.

Baginya cinta bukanlah kebahagiaan. Melainkan harta dan ketenaranlah sumber kebahagiaan itu.

Namun kesombongan dan ketamakan selalu bersifat sementara.

Olehnya malam itu, potret masa silam pun kembali merobek dan menyayat hatinya.

Dia tergulai lemah, apa lagi setelah menyadari, bahwa dia terlambat meminalisir rencana busuk Rendi, yang telah memanipulasi keuangannya.

Dia merasa sedih, impiannya untuk menaklukkan Tanah Air lewat karya-karya magisnya putuslah sudah.

Ya. Akhirnya gadis cantik itu pun menyadari jika azab Tuhan telah datang menghampiri.

Gadis itu menangis, dan terus menangis.

Dalam hati dia bergumam,

“Saya telah banyak berbuat dosa!”

Dia hanya pasrah. Dia ingin memohon, dan meminta kepada sang memberi hidup. Namun dia merasa malu.

Dia semakin lemah, air minum dan makanan tak mampu dia masukkan ke dalam mulut.

Dia mencoba untuk berzikir, menyebut nama Allah. Dia terus melantunkan syair-syair indah itu, hingga suaranya tak terdengar lagi.

Entah apa yang terjadi pada gadis arogan itu. Apakah telah mati, atau justru sedang tertidur pulas? Entahlah.

Windi yang memiliki ikatan yang kuat dengannya, pun menemukan Batari dalam keadaan tak sadarkan diri.

**** Setiap insan hanya bisa menerima ketetapan Tuhan. Begitu pula dengan perasaan, sang Penciptalah yang mempunyai hak menentukan perasaan kapan datang dan pergi.

“Tari, mengapa hidupmu jadi begini?” gumam Windi terguncang sembari mencium kening sahabatnya.

Batari masih saja terbaring tak sadarkan diri. Jarum infus pun di sematkan ke dalam tangan nan lembut itu. Selang nasal terpasang untuk membantu bernafas.

Windi yang mengetahui kisah sahabat tercinta, tak berhenti melantunkan zikir ke telinga Batari. Berharap ada mukhzizat dari Allah untuk Batari.

Namun jiwa terlanjur tenang dalam lantunan syahdu ilahi.

Akhirnya tubuh itu menyatuh kembali bersama wujud aslinya, dan hanya mengukirkan sebuah nama.

**** Makassar, 13 Juli 2021

Foto Diri Rezky Try Ulva

Sekilas Tentang Penulis

nama saya Reski Try Ulva atau biasa dipanggil Ulva. Panggilan masa kecil Uppa, panggilan kesayangan, Reski. Lahir di Ujung pandang, pada tanggal 20 Oktober 1993. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Saya adalah seorang disabilitas netra total bluint. Saya senang memasak, dan menulis, serta membaca apa saja untuk menambah cakrawala berpikir. Bacaan favorit, yaitu Novel.

Post a Comment for "Bidadari Terluka"