Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teman Masa Kecil

Karangan: Miftah Hilmy Afifah

Umam. Itulah namamu. Lengkapnya Umam Arjuna Malik. Lara Ovita kakak perempuanmu, sedangkan saudara tertuamu adalah kak Yana. Dulu, kita adalah teman sekelas. Aku tidak mungkin lupa padamu, sedangkan kamu …! Ahh, entahlah.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Mam, apakah kau lupa? Kita pernah mengukir hari-hari bersama. Bermain ayunan di samping rumahmu, bersama belajar mengaji di rumah pak Suprin, dan ahh... masih jelas di ingatanku akan tangismu di Gang Tepuk Tangan. Itu lho. Di samping rumah Pak Suprin, Kau merengek kepada si Oma, minta dibelikan martabaknya mas Kuning. Ya, tentu saja mas Kuning bukanlah nama sesungguhnya. Dia dipanggil demikian lantaran suka mengenakan helm kuning setiap kali berjualan.

Mam, dulu kita juga sering main sulap-sulapan. Bersama Misya, Rama, dan Wina. Betapa indahnya! Sayang, tampaknya kau sudah melupakan semuanya. Ohh... Betapa tega engkau, Teman Masa Kecilku!

Aku mengusap kasar wajahku. Berharap hal tersebut akan dapat mengusir kegetiran yang cukup menodai masa-masa orientasi Mahasiswa baru yang sedang kujalani. Ya, seharusnya masa itu menjadi masa-masa menyenangkan apabila dikenang, meskipun menyesakkan saat dilalui. Akan tetapi, kawan, ada satu hal yang membuatku tercengang, sekaligus menyeret ingatanku kembali ke masa dua belas tahun silam,

pada kisah kasih di Putih Merah. Hampir saja aku berlari memeluk sosok itu jika super egoku tidak keburu memperingatkanku. Aku ini perempuan, tak pantaslah jika memeluk seorang laki-laki. Tak peduli dia itu teman masa kecilku. Sebagai gantinya, monolok demi monolok segera menyesaki benakku, melebihi kemampuan kafasitas otakku.

Apakah dia Maba juga? Tapi rasanya tidak mungkin. Dulu kami sekelas, sedangkan selepas SMA, aku mengambil jeda dua tahun untuk menyegarkan syaraf-syaraf otakku yang terus-terusan berpikir selama dua belas tahun. Maka, aku menyimpulkan bahwa dia adalah Katingku. Tapi, sejak kapan dia menetap di kota ini?

Kalau memang sudah lama, mengapa aku baru mengetahuinya sekarang? Ah, apakah dia memang orang yang dulu kukenal? Jangan-jangan hanya mirip, dan aku terlalu berlebihan dalam bereaksi. Lagipula, jika dia memang orang yang sama, mengapa tak sedikitpun menyadari keberadaanku? Oh … haruskah aku menyapanya? Tapi, bagaimana kalau salah orang?

"Aww!" jeritku, ketika menabrak kursinya. Ya, tentu saja itu sebuah kesengajaan. Aku memang sudah memutuskan untuk memberanikan diri mencuri simpatinya.

“Eghh... Dek, hati-hati jalannya! Sini, kakak bantu.”

Sialan! Dia memang melupakanku. Pakai panggil Dek segala lagi! Kesal? Tentu saja. Akan tetapi, sebisa mungkin aku berpikir positif. Bisa jadi dia hanya ingin bersikap professional di depan teman-temannya.

Hari itu aku tetap mengikuti pembukaan Resfak alias orientasi Fakultas dengan semangat. Semangat itu terus bertahan sampai aku pulang ke rumah dan memutuskan untuk mencari di grup whatsapp angkatan mahasiswa baru kontak cowok misterius yang kupikir adalah teman masa kecilku. Tentu saja, aku akhirnya tahu kalau dia adalah salah satu panitia. Dengan demikian, kontaknya sudah pasti ada di grup tersebut.

Kubuka grup wa. Saat itu sudah ada dua ratus lima puluh tujuh pesan yang belum dibaca. Aku pun memutuskan untuk terlebih dulu membaca pesan-pesan tersebut. Siapa tahu ada instruksi dari kakak-kakak panitia. "Yes!" Sorakku dalam hati. Bagaimana tidak. Salah satu pesan yang kubaca adalah pesan si cowok misterius itu.

"Jgn pd bgadang ya! Biar bsk smangat di hr prtama Resfak."

Tanpa ba bi atau pun bu lagi, aku mengetuk kontak tersebut kemudian bergegas mengiriminya pesan. Sayangnya, keterangan whatsapp memberitahuku jika si cowok sedang Luring. Aku pun menyabarkan hati menanti balasan. Ahh atau sekadar dibaca! Sedetik, semenit, sejam, dan aku tertidur pulas sampai keesokan harinya.

Resfak dimulai jam enam pagi, di GOR Universitas. Pertama, kami disuruh berbaris, bikin yel-yel pleton, kemudian memakan bekal 3T yang kami bawa. Yaitu tahu, tempe, telur. Dalam hal ini, tidak boleh ada yang berbeda lauknya. Sebab, jika sampai hal tersebut terjadi, maka akan ada sanksi yang diterima.

Selepas itu, resfak dilanjutkan dengan mendaki gunung, mendengarkan penyampaian materi, games, diskusi, dan ahh... pokoknya masih ada lagi! Aku lupa namanya. Oh ya, sepanjang hari itu aku tidak menemukan jejak si cowok misterius. Tentu saja batinku bertanya-tanya, ke mana dia? Seharusnya dia hadir di kegiatan ini, karena dia salah satu panitia.

Malamnya, aku kembali mengecek pesan yang kukirim untuknya. Hasilnya, masih belum dibaca. Oh God! Seberapa sibuk dirinya? Terakhir daringnya jam empat sore. Di grup juga tidak muncul. Haaahh... sudahlah! Aku memang terlalu berharap jumpa dengan kawan lamaku. Seandainya waktu itu aku sudah punya gawai, tetapi ahh... buat apa disesali? Waktu itu gawai masih jarang. Yang pegang pun dari kalangan tertentu. Aku, tentu saja tidak masuk kalangan tertentu itu. Aku masih kecil. Gawai dikhawatirkan akan mengganggu fokus belajarku.

Aku membatin sedih. Ahh... andai saja Tante Risma dulu nggak pindah kerja, pasti aku masih ada di tengah-tengah kalian sekarang. meskipun kita kini ada di jalan masing-masing. Setidaknya, aku akan tetap ada di hati kalian. Umam, Wina, Rama, aku rindu kalian! Sampai detik ini, aku terus mencari jalan agar kita dipertemukan kembali.

Sampai saat ini, dari semua kawan masa kecilku, hanya Misya yang masih bisa kuhubungi. Aku memang masih ingat alamatnya. Beberapa tahun lalu aku coba mengirim surat ke sana melalui pos. Ya, meskipun kedengaran agak jadul, tetapi bodoh amatlah. Yang penting bisa tetap berkomunikasi, bukan? Sayangnya, balasan yang kuterima bukan dari Misya, melainkan orang lain. Inti surat tersebut mengatakan bahwa Misya sudah ikut kakaknya pindah ke Papua empat bulan sebelumnya. Untungnya, si pembalas surat berbaik hati menyertakan alamat Misya yang baru di dalam suratnya. Jadilah aku tetap bisa berkomunikasi dengan Misya hingga sekarang.

Aku kembali mengecek whatsapp sebelum kembali ke peraduan untuk mengembalikan tenaga yang sudah terkuras sepanjang hari. Kontak si cowok terpampang di deretan paling atas. Keterangannya sedang mengetik, dan ada satu pesan yang belum dibaca. Aku pun bergegas membukanya.

"Waalaikumsalaam, Dek."

Agghh! Masih saja dia menyapaku dengan sebutan itu. Menyebalkan!

Pesan kedua pun masuk. "Jangan begadang, ya!" cuma itu. Huh, kalau dia bukan orang yang sebenarnya kucari, mana mau aku chatingan dengan manusia sekaku ini!

“Kak, saya mau tanya. Boleh?”

Karena dia terus memanggilku dek, terpaksalah aku memanggilnya kak. Hitung-hitung sebagai upaya saling menghargai antara kakak dan adik tingkat. Siapa tahu ini juga bisa jadi kejutan ketika dia menyadari siapa aku sebenarnya.

“Tanya aja! Mau tanya apa?” balasnya.

“Dulu, dari TK sampai SD, kakak sering dipanggil Maam ya?”

“Hehe, kok tahu?”

“Kakak saudaranya Kak Lara sama Kak Yana, kan?”

“Yaah, kok tahu?”

“Kakak dulu sekolah di SDN Bujur Sangkar, kan? Teman sekelasnya Wina, Rama, dan Misya?”

“Semua itu benar, Dek. Kira-kira, dapat informasi dari mana ya?”

Rasa haru memenuhi hatiku. Ternyata dugaanku benar. Dia Umam, teman lamaku. Akan tetapi, mengapa dia melupakanku? Apa mungkin dia amnesia? Ahh, rasanya tidak mungkin! Dia mengingat semuanya, kecuali aku. Rasa sedih mulai merayapi hatiku, tetapi aku tetap berusaha berpikir positif. Mungkin dia tetap mengingatku, tetapi lupa pada namaku. Biar bagaimanapun, dulu kami se-geng. Aku pun memberanikan diri mengembalikan memori ingatannya.

“Ini aku Kalis, teman lamamu. Dulu waktu SD kita sering main bareng, kita punya geng Lima Masketir. Kita berlima sering main ayunan, arisan, tukaran binder. Ahh, kamu ingat, kan? Kita juga dulu sama-sama mengaji di rumah Pak Suprin.”

Jantungku berdebar-debar saat mengetikkan semua itu. Refleks aku membayangkan reaksinya di seberang sana. Pasti dia kaget. Pasti dia akan bilang sama Mama-Papanya bahwa aku masih hidup. Pasti dia sekarang jingkrak-jingkrak mengingatku. Pasti dia …, pasti dia …!

Ahh, nyatanya semua serba tak pasti, dan jariku melemas setelah sejam menanti balasan yang tak kunjung tiba. Di saat seperti itu, ternyata hatiku masih bisa mengalirkan energi positif. Mungkin saja dia sudah mengantuk dan langsung tidur, sehingga tidak sempat lagi membalas chatku. Aku pun memutuskan mematikan gawai, kemudian beranjak tidur. Aku berharap, saat terbangun esok pagi, aku akan menemukan balasan yang melegakan. Umam, selamat tidur! Mimpi yang indah ya.

Aku terjaga enam jam kemudian. Aku bergegas mengambil wudhu, lantas mengerjakan shalat subuh. Aku sedang malas mandi pagi, toh juga nanti resfaknya di sungai, jadi sekalian mandi di sungai saja. Kendati demikian, aku bertekad tampil sempurna. Sebab, nanti Umam pasti menyapaku duluan. Lantas bernostalgia dengan menceritakan kembali masa lalu kami berdua, lalu kepada semua orang dia akan mengakuiku sebagai best friend forever. Ohya, selama kegiatan resfak berjalan, kami tidak diperbolehkan memainkan gawai. Jika ketahuan ada yang melanggar, dipastikan gawai si pelanggar akan disita sampai waktu resfak berakhir. Oleh karenanya, aku pun memutuskan untuk tidak membawa gawai saja.

Sebelum menyusuri sungai, seperti biasa para Mahasiswa baru disuruh berbaris dan melakukan berbagai ritual pemanasan. Saat itu, Umam yang menjadi komandonya. Ya, segera saja kumanfaatkan kesempatan itu. Beberapa kali aku melakukan gerakan yang seharusnya bisa menarik simpatinya. Sayangnya, dia sama sekali tidak peka. Dia tetap fokus dengan gerakan senamnya sambil memberi aba-aba. Malah Kristal yang berada di sebelahku yang merasa aneh melihat tingkahku.

“Lo ngapain sih? Naksir ya sama abang-abang itu?” komentarnya. Aku hanya bisa menjawab dengan senyum simpul. Bukankah sebentar lagi semua akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara aku dan Umam?

Ketika jam istirahat, Mahasiswa baru dipersilakan membuka bekal dan menikmatinya bersama-sama. Kulihat Umam berpatroli mengawasi suasana agar selalu kondusif. Mataku berpapasan dengan matanya, tetapi tidak tertangkap sedikit pun tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa dia mengenalku. Justru tatapan dingin yang kutemukan. Ohh … Umam, ada apakah gerangan? Apakah kaubenar-benar sudah melupakanku? Atau kaumembenciku karena meninggalkanmu, meninggalkan kisah kita dan janji untuk selalu bersama selamanya? Aku membatin sedih.

Oh God, tak tahukah dia? Aku pergi bukan atas keinginanku. Tanteku dimutasi, mau tidak mau aku pun harus ikut. Aghh, kalau saja dia tahu, aku tidak pernah melupakan janji kami berlima! Aku juga tidak sedetik pun melupakan kenangan kami.

“Kamu sehat, Dek?” tanya Kak Syahna, Kating yang sejak tadi memerhatikanku tanpa aku sadari. “Kalau kurang sehat, istirahat saja! Daripada nanti kenapa-napa.”

“Nggak kok, Kak. Saya baik-baik aja,” jawabku, berusaha terlihat baik-baik saja.

“Oh, ya sudah. Yuk, itu teman-temanmu sudah berkemas, mau join game education!” ujarnya seraya berlalu.

Aku benar-benar kehilangan semangat mengikuti resfak. Yang kuinginkan hanyalah segera pulang dan mengistirahatkan tubuh, juga perasaanku yang rapuh. Ya, rapuh serapuh-rapuhnya!

Saat senja menjelma malam, dan lelah mengejawantah kantuk, aku pun memutuskan untuk tidur. Namun sebelumnya, aku menyempatkan membuka whatsapp. Siapa tahu ada notifikasi penting. Tanpa bisa kucegah, mataku berlabuh di kontak Umam yang sebenarnya belum kusimpan. Centang satu memberitahuku bahwa dia sudah membaca pesan yang terakhir kukirim.

Ya, hanya membacanya. Tidak ada niat untuk merespon. Setidaknya dengan oh saja sudah cukup bagiku. Kali ini otakku sudah tidak bisa menerima energi positif. Hatiku hanya bisa bergumam sedih, Umam, kamu tega melupakan aku dan persahabatan kita! ***

Foto Diri Penulis, Mifta Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh, halo teman-teman! Perkenalkan namaku Miftah Hilmy Afifah. Kalian bisa memanggilku Afifah. Umurku 21 tahun. Aku kelahiran 2 Maret tahun 2000. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Saat ini aku berstatus mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Selain itu, aku juga seorang penyiar di salah satu radio online Indonesia. Hobiku menulis, membaca novel, mendengarkan musik, dan memasak. Kalau kalian ingin kenal lebih dekat denganku, bisa ikuti instagramku di @afifah.pisc atau facebook Miftah Hilmy Afifah. Terima kasi karena sudah membaca karyaku ini dan mohon do’a dan dukungannya agar aku tetap semangat dalam berkarya. Sampai ketemu lagi di tulisan-tulisanku selanjutnya. Bye-bye!

1 comment for "Teman Masa Kecil "