Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga Adalah Bencana

Karangan: Miftah Hilmy Afifah

Namaku Viofa. Aku anak sulung dari dua bersaudara. Saat ini aku berstatus sebagai pelajar di salah satu sekolah menengah atas di kota kelahiranku. Sejak lulus sekolah dasar, kerap kumeminta pada orangtuaku agar memberi izin untuk aku sekolah di pesantren atau sekolah apa pun yang setidaknya aku bisa tidak lagi tinggal di rumah. Terserah mau di asrama atau kost sendiri, yang penting bisa keluar dari lingkungan toxik ini. Namun beribu sayang, mereka tak mengizinkanku. Katanya aku anak perempuan yang tidak baik jika harus tinggal sendiri. Ya, sepertinya itu sih, maksud yang dapat kutangkap dari cibiran serta omelan ibu kala itu.

Gambar Keluarga Duduk Bersama di Atas Rumput

“Heh! Kamu itu anak perempuan. Mau sekolah jauh-jauh. Masih kecil lagi sudah mau merantau? Mau jadi apa kamu, hah! Boro-boro mau tinggal sendiri, makan kamu aja masih disiapin. Kamu nggak denger apa cerita si Lastri anak Pak Lurah yang gengsi nggak mau sekolah di daerah sendiri, maunya sekolah keluar kota kayak kamu tuh! Eh… tahu-tahunya si Lastri pulang-pulang udah bunting. Malah dia sendiri nggak tahu siapa laki-laki yang harus bertanggungjawab atas anak dikandungannya, saking banyaknya laki-laki yang udah nidurin dia. Huh, kamu mau ya kayak gitu?! Pergaulan di luar sana udah nggak bener. Eeeeh, malah kamu mau pergi menjerumuskan diri ke sana. Dasar anak tak tahu diri! Tak tahu diuntung!” komentar ibu tatkala aku mengutarakan keinginanku untuk merantau.

“Tapi aku mau belajar hidup mandiri, Ibu. Lagian nggak selamanya kan, aku hidup bergantung terus sama Ibu?” kilahku sambil berusaha menahan air mata yang hendak keluar akibat harus berdebat dengan ibu yang keras kepala.

“Halah, nggak usah ngajarin Ibu ya kamu! Kamu itu anak kecil! Nggak tahu apa-apa! Belajar mandiri itu nggak perlu sekolah! Mandiri itu akan jadi dengan sendirinya tanpa kamu harus merantau!” jawab Ibu masih teguh pada pendiriannya dan amarah yang meledak-ledak.

Sesungguhnya aku beralasan saja mengatakan bahwa tujuanku ingin merantau adalah supaya bisa mandiri. Melainkan tujuan sebenarnya adalah aku tak mau lagi berada di tengah keluarga yang selalu menyiksa batinku ini, membebani jiwaku, dan aku tidak ingin ini akan berdampak buruk pada masa depanku. Sekarang saja aku sudah merasakan dampak buruk itu. Tentunya aku tidak akan membiarkan semua berkelanjutan.

15 tahun yang lalu, aku adalah sosok yang periang, murah senyum, mudah bergaul, dan hari-hariku dipenuhi keceriaan. Meski masih kanak-kanak, aku tak pernah malu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Seperti rekan-rekan ibu dan ayah, abang tukang bakso yang biasa lewat depan rumah, Mbok jamu yang biasa lewat depan sekolah, bahkan Om Darto tukang ojek langgananku yang setiap hari mengantarku ke sekolah kerapkali kuajak bercakap-cakap tanpa rasa malu ataupun minder. Intinya Viofa yang dulu penuh percaya diri, suka bergaul dengan siapa saja, tidak menutup diri, cenderung ekstrovert.

Akan tetapi, itu dulu, sebelum batin ini terluka. Entah mengapa aku merasakan perubahan yang sangat besar pada kehidupanku, yang sayangnya menurut keluargaku terlebih ibu menganggap perubahan ini bukannya ke arah yang baik, malah ke yang buruk. Akan tetapi bagiku sih, baik-baik saja. Lagipula, aku seperti ini juga bukan atas kemauanku sendiri, melainkan lingkunganlah yang memaksaku sepert i ini.

Kini, aku sudah mulai merasa segan untuk mengajak ngobrol orang-orang yang lebih tua dariku, sebab kata ibu aku kecentilan masih kecil-kecil sudah ikut obrolan orang dewasa. Hingga saat ini, meskipun umurku sekarang sudah menginjak 25 tahun, tetap saja aku segan. Sebab takut akan disemprot ibu lagi lantaran ibu tak pernah memperlakukanku atau paling tidak mengataiku orang dewasa. Selalu saja yang ia ucapkan aku adalah anak kecil yang masih minta-minta sama orangtua, masih terlalu bergantung sama orangtua, dan bodoh! Padahal disamping aku telah meraih gelar sarjanaku, aku juga sudah bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio di kotaku yang Alhamdulillah penghasilan yang kuterima dari menyiar bisa kugunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kecuali biaya makan, biaya, air, biaya listrik, dan segala kebutuhan rumah tangga. Sebab, aku masih tinggal di rumah orangtua. Jadi, menurutku itu sih masih dalam batas normal. Terpenting kan, aku sudah tidak minta uang jajan lagi kepada mereka. Walau begitu, masih saja Ibu mengataiku seperti itu.

Segala jeripayahku, keinginan, dan hobiku tidak pernah mendapat dorongan dan semangat dari orangtua. Sejak SMA sampai menjadi mahasiswa aku kerap meminta agar mereka mau mendaftariku kursus bahasa Inggris. Sebab, memiliki kemampuan berbahasa Inggris adalah impianku sejak masih di taman kanak-kanak. Bahkan, acapkali kumenghafal lirik-lirik lagu barat semata-mata ingin membiasakan lidahku dengan pelafalan bahasa Inggris. Barangkali mereka tak terlalu peduli denganku atau sengaja pura-pura tak mau peduli, aku tak tahu. Walau demikian, aku berusaha agar mereka mau mengerti dengan impianku yang satu itu. Ya, bukankah kewajiban dan tanggungjawab pendidikan seorang anak ada pada orangtua? Akan tetapi, setiap kali aku menanyakan hal tersebut, mereka bungkam seribu bahasa. Bahkan, tak jarang mereka langsung pergi begitu saja seolah tak mendengar apa yang kukatakan.

Pernah suatu hari, ketika aku iseng mencoba salah satu resep di youtube, yaitu resep kue brownies yang ternyata cara buatnya tidak sesulit apa yang kubayangkan. Sederhana sa ja dan hasilnya pun memuaskan. Mengetahui hal itu, aku sebagai pecinta kue bro wnies sejati pun membeli banyak bahan kue untuk persediaan di rumah. Dengan maksud, agar aku bisa membuat kue brownies tersebut saat tidak ada cemilan di rumah, dan ket ika ada yang datang bertamu ke rumah. Namun, sepertinya hal itu juga tidak diapresiasi o leh semua penghuni rumah terkecuali aku dan para hewan kecil yang berkeliaran di dalamnya.

“Kamu itu bikin kue terus tiap hari bikin habis minyak saja! Kamu nggak tahu ya harga minyak sekarang tuh mahal! Kalau mau bikin kue jangan Cuma beli bahan kuenya dong! Beli juga sama minyaknya untuk memasak! Jangan malah ngabisin minyak Ibu!” Bentak Ibu tatkala aku tengah memasak kue brownies buatanku di dapur. Walau sebenarnya kutahu Ibu juga turut andil dalam menghabiskan kueku dan membagi-bagikannya ke tetangga, jadi kupikir hanya memakai sedikit minyak kompornya saja taka pa. Akan tetapi, itu justru mengundang murkah Ibu. Kupikir, Ibu akan bangga dengan hobiku yang satu ini. Akan tetapi ternyata tidak sama sekali.

Aku tak tahu bagaimana akhir dari kisah kelamku ini. Sebab hingga kini, diusiaku yang ke 28 tahun, masih saja aku mendapat perlakuan yang serupa. Meski sekarang aku sudah bisa memberi Ibu sebagian dari penghasilanku, namun di mata Ibu aku tetaplah seorang bayi yang masih merengek dalam gendongan. Sempat terbersit di kepalaku unt uk berkonsultasi dengan psikolog. Namun, lagi-lagi karena lingkungan yang memandang mereka yang datang ke psikolog hanyalah orang gila. Jadinya aku harus mencari waktu yang tepat untuk sembunyisembunyi ke psikolog, tanpa diketahui siapa pun yang bisa menjadikan buah bibir orang- orang di sekitarku. Aku hanya bisa berharap agar ini segera berakhir sehingga tidak berpengaruh dengan masa depan dan kehidupanku setelah menikah nanti.

Foto Diri Penulis, Mifta Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh, halo teman-teman! Perkenalkan namaku Miftah Hilmy Afifah. Kalian bisa memanggilku Afifah. Umurku 21 tahun. Aku kelahiran 2 Maret tahun 2000. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Saat ini aku berstatus mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Selain itu, aku juga seorang penyiar di salah satu radio online Indonesia. Hobiku menulis, membaca novel, mendengarkan musik, dan memasak. Kalau kalian ingin kenal lebih dekat denganku, bisa ikuti instagramku di @afifah.pisc atau facebook Miftah Hilmy Afifah. Terima kasi karena sudah membaca karyaku ini dan mohon do’a dan dukungannya agar aku tetap semangat dalam berkarya. Sampai ketemu lagi di tulisan-tulisanku selanjutnya. Bye-bye!

1 comment for "Keluarga Adalah Bencana"

  1. Thanks mimiiiin! Oh ya bagi pembaca jangan sampai salfok baca judulnya yaaa! Ambil sisi positifnya aja

    ReplyDelete