Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stop Insecure!

Penulis: Miftah Hilmy Afifah

Entah apa yang tengah merasuki diriku saat ini. Aku selalu merasa diriku kurang dari siapa pun. Meski acapkali kudengar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Akan tetapi hati kecilku tetap saja mengingkarinya, membantah segala kenyataan yang ada, menganggap akulah yang paling menyedihkan, yang paling buruk, paling tidak beruntung, dan aku benci dengan diriku sendiri. Jika aku bisa meminta, aku ingin dilahirkan kembali sebagai orang lain saja.

Gambar Aksara Braille

“Benci, benci, benci, benci, benci!”

Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku. Entah siapakah yang mengatakannya dan dari mana asalnya, yang jelas saking kerapnya terlintas di pikiranku, tanpa sadar bibir pun ikut mengatakannya. Dan pada akhirnya, aku semakin dalam meratapi nasib yang tak sejalan dengan harapan.

Sejak kecil, aku bercita-cita ingin menjadi seorang pramugari. Setiap pengenalan di sekolah dari masa taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, kata pramugari tak pernah lepas dari kolom cita-cita. Alasannya sih sederhana. Aku ingin bisa keliling dunia. Menjamah tiap senti di muka bumi ini tanpa ada yang terlewat sejengkalpun. Namun, Tuhan berkehendak lain. Di usia delapan tahun mataku tinggal sebatas aksesoris, Akibat sebuah kecelakaan, mataku tak berfungsi lagi seperti sediakala. Alhamdulillah-nya, barangkali waktu itu aku masih kecil, aku tidak terlalu khawatir dan memusingkan hal itu. Karena dipikiranku, tidak selamanya aku tidak dapat melihat. Akan tiba saatnya penglihatanku di kembalikan.

Bertahun-tahun berlalu, kini aku tak lagi bercita-cita menjadi pramugari. Bukan karena aku sudah menyerah dengan keadaan. Lagipula tidak pramugari saja, kan, yang bisa keliling dunia. Cita-citaku berpaling menjadi seorang penyanyi yang memiliki suara emas dan kerap diundang di banyak acara baik dalam negeri maupun luar negeri. Bergelimangan harta sehingga aku bisa mengunjungi tempat apa saja yang kumau dan mempunyai asisten sebagai pendamping selama di perjalanan. Akan tetapi, sepertinya bakat bernyanyi itu tidak tertanam dalam diriku. Sudah Sembilan belas kali aku ikut serta dalam lomba tarik suara, dan hasilnya, nihil. Aku selalu berada di posisi peringkat nomor satu dan dua dari belakang. Lantas, apa kelebihanku? Apa hidup dengan mengharap iba dari orang lain itu disebut kelebihan? Apa hidup selalu bergantung dan menyusahkan orang lain itu juga termasuk suatu kelebihan?

Aku sudah tak peduli lagi dengan dunia tarik suara. Kali ini kuakui diriku menyerah. Namun, semenjak saat itu, acapkali kumerenung dan menumpahkan hasil perenungan itu ke dalam sebuah tulisan. Bahkan, tentang apa saja keseharianku, pengalaman yang kualami dengan senang hati kutuang dalam lembaran-lembaran polos yang seketika berubah menjadi bak wajah seseorang penuh jerawat setelah aku membubuhinya dengan huruf timbul. Untung saja di keluargaku tidak ada yang tahu bagaimana cara membaca huruf timbul itu, jadi aku dengan bebas mau menulis hal jelek apapun tentang mereka dan meletakkannya di mana pun yang kumau tanpa perlu khawatir rahasiaku bisa terbongkar.

Ditengah antusiasnya aku dengan hobi baru, pada saat yang bersamaan di sekolah kebetulan ada lomba menulis cerita pendek atau lebih populernya disingkat menjadi cerpen. Aku yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, maka tantangan mengikuti lomba menulis cerpen itu aku terima juga. Hitung-hitung mencoba peruntungan, kali aja ada bakatku di sana. Dan Alhamdulillah, aku mendapat juara satu dari satu peserta. Pesertanya ya aku sendiri. Lantaran tidak ada saingan mau tidak mau akulah yang dijuarakan. Terlepas dari cerpenku itu sudah memenuhi kriteria kepenulisan atau tidak. Namun, apakah aku senang? Apakah aku bangga atas pencappaianku itu? Jawabannya, tidak. Aku merasa bahwa takdir tengah mengolok-olokku. Yang terlintas dipikiranku adalah, “Untuk apa sih aku berharap lebih? Jangan terlalu tinggi deh berharap! Entar kalau jatuh, sakitnya teramat sangat”.

Lagi-lagi aku tak mengindahkan bisikan dari alam bawah sadarku dan malah sebaliknya berharap ditingkat selanjutnya aku pasti bisa tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya aku berbakat. Setelah takdir mengolok-olokku, kini tibalah saatnya ia menertawakanku sampai terbatuk-batuk saking kerasnya ia tertawa terbahak-bahak. Di depan sainganku dari sekolah lain, di hadapan para guru dan siswa-siswi pendukung sekolah masing-masing, dan di depan keluargaku yang juga ikut menontong memberi semangat, para juri memiliki suara yang sama.

“Kamu itu sudah remaja. Seharusnya tulisanmu tidak kekanak-kanakan seperti ini. Dari judulnya saja saya tidak berminat untuk membacanya. Dari paragraf pertamanya saja saya sudah bisa menebak jalan ceritanya seperti apa. Tulisanmu alay! Tidak berbobot! Dan seharusnya kamu tidak usah ikut perlombaan ini!” kata para juri sambil memberikan senyum tanda prihatin yang sayangnya menurutku itu lebih kepada senyum penghinaan.

Baiklah, sampai di situ saja komentar yang bisa kudengar. Sebab aku sudah tak kuat lagi dan pada detik berikutnya aku terjatuh tak sadarkan diri. Belum cukup sampai di situ, notifikasi whatsapp pun tak mau ketinggalan memanfaatkan momen itu.

“Kamu itu sudah merusak nama baik sekolah, Aliah!” whatsapp dari Meta.

“Selamat ya, atas keberhasilanmu mempermalukan nama sekolah!” whatsapp dari Nadira.

“Makanya jadi orang tuh jangan sok jago! Udah tahu sendiri kan, kalau kamu tuh nggak bisa apa-apa! Sadar diri dong… jadi orang!” whatsapp dari Ola.

Dan masih banyak bulian lainnya yang tak ingin kubaca lagi. Daripada menyiksa batinku, lebih baik kuambil langkah untuk membersihkan saja semua pesan di whatsapp yang ujungujungnya membuatku sakit hati sedangkan mereka yang senang.

Semenjak saat itu aku tidak mau lagi tahu menahu tentang literasi. Aku benci menulis, aku benci membaca, dan aku benci semua yang berbau literasi. Perlu waktu dua tahun bagiku untuk dapat berdamai dengan masa lalu. Meski terkadang bulian itu masih saja menghantui pikiranku, akan tetapi semua kujadikan cambukan agar aku bisa berlari dengan kencang.

Dua tahun kemudian, aku kembali dengan aktifitas menulisku. Ya, menulis cerpen, puisi, pantun, artikel opini, kata-kata mutiara yang sebenarnya lebih kutujukan pada diri sendiri, dan catatan harian. Selain itu aku juga banyak belajar dari beberapa sumber tentang kepenulisan yang baik dan benar agar aku dapat mengubah pola kepenulisanku yang masih keliru. Aku juga bergabung dengan beberapa komunitas literasi semata-mata untuk mendalami dan memperluas cakrawala pengetahuanku seputar literasi. Hingga suatu ketika salah satu komunitas yang kuikuti menyelenggarakan suatu even membuat sebuah buku antologi puisi dan kata-kata motivasi. Kesempatan itu tentu tak kusia-siakan begitu saja. Terlepas dari juara atau tidaknya, semua naskah dari peserta akan dibukukan. Apalagi salah seorang mentor kepenulisan di komunitas tersebut kerap mengatakan bahwa tidak ada karya yang bagus atau pun yang jelek, yang ada itu karya yang biasa dan luar biasa. Tergantung penilaian masing-masing.

Ada penulis yang menganggap karyanya biasa-biasa saja, akan tetapi bagi pembaca itu adalah karya yang luar biasa. Sebaliknya, ada penulis yang mengira karyanya sudah luar biasa, akan tetapi di pembaca biasa-biasa saja.

Berbekal ilmu yang kudapat secara autodidak, motivasi-motivasi dari rekan-rekan di komunitas, dan dorongan serta kesadaran dari dalam diri membuatku memantapkan langkah mengirimkan naskah yang sekiranya layak untuk dipublikasikan di beberapa majalah dan website. Alhamdulillah sampai saat ini terhitung sudah empat naskah yang dimuat di majalah dan delapan naskah di website. Selain itu, aku juga membuat blog pribadi sebagai wadah untukku menyalurkan minat dan hobiku. Oh ya, teruntuk even buku antologi, sejauh ini sudah tiga yang aku ikuti dan dua diantaranya aku terpilih sebagai juara harapan. Namun, apakah aku sudah puas berada di titik ini? Jawabannya, tidak. Bukan lantaran aku tiada mensyukuri, akan tetapi sudah menjadi kodratnya manusia yang tak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Terlebih di bidang ilmu pengetahuan, sudah sepatutnya manusia tidak boleh merasa puas. Sebab jika demikian, manusia akan berhenti menyelami dalamnya samudra ilmu yang begitu luas.

Mengenai cita-citaku yang ingin berkeliling dunia apakah masih kuimpikan? Tentu saja! Bukankah seorang penulis yang ingin menciptakan sebuah karya yang terasa nyata dirasakan oleh penulis dan pembacanya harus melakukan sebuah penelitian terlebih da hulu? Meskipun sudah banyak media yang menyajikan tempat-tempat tertentu dalam bentuk tulisan, audio, video, maupun audio visual. Namun akan berbeda sensasi, kesan, dan perspektif yang bisa diberikan oleh masing-masing individu. Jadi, menjadi penulis juga butuh wisata, butuh keliling dunia. Dan aku rasa Tuhan akan mengabulkan cita-citaku sejak kecil, dengan skenario terindah yang telah dituliskan-Nya padaku. ***

Foto Diri Penulis, Mifta Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh, halo teman-teman! Perkenalkan namaku Miftah Hilmy Afifah. Kalian bisa memanggilku Afifah. Umurku 21 tahun. Aku kelahiran 2 Maret tahun 2000. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Saat ini aku berstatus mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Selain itu, aku juga seorang penyiar di salah satu radio online Indonesia. Hobiku menulis, membaca novel, mendengarkan musik, dan memasak. Kalau kalian ingin kenal lebih dekat denganku, bisa ikuti instagramku di @afifah.pisc atau facebook Miftah Hilmy Afifah. Terima kasi karena sudah membaca karyaku ini dan mohon do’a dan dukungannya agar aku tetap semangat dalam berkarya.

2 comments for "Stop Insecure!"

  1. Cerita yang menyentuh dan memotivasi....
    "Tidak ada karya ya baik atau jelek, yang ada hanyalah karya yang biasa atau karya yang luar biasa. .

    ReplyDelete