Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NLP Dalam Hidup, Sebuah Implementasi

Penulis: Sujono Said

Apa sih NLP itu? Kok penting banget katanya bagi penulis?. Emang NLP itu bisa buat makan?, Cari uang?, atau apa?. Maka dari itu, izinkan penulis berbicara tentang apasih NLP itu.

Gambar Seseorang Membaca di Perpustakaan

NLP, adalah singkatan dari 3 suku kata yaitu "Neuro", "language", dan "program". Jadi, NLP adalah singkatan dari Neuro Languistic Program, atau Program Bahasa Syaraf.

Jika disederhanakan, maka NLP dapat diartikan sebagai alat kendali pikiran yang akan memberikan impact kepada diri, orang sekitar dan semesta. Dari semua ini, penulis ingin mengatakan bahwa NLP dapat membantu kita menyiasati keadaan termasuk ketika berada dalam keadaan yang tidak lazim sekalipun.

Sebagai bahasa pemrogram syaraf, kita dapat mengendalikan syaraf dalam tubu kita lewat pikiran, kata, tindakan dan lain-lain sebagainya. Ketika membaca buku motifasi, tentu kita sering menemukan sebuah idiom yang berbunyi, “awasi perkataanmu, karena ia akan menjadi pikiranmu, awasi pikiranmu, karena ia akan menjadi karaktermu, dan awasi karaktermu, karena ia akan menjadi nasibmu”. Hal ini, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “Katakanlah ya Muhammad! Jika ada hambaku yang bertanya kepadamu tentang di mana aku, katakanlah bahwa aku sesungguhnya dekat”.

Hal ini, dipertajam dalam ajaran Islam yang mengatakan bahwa kata, ucapan, dan prasangka adalah doa. Pun sejalan dengan Alkitab bagi saudara-saudara yang beragama Kristiani yang berbunyi, “Mukjizat itu dekat di mulutmu”. Setelah penulis banyak menerangkan hal yang sepadan dengan ajaran agama yang ada, maka penulis ingin mengatakan tentu sesuai dengan bahasa penulis bahwa, NLP mengajarkan agar kita berkata, berpikir, dan bersangka baik.

Kita masuk ke contoh kasus. Ketika kita selalu mengatakan bahwa kita tidak mampu, maka akan tertutup jalan kita untuk itu. Contoh, saya tidak mungkin naik haji missal. Mungkin, secara logika benar. Tapi, ketika kita selalu mengatakan bahwa saya akan naik haji pada usia 26, maka IInsya Allah kita akan mampu mewujudkannya. Mengapa demikian? Karena, ketika kita mengucapkan kata-kata itu, energi positif akan masuk ke dalam aliran darah, alam pikiran, dan terpancar ke seluruh anggota tubuh kita. Sehingga kita akan berusaha dengan semangat. Dengan begitu, Allah membuka jalan.

Sebagai manusia, kita memang secara kodrati harus melakukan berbagai usaha. Namun dengan kata, tindakan dan pikiran positif yang tertanam dalam diri kita, maka Insya Allah, Allah beserta semesta dan kondisi sekitar akan mendukung kita.

Selama kita manusia, pastilah kita diperhadapkan dengan kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Itulah, kondisi yang penulis katakan sebagai kondisi yang tidak lazim. Dalam kondisi inilah, NLP sebagai mesin yang oleh kita sebagai tuannya, pikiran kita pekerjakan. Pernah suatu waktu, penulis berada dalam kondisi yang secara logika tidak memungkinkan untuk membeli kopi lantaran tanggal tua, maka penulis bilang bahwa Insya Allah kita akan lalui ini. Hal itu penulis ucap dengan penekanan. Hingga akhirnya, Allah menunjukkan kuasanya lewat seseorang yang ngasih pembeli kopi.

Pernah pula, suatu kali penulis marah ketika mendengar kata-kata yang kesannya selalu cari rebut dengan penulis. Waktu itu, kebetulan dengan adik penulis sendiri. Tetiba, ia meminta penulis untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin penulis lakukan dengan nada memaksa. Secara kebetulan, penulis lagi duduk santai. Karena penulis dalam keadaan marah sebab ditindas, pennulis tidak melakukan perlawanan apalagi menurutin kehendaknya. Oh no! Lalu, apa yang penulis lakukan? Penulis lebih memilih duduk dan diam.

Namun, diamnya penulis tak berarti penulis lemah, melainkan menggunakan teknik NLP yang disebut visualisasi. So, dalam keadaan marah, membayangkan diri memukul dan meninju adik penulis sekeras mungkin. Namun, penulis tetap mendengar reaksinya yang semakin murka, dan mengatai penulis budek dan malas. Namun begitu, penulis semakin mempertajam visualisasi penulis dengan kemarahan yang membuncah. Memukul dan meninju fisik adik penulis. Hingga akhirnya, tidak ada keributan. Walau begitu ia semakin marah kepada penulis. Namun, orang sekitar, merespon baik langkah penulis.

Terus terang, yang namanya berkelahi bukan fashion penulis. Karena selain penulis bukan jago berkelahi lantaran sekali tendang penulis jatuh tersungkur dan mencium tanah air, bagi penulis dan tentu kita semua sebagai cendekiawan dan cendekiawati berkelahi adalah tindakan merugikan diri sendiri dan orang lain.

NLP, juga berperan penting dalam hal mewujudkan kesuksesan. Terutama, dalam hal memutuskan sebuah pilihan di antara ribuan pilihan yang kebenarannya secara logika dan realita tak mungkin dibantah oleh argumentasi dan dalil apapun. Sehingga, kita harus memadukan akal, dan suara yang ada dari hati terdalam kita sebagai pemberian tuhan.

Nah! Kita semua tentunya tahu bahwa orang kebanyakan punya prinsip bahwa apa yang ada di hati kita langsung saja dieksekusi tanpa memikirkan suara hati atau gejala-gejala yang ada. Makanya, banyak orang yang salah langkah, dan itu terjadi seringkali. Padahal, yang namanya suara hati bisa muncul lewat gejala-gejala alam, saran orang-orang sekitar, dan lainnya. Saran orang-orang terdekat, juga tidak ditelan mentah-mentah, namun kita juga menggunakan akal untuk menimbang saran mereka.

Namun, ketika anda belum punya pengalaman yang cukup, maka harusnya kita mengikuti saran orang terdekat kita, walaupun itu belum tentu benar adanya. Namun, di tengah perjalanan ternyata ada hal yang kurang berkenan, dan membuat kita belum mencapai apa yang anda ingini, bukan berarti anda "Gatot" ( Gagal Total ). Boleh jadi, apa yang menjadi temuan kita akan menjadi reverensi dan pengetahuan baru buat kita untuk melakukan efaluasi. Makanya, dalam kondisi tertentu, kita harus berhenti bertindak.

Berhenti bertindak, atau menunda untuk melakukan sesuatu adalah momen dimana kita mendengar suara hati melalui kontemplasi atau permenungan, atau tindakan yang diilhami oleh pikiran kita. Makanya, dalam dunia hipno teraphy dan NLP, kita dalam sehari harus hening selama beberapa menit. Bisa dengan duduk santai di tempat yang sepi, dan teduh sambil mendengar suara musik atau suara alam seperti suara burung.

Atau, sebagai seorang umat beragama, kita boleh menggunakan ritual seperti shalat bagi yang muslim. Karena dalam keheningan di waktu shalat terutama shalat tahajjut, kita dapat menemukan suara hati kita. Begitu juga dengan doa malam bagi yang Nasrani, sebelum beranjak ke tempat tidur. Mengapa? Karena, dengan saat yang teduh, kita akan merasakan suara hati kita, dengan keheningan, kita akan lebih memaksimalkan pikiran dan hati untuk kembali ke masa lalu, dan menciptakan masa depan.

Sebagaimana telah penulis paparkan pada coretan sebelumnya, ada 3 cara kerja NLP yang harus kita lakukan. Pertama yaitu afirmasi, yaitu menanamkan apa yang kita ingin capai. Makanya, setelah kita melakukan apa yang menjadi rencana kita, maka ada namanya efaluasi. Efaluasi dapat dilakukan melalui introspeksi, yaitu merenungi apa yang telah kita lakukan. Setelah kita menemukan apa yang salah dalam tindakan kita. Maka berjanjilah untuk memperbaikinya, dan tanam janji itu baik-baik dalam pikiran kita. Kedua, yaitu repitisi. Repetisi, berasal dari kata repit atau "mengulang". Jadi setelah kita berjanji memperbaiki yang kurang sana sini, maka ulangi kembali janji anda.

Setelah anda menyadari kekurangan sana sini, mengafirmasikannya secara berulang, maka langkah terakhir adalah visualisasi. Jadi, setelah anda bekerja, lakukan efaluasi, afirmasikan apa yang menjadi resolusi atau hasil permenungan dan bayangkan anda telah melakukan pekerjaan anda secara sempurna tanpa cela dan beraktivitaslah.

Maka dengan begitu, NLP akan mengantarkan anda bukan hanya sukses secara finansial dan karir, namun juga sukses dalam menjalani hidup dengan tenang.

Mengapa demikian? Karena NLP akan membantu anda untuk mengelola tindakan dan pikiran anda. Sehingga dengan demikian, anda akan memaksimalkan anugerah Tuhan yang ada dalam diri anda. Yang mana itu? Yaitu kemampuan memadukan akal, piker dan mata batin. Sehingga dengan begitu, anda dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa akan menjadi tuan bagi pikiran dan perasaan anda sendiri, Insya Allah!

Bagi penulis, walaulah bukan seorang trainer dan pakar yang expert dalam bidang tersebut, tapi penulis sangat merasakan manfaat belajar mengenai NLP. Bagi penulis, NLP yang kata para pakar adalah ilmu memodel sesuatu, atau metamodel menurut seorang pakar NLP di era 70-an sangat membantu penulis menyiasati pelbagai keadaan.

Ketika penulis marah, maka dengan NLP, penulis dapat membendung tindakan yang mungkin merugikan diri dan orang lain. Pun, ketika penulis stress maka penulis dengan NLP mampu menyiasati keadaan. Tentu tergantung apa pemicu stresnya. Misalnya, stress ketika diperhadapkan dengan sebuah masalah yang belum menemukan titik temu, maka penulis berhenti sejenak dari aktivitas penulis seperti membaca berita sampah, atau mengintip group obrolan atau group penting di social media. Karena, jika tetap dengan aktivitas lantas ada beban yang dipikul akan semakin membuat kepala pusing. Dengan begitu, penulis akan memilih menyendiri, atau mengobrol dengan orang sekitar, atau bertandang ke rumah kawan untuk sekadar mengobrol, atau berkaraoke ria.

Selain itu, bagi penulis sebagai seorang muslim lebih banyak menggunakan shalat dan doa untuk menanamkan atau mengafirmasi dan merepitisi keinginan penulis. Setelah itu, barulah penulis memvisualisasikannya dengan berjalan seperti setrikaan sembari senyum sendiri bak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Apa yang penulis lakukan sejak kecil, ternyata setelah penulis banyak belajar akhirnya faham bahwa itu adalah bagian dari memodel keadaan dengan menggunakan akal, hati dan mata batin kita. Dan itu, adalah cara yang penulis ciptakan sendiri sebagai teknik memvisualisasi keinginan.

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Nama sujono said. Tempat tanggal lahir Selayar, 21 Februari 1987. Lebih senang dipanggil kak jono sejak mahasiswa sampai kakek-kakek. Hobi menulis, membaca, ngopi dan karaokean.

Post a Comment for "NLP Dalam Hidup, Sebuah Implementasi"