Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Libur dan Idul Adha di Kampung Halaman

Penulis: Sujono Said

Alhamdulilllah, sesampai penulis di kampung halaman, tepatnya sehari pasca tragedy Independent Travel, penulis langsung menyibukkan diri dengan kegiatan membaca beberapa buku andalan. Selain membaca dan memantau perkembangan baik local, nasional, dan internasional melalui aplikasi berita online di ponsel pintar.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Adapun buku andalan yang penulis baca adalah buku tentang Meri riana, dengan judul "Mimpi Sejuta Dollar", biografi perjalanan Insinyur Haji Joko Widodo saat menjadi pengusaha mebel, Wali Kota Solo 2 periode, sampai jadi "DKI 1", hingga buku Ahmad fuadi yang menulis tentang perjuangan para perantau. Mulai dari perantau yang ingin menjadi TKI melalui perusahaan PJ TKI, hingga mereka yang akan melanjutkan study di luar negeri karena mendapatkan beasiswa (scolorship) berikut lika-likunya.

Gambar Suasana Liburan di Selayar

Dengan begitu, penulis jalan-jalan gratis lagi ke berbagai negeri, termasuk ke Somalia. Seperti biasa, ketika penulis membaca buku demi buku, mulai dari saat berada di Nanyang Technology Universiti bersama Mis Meri, hingga bersama tokoh-tokoh lainnya dalam buku yang berbeda, imajinasi penulis liar kemana-mana.

Terlebih, ketika penulis membaca di teras rumah, tempat di mana penulis bermukim selama Stay sampai hari dimana tulisan ini disusun. Mengapa? Karena suasana teras tersebut sangat sunyi. Terlebih di malam hari. Sejak di Makassar, memang sudah menjadi niatan penulis bahwa sesampai di Selayar, penulis ingin merasakan sensasi membaca dan menulis yang berbeda. Hal ini, sangat penulis syukuri karena keinginan terwujud sudah sejak 21 Juni sampai disusunnya tulisan pada hari ini.

Gambar Suasana Bersantai di Teras Rumah

Independen Travel, adalah tulisan yang penulis susun, kirim dan juga menjadi tulisan pertama penulis sejak penulis berada di Selayar. Setelah itu, penulis lebih banyak membaca lagi. Jadi seingat penulis, dalam seminggu, penulis hanya mengirim satu tulisan. Ada yang disusun di Selayar, dan ada yang hanya mengalami finishing di Selayar.

Suasana teras rumah tempat penulis stay di kota Benteng yang membuat teduh di malam hari, sangat mendukung aktivitas penulis saat membaca di sela-sela waktu senggang. Karena, selain menulis, membaca, penulis juga adalah manusia biasa yang membutuhkan relaksasi dengan melakukan kebiasaannya, yaitu jalan kayak setrikaan.

Di masa Covid, adalah masa yang mengharuskan kita berada di rumah saja kayak kucing jika tak ada hal urgen di luar rumah, hehehe. Tapi bagi penulis, kondisi ini sudah lumra, karena penulis memang jarang ke luar rumah untuk hal yang tak perlu.

Penulis hanya keluar rumah jika ada yang ngundang untuk ngopi di rumah kawan, atau melakukan ziarah ke makam Ibunda tercinta di dusun Baram-barang, desa Lowa yang merupakan tempat penulis menjalani masa kecil sebelum masuk SLB Bulukkumba, 14 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1997 sampai tahun 2003 silam.

Jelang Idul Adha, penulis agak shok, karena ternyata saat membaca berita Nasional dan berita di media local, Selayar hanya satu-satunya kabupaten yang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19 di Provinsi Sulsel. Namun, peribadatan tetap berjalan normal.

Yang ada, hanya penegakan protkes oleh aparat POLRI, TNI dan SATPOL Pulang Pergi, eh Pamong Praja ( SATPOL PP ). Sehingga, menurut penerawangan penulis, semua masih terkendali. Namun, Alhamdulillaah karena shalat Idul Adha tetap berlangsung di lapangan pemuda Benteng dan beberapa masjid yang menjadi penyelenggara hari raya.

Namun, penulis dan keluarga lebih memilih Masjid Nurul Ikhwan sebagai tempat untuk melaksanakan shalat hari raya. Karena, masjid tersebut dekat dari rumah. Selain juga menjadi tempat penulis dan keluarga melakukan shalat 5 waktu dan shalat jumat.

Gambar Suasana Idul Adha di Kampung Halaman

Setelah melakukan shalat hari raya, penulis dan keluarga kembali ke rumah yang menjadi tempat penulis stay. Setelah itu, penulis melakukan Halal-Bihalal dengan keluarga yang kemudian lanjut ke Baram-barang untuk nyekar dan silatur-rahim dengan keluarga.

Setelah melakukan tabor bunga, doa, dan seterusnya, maka kami pun melakukan ziarah dan perjamuan pada keluarga inti di Lowa. Setelah itu, kami pun kembali ke kota Benteng untuk melakukan aktivitas di hari-hari libur penulis yang tersisa tinggal dua pecan. Semua itu, sangat penulis syukuri dan penulis akan memaksimalkan waktu tersisa.

Sebenarnya, ajaran baru sudah dimulai sejak 12 Juli kemarin. Namun penulis memilih berlebaran di Selayar. Sebenarnya, penulis sudah mendapat instruksi dari atasan untuk melakukan pembelajaran daring, mengingat penulis masih belum berada di tempat.

Alhamdulillaah, tak lama lagi, penulis akan kembali bekerja untuk ummat, dan mewujudkan apa saja yang menjadi mimpi dan cita-cita penulis pasca doa dan usaha. Dan bagi penulis, proses liburan adalah hadiah bagi diri sendiri sebagai penghargaan akan proses yang dilakukan selama satu smester dengan sempurna dan penuh rasa syukur.

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Nama sujono said. Tempat tanggal lahir Selayar, 21 Februari 1987. Lebih senang dipanggil kak jono sejak mahasiswa sampai kakek-kakek. Hobi menulis, membaca, ngopi dan karaokean.

Post a Comment for "Libur dan Idul Adha di Kampung Halaman"