Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merdeka Bukanlah Surga, Tapi Amanah!

Momentum dirgahayu Republik Indonesia yang tiap tahunnya diperingati dengan perhelatan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di seluruh pelosok tanah air selalu mengantarkan kita pada semangat kemerdekaan 1945. Terlebih, hikmatnya upacara pengibaran bendera Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia dan ditayangkan secara eksklusif oleh media Nasional tak pernah luput dari pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan. Satu rangkaian acara tersebut seolah menggambarkan suasana keharuan yang terjadi di depan rumah Bung Karno pada 17 Agustus 1945, tepatnya pada pukul 10.00 WIB.

Gambar Patung Pemuda di Studio Gelap

Keharuan tersebut merupakan satu bentuk kesyukuran atas lamanya penantian rakyat pribumi untuk bebas dari praktek kolonialisme baik Belanda, Inggris, Portugis maupun Jepang. Karena sesuai dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Setiap bangsa, bahkan manusia berhak atas penentuan nasibnya sendiri-sendiri.

Amanah Untuk Meneruskan Bangsa yang Berdaulat

Segala gambaran mengenai sepak terjang para aktor pejuang NKRI yang telah terlukis dalam bentuk verbal di atas kertas buku-buku pelajaran, sejarah bahkan media-media modern dapat membuat kita memahami akan keseriusan mereka dalam melahirkan negara yang berdikari. Segala bentuk perlawanan yang bersifat kedaerahan, pembentukan organisasi yang pro terhadap kepentingan pribumi, peristiwa Rengasdengklok, aksi diplomatik Bung Karno, dan segala bentuk dialektis di kalangan tentara PETA bentukan Jepang bukanlah kaleng-kaleng. Semuanya dilakukan dengan kerelaan berkorban demi satu gagasan yang sama, yakni merdeka.

Kita selalu mendengarkan, nasehat-nasehat para figur kondang agar menghargai seluruh jerih payah para pejuang kita di masa lalu. Senantiasa melanjutkan estafet demi mewujudkan cita-cita Indonesia yang sangat luhur. Namun, bagaimana kita menyikapi amanah yang dipercayakan di atas pundak kita tersebut?

Bung Karno dalam pidatonya menyebutkan, bahwa kita tidak perlu menunggu sejahtera untuk merdeka. Namun, karena merdeka itulah, maka kita akan bergerak menuju sejahtera secara mandiri. Karena merdeka itulah, maka anak-anak diajarkan ilmu pengetahuan oleh kita-kita yang memegang roda pemerintahan. Dan karena merdeka itulah, maka kita bisa mencukupi kebutuhan perut masyarakat. Hal ini berarti, Bung Karno telah mengantisipasi sebuah narasi-narasi negatif tentang hakikat kemerdekaan bagi Indonesia.

Kemerdekaan bukanlah garis Finish. Justru merupakan awal dari perputaran roda kehidupan bernegara yang baru. Negara yang bebas dari kerja paksa, negara yang mengakomodasi kepentingan seluruh rakyatnya tanpa diskriminatif, serta negara yang aman tenteram lingkungannya. Semua itu adalah tugas-tugas selanjutnya setelah keberhasilan mengumandangkan semangat merdeka di pelosok Nusantara.

Peranan Pemuda Dalam Konteks Pembangunan

Seperti diketahui, Indonesia bahkan mengalami keadaan ekonomi yang kacau pasca proklamasi kemerdekaan. Peralihan kekuasaan menjadikan adanya penyesuaian pula pada sistem pemerintahan. Akibatnya, ketegangan kerap terjadi antara kaum pelajar dengan pihak-pihak pemerintah di masa orde lama.

Proses dialektis masih akan terus berputar. Penyelenggaraan bernegara seperti pendidikan, ekonomi, informasi, politik, dan masalah-masalah sosial masih menjadi pembenahan dan tak pernah absen dalam rencana-rencana kerja pemerintah. Masih akan ada yang bilang tidak terhadap suatu kebijakan, ada pula yang mendukung kebijakan tersebut.

Sekali lagi, negara kita benar-benar telah merdeka. Tak ada lagi penjajahan, dan roda pemerintahan dikendalikan oleh putera-puteri bangsa. Walau begitu, pengetahuan meriwayatkan bahwa upaya kontrol terhadap pemberlakuan kebijakan harus tetap dilakukan. Itulah sebabnya mengapa harus ada suara-suara dan bacaan aspiratif yang memuat curahan hati rakyat. Sejauh mana kita berhasil menyekolahkan anak-anak? Sejauh mana kita berhasil menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada mereka? Sejauh mana kita berhasil memberikan layanan kesehatan, penyediaan pekerjaan bagi masyarakat? Itulah upaya partisipatif kita bersama.

Kalangan yang enerjik, ialah anak-anak muda. Serba ingin tahu, dan senantiasa menjaga eksistensi dirinya. Kitalah sosok yang diharapkan mampu mendominasi panggung kreatifitas dalam menjaga stabilitas sosial kemasyarakatan. Di sinilah peranan content creator, content writer dan influencer. Dengan daya kreasi dan inovasi, maka lahirlah satu gagasan yang dikemas dalam sebuah konten untuk kemudian menjadi bahan tinjauan bagi pemangku kebijakan, pun sebagai upaya edukasi bagi masyarakat secara umum.

Tidak sebatas menjadi penyeimbang birokrasi, namun anak-anak muda juga banyak yang terjun ke dalam eksekutor pemerintahan. Bahkan, anak-anak muda sudah banyak didapati mengisi stok-stok DPRD di berbagai daerah. Harapannya adalah, anak-anak muda yang tergabung dalam garis pemerintah tersebut mampu membawakan warna baru dan inovasi dalam struktur pemerintahan.

Lagi-lagi, kita benar-benar telah merdeka. Nasib bangsa berada di genggaman kita. Terlebih anak-anak muda, yang selalu disebut-sebut sebagai generasi penerus bangsa. Lantas, apa kini yang menjadi alasan bagimu anak-anak muda yang masih saja apatis terhadap lingkungan sekitarmu?

Zaman orde baru telah dilalui beberapa tahun belakangan. Era reformasi telah mengamanahkan kebebasan berekspresi, dan mengemukakan pendapat untuk seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih dengan pesatnya perkembangan jalur-jalur komunikasi. Berbagai platform online kini bermunculan sebagai media-media yang mampu menjawab kebutuhan anak-anak muda dalam mewujudkan eksistensinya.

Pesatnya teknologi dewasa ini jangan sampai hanya akan menjadi candu bagi kita anak-anak muda. Candu untuk menjerumuskan kita ke dalam lubang-lubnang apatisme ataupun hedonisme. Ingat bahwa bangsa membutuhkan gagasan positif dari sosok yang enerjik. Terlebih di saat bangsa mengalami suatu bencana yang berakibat fatal dalam dua aspek kehidupan, yakni kesehatan dan ekonomi.

Saatnya Pemuda Disabilitas Bergerak!

Sebagai wujud perjuangan dalam meneruskan kemerdekaan ke arah negeri yang berdaulat, adil dan makmur seperti yang telah disuratkan dalam Pembukaan UUD 1945, kampanye kesetaraan untuk semua kalangan masyarakat juga harus tetap digencarkan. Berbagai organisasi yang memikul kepentingan kelompok marjinal kini bermunculan dan masif menyerukan lingkungan yang inklusif.

Masyarakat disabilitas misalnya. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk memoderatori sebuah webinar kepemudaan khusus disabilitas yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas pemuda mahasiswa dan pelajar disabilitas Makassar yang bekerja sama dengan komunitas dari pulau Jawa. Kegiatan itu diikuti oleh mahasiswa disabilitas yang tersebar dari sabang sampai merauke. Faktanya adalah, secara kuantitas, jumlah mahasiswa disabilitas ternyata jauh lebih banyak dari yang saya duga.

Jumlah ini sepatutnya mampu memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap keterlibatan anak-anak muda dalam pembangunan Nasional. Bukan karena kedisabilitasan, maka seseorang tidak dapat berekspresi dan mengemukakan pendapat di ranah publik. Justru untuk memantik perhatian publik terhadap eksistensi anak-anak muda disabilitas, peranan kita dalam integrasi masyarakat sangatlah menentukan.

Bangunlah chemistry dengan kawan-kawan sepemikiran, beranikan diri untuk mengeluarkan gagasan di muka umum, dan turut berperan aktif dalam urusan kemahasiswaan, ataupun kepemudaan yang bergerak dalam isu-isu sosial kemasyarakatan.

Jadilah pemuda yang mempunyai konsep problem solving yang mempuni, kemampuan manajerial sehingga mampu dan berani mengelola resiko serta menghadapi tantangan. Jauhkan diri dari hal-hal yang bersifat instan, sebab tak selamanya hal tersebut akan berjalan terus-menerus. Ingat bahwa kedisabilitasan tidak selamanya harus meminta, namun berjuang agar lingkungan menjadi ramah.

Teknologi yang ada telah memberikan kemudahan bagi kawan-kawan disabilitas untuk berinteraksi bahkan menyelesaikan tugas sehari-hari. Maka alangkah manjanya seorang mahasiswa disabilitas yang masih saja berpangku tangan terhadap kemudahan-kemudahan, pemakluman-pemakluman, ataupun kenyamanan-kenyamanan yang menghegemoni sehingga meneggelamkan daya kreasi diri. Sekali lagi ingat, bahwa satu orang disabilitas terkadang dijadikan representasi dari satu jenis kedisabilitasan. Mudahnya, jangan sampai citra disabilitas secara umum yang penuh daya juang, semangat hancur lebur atas ulah diri sendiri.

Perbanyak kontribusi, janganlah pasif. Saatnya putera-puteri disabilitas menguatkan barisan, muncul ke permukaan, serta ikut andil dalam kontestasi pembangunan. Ayo masuk BEM, berorganisasi, membuat konten positif, adakan forum diskusi, ikut kegiatan webinar, workshop dan sejenisnya, serta yang paling penting adalah, miliki kemampuan manajerial yang baik. Semoga para pembaca yang budiman termasuk ke dalam anak-anak muda yang produktif, berkarakter, yang penuh dengan energi positif.

* Artikel Utama dari Redaksi, Ismail Naharuddin

Post a Comment for "Merdeka Bukanlah Surga, Tapi Amanah!"