Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak Pejabat

Karangan Redaksi

Di atas sebuah sofa yang terlihat kusam, aku menyeruput secangkir teh hangat sebagai kebiasaanku di setiap ba'dah subuh. Kepalaku seolah menari ke sana dan ke mari, mencoba menyusun daftar aktifitas yang harus dirampungkan di hari itu. Sesekali, aku mencoba mengingat-ingat, seolah sesuatu hal yang amat penting kukerjakan namun gambarannya luput dari kepalaku.

Gambar Seorang Pejabat

Aku tak nyaman dengan sesuatu hal yang sifatnya spontanitas. Bagiku, membuat alur aktifitas dapat mendatangkan ketenangan, terlebih jika hasilnya sama dengan yang diharapkan. Pun halnya dengan lingkunganku. Aku tak nyaman bila sehari penuh kuhabiskan berada di tempat ramai. Aku selalu membutuhkan waktu untuk sendiri, mengevaluasi dan merencanakan kembali.

Tegukan terakhir akhirnya tak mampu lagi memberikan sensasi hangat di tenggorokanku. Angka 06:12 yang diterangi oleh cahaya gawai sontak memaksaku bangkit dari meditasiku. Kuletakkan cangkir di dalam wastafel lalu bergegas masuk ke dalam kamar.

Hari ini adalah seleksi wawancara untuk calon karyawan di PT. Ogistar Entertainment. Perusahaan yang bergerak di bidang perfilman, sejak masa berdirinya pada pertengahan tahun lalu. Dan aku menjadi satu orang yang beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi tersebut. Meski aku bukanlah lulusan kampus terbaik di ibu kota, namun rekam jejak keorganisasianku sepertinya cukup untuk memenuhi kriteria pelamar pada tes tahap kedua ini.

Setelah bersiap, kusempatkan untuk mengintip daftar pesan masuk melalui gawai yang kuperoleh dari ajang PON Papua 2021. Rupanya ada pesan dari mama.

"Bagaimana liburan kali ini? Mau pulang kah?"

"Iya mak. Saya lihat keadaan dulu," jawabku singkat.

Dari rumah, aku berjalan kaki menuju jalan poros untuk menyetop sebuah angkutan kota. Maklumlah, daerah ini baru dideklarasikan menjadi kota baru sekitar setahun yang lalu. Tepatnya saat aku pertama kali menginjakkan kaki di sini. Transportasi online dan Supermarket baru menjadi topik terhangat di media-media lokal di kota ini.

Sebuah angkot berwarna kuning akhirnya menepi ke arahku. Mobil akhirnya berhenti dengan mensejajarkan posisi pintu tepat berada di hadapanku.

Di atas angkot aku duduk paling belakang. Sedikit memiringkan badan ke arah depan sembari menyandarkan punggung ke sisi belakang mobil. Sesekali kuintip jarum jam pada arloji yang melingkar di lenganku, lantaran pak supir yang sudah berkali-kali meminggirkan kendaraan dengan maksud menjemput penumpang baru.

"Kiri, pak!" teriakku melawan alunan musik dangdut yang diputar oleh pak supir.

Kembali mobil menepi. Namun, kali ini atas dasar arahanku. Pintu gerbang Ogistar Entertainment terlihat terbuka lebar dengan seorang penjaga keamanan yang berdiri sembari berbicara melalui handy talky kepada penjaga lain.

"Permisi, pak! Mau ikut seleksi wawancara," laporku kepada penjaga yang bertubuh besar dan berjanggut tebal.

"Oh, iya. Di gedung sana yah! Yang warna oranye," tunjuknya.

"Terima kasih, pak!"

"Iya, sama-sama."

Aku langsung menuju ke arah gedung yang dimaksud. Tak kuperhatikan di sekelilingku. Entah seperti apa pemandangan yang mungkin justru balik memperhatikanku sebagai pemandangan. Aku hanya berjalan mantap dengan pandangan sesegar dan sikap yang senormal mungkin.

Segera kuserahkan undangan mengikuti seleksi wawancara kepada sekretaris perusahaan. Ku lihat ada sebuah bangku yang masih kosong. Di sebelahnya ada sebuah tas dengan sebotol air minum di hadapannya. Aku langsung duduk dan melepas penat dan sesekali menarik kertas tissue dari saku depan tasku untuk melap keringat.

Aku memperhatikan sekeliling. Ruangan tampak tenang. Namun sayup-sayup percakapan antar pelamar lain membatalkan kesimpulanku akan suasana yang nyaman. Berbeda denganku yang hanya duduk memainkan permainan jadul, "Tetris" melalui gawaiku. Sedikit mulai bosan lalu menutup permainan, pikiranku pun melayang sesaat setelah kutekan tombol kunci layar gawai.

Aku teringat bapak yang menrekomendasikan namaku sebagai bagian dari daftar ASN yang akan diangkat tepat pada tahun lalu. Melalui jabatannya sebagai Sekretaris Daerah di ibu kota, ia ternyata telah menerbitkan SK pengangkatanku. Aku yang baru mengetahui setelah beliau menyerahkan berkas tersebut lantas menolak dan membuat beliau kecewa atas pilihanku.

Beliau tidak murka. Namun, agaknya keputusanku menjadi hal yang tidak pernah ia harapkan. Undangan mengikuti pelatihan persiapan ajang PON di Papua pada akhir tahun ternyata tidak cukup untuk menjadi penjelasan asbab dari keputusanku. Sejak saat itu, sikap beliau kepadaku agaknya berubah. Terkadang tak menyapa, atau pura-pura tak melihat. Ketika ditanya, beliau hanya menjawab seadanya.

Sampai di mana aku harus berangkat ke kota ini untuk menjalani Training Center bersama dengan atlet dari cabang olahraga lain, hingga menginjakkan kaki di tanah Papua dan meraih medali emas pun tak bisa membuatnya menoleh akan kehadiranku di layar kaca saat diwawancarai sebagai juarawan pada cabang olahraga renang. Hanya seuntai kalimat penyemangat dari mama yang selalu kubalas dengan ucapan; "Terima kasih, mak. Salam untuk bapak."

Gelak tawa yang terdengar dari arah belakangku berhasil membuat lamunanku buyar. Sepintas aku sedikit menoleh dan fokus pada apa yang dibicarakan oleh dua pemuda berwarna kulit gelap dan yang satunya lagi berwarna agak terang. Pada akhirnya, aku sadar bahwa apa yang mereka tertawakan tidaklah berhubungan dengan apa yang ada dalam diriku.

Singkatnya, setelah melalui proses eleksi akhirnya aku dinyatakan lulus sebagai karyawan baru di perusahaan tersebut. Tiap hari aku berangkat pagi, dan pulang di sore hari. Dan di tahun berikutnya, aku pun dipertemukan dengan seorang guru di salah satu SMA di kota ini. Namanya Maudy, seorang ASN yang baru terangkat setahun lalu. Tidak lama, kami akhirnya memutuskan untuk menikah dan atas izin Yang Maha Kuasa, kami pun dianugerahi sebuah keturunan.

Sejak saat itu, aku baru merasakan lika-liku kehidupan yang sesungguhnya. Di mana ada sebuah tanggung jawab yang kupikul demi kebahagiaan seseorang yang memilihku dan membesarkan anak-anakku. Namun, layaknya sebuah roda yang berputar, nasibku seketika berubah. Aku yang baru saja naik jabatan, tiba-tiba harus dirumahkan akibat melonjaknya kasus COVID-19 dan ketidakmampuan perusahaan untuk menutupi anggaran untuk pembiayaan gaji karyawan.

Maudy yang saat ini mengandung anak kedua kami, nampaknya sangat memahami guncangan dalam benakku. Dirinya selalu membangun energi positif demi memacu semangatku.

"Ingat kalau Tuhan selalu merencanakan yang baik untuk hamba-Nya yang baik, kak!" tuturnya lembut saat menghampiriku yang baru saja mengunci layar gawaiku.

"Maafkan saya yang tidak punya simpanan apa-apa untuk menghadapi masalah ini, dik!" jawabku setelah menghela napas panjang.

Ia terdiam untuk beberapa saat. Kupalingkan pandanganku ke arah pintu kamar, yang di belakangnya tergantung seragam kantorku berwarna merah maroon.

"Kakak sudah membuktikan diri sebagai orang yang bertanggung jawab. Jauh sebelum meminang saya, kakak sudah mempersiapkan rumah tinggal, menggeluti sebuah profesi, yang mana semua berkat ikhtiar kakak. Saya yakin kakak bukan tipe orang yang mudah menyerah dan lari dari kenyataan!" tungkas Maudy.

Dalam hati kubenarkan seluruh ucapan Maudy. Rumah yang kuperoleh dari hasil medali emas di PON Papua beberapa tahun lalu, nasibku yang berlanjut di kota ini atas dasar keputusanku menolak rekomendasi bapak untuk mengangkatku sebagai ASN, hingga pengalamanku yang lumayan cukup banyak berkat profesi yang kugeluti sebagai karyawan di Ogistar Entertainment, adalah suatu yang mubazir apabila kini keseharianku hanya meratapi nasib dan menyesalinya.

Sembari tertegun, lamat-lamat aku mulai berani menatapnya. Menyambut kesetiaan dan pendampingannya, lalu kujawab gejolak kasih yang amat tulus sebagai bukti kepercayaan antara kami berdua.

"Terima kasih atas semuanya, isteriku!" sahutku lirih kepadanya yang tengah menghaturkan puji syukur atas kehadirat-Nya Yang Maha Kuasa.

Esoknya, ada telepon dari mama di ibu kota. Sudah beberapa hari bapak sakit keras. Aku kemudian memutuskan untuk berangkat menjenguknya di hari itu juga.

Setelah didiagnosa, bapak ternyata mengidap gangguan prostat. Dan tingkatannya sudah termasuk parah. Beruntung Maudy menyetujui usulanku untuk sementara tinggal di ibu kota untuk merawat bapak sembari menunggu tindakan selanjutnya dari dokter. Karena lonjakan kasus COVID-19 yang belum mereda, sekolah masih terus melangsungkan Pembelajaran Jarak Jauh. Dan Maudy bisa tetap mengajar dari rumah.

Kuceritakan semua yang sedang kualami kepada bapak. Hanya empat mata saja. Semuanya tengah sibuk di dapur. Bapak pun kemudian menanggapi ceritaku.

"Tuhan itu Maha Baik, anakku!" tuturnya yang sedang terbaring setelah meredakan batuknya yang agak berat.

"Maafkan apa yang bapak lakukan sewaktu menjabat kemarin. Dan selamat atas hasil perjuanganmu di tanah Papua, yang kemudian kamu lanjutkan dengan profesimu di industri film kemarin," tambahnya.

"Tidak apa, pak. Saya percaya bapak selalu memikirkan yang terbaik untuk saya. Dan saya selalu bangga dengan bapak," jawabku dengan suara serak.

Belum lama setelah aku meninggalkan bapak untuk mengintip Hafidz, anak pertamaku, terdengar benturan agak keras dari arah kamar mandi. Kami semua sontak menuju arah benturan tersebut. Dan terlihat bapak yang tersungkur tepat di depan kolam mandi, dengan berusaha mengatur napasnya.

Segera kurangkul bapak lalu kucoba untuk menuntunnya. Namun, terlihat beliau tak mampu untuk berjalan, dengan bantuan mama akhirnya bapak berhasil kami angkat keluar. Namun, tenaga yang terbatas membuat kami hanya mampu membaringkan beliau di lantai yang berjarak 3 meter dari kamar mandi.

Seolah tahu apa yang sedang dan akan terjadi, mama tiba-tiba bangkit mengambil mushaf dan melantunkan ayat suci Al-Qur'an di samping bapak. Bapak yang terlihat kesulitan mengatur napas, perlahan menjadi tenang, namun hanya bergeming.

Saat itulah, air mata mama langsung menghujani pipinya. Dan tangisannya pun pecah tatkala menghentikan lantunan merdunya. Kepalanya ia sandarkan di atas dada bapak yang sudah tiada.

Aku justru tidak percaya akan berpisah secepat ini dari bapak. Perlahan aku mengecup dahinya, lalu mengusap kepalanya yang penuh dengan minyak yang telah meresap di rambut-rambutnya. Seolah badai petir gemuruh menghantam dadaku. Namun kembali isteriku yang setia, memberikan kesejukan melalui sapuan tangannya di atas pundakku.

Kabar wafatnya bapak kemudian tersiar ke keluarga besar dan juga kerabat. Para pejabat daerah pun berdatangan mengenang jasa-jasa beliau dalam menangani administrasi dan membantu Gubernur dalam menjalankan roda pemerintahan. Walaupun beliau telah pensiun sejak beberapa tahun yang lalu, namun namanya masih diingat sebab beliau banyak melakukan gebrakan-gebrakan baru pada masanya.

Sepekan berlalu, aku dan Maudy membujuk mama untuk sementara tinggal bersama kami di luar ibu kota. Beliau akhirnya menerima ajakan tersebut. Kami pun tiba di rumah tinggalku yang tak semewah rumah bapak dan mama di ibu kota.

Saat semuanya berkumpul, aku mengutarakan niatku untuk membuka usaha percetakan. Modalnya akan ditarik dari tabunganku yang merupakan sisa pembelian rumah saat aku meraih medali emas dari ajang PON Papua. Namun, tabungan tersebut seyogianya terbilang cukup minim, sehingga hanya mampu untuk membeli perlengkapan usaha secukupnya sebagai langkah awal.

Mama yang angkat bicara, menawarkanku untuk memanfaatkan perhiasan sebagai tunjangan modal untuk kegiatan usahaku. Akhirnya, dengan hati-hati aku kemudian menanggapi tawaran tersebut.

"Saya sangat berterima kasih atas perhatian mama. Tapi, alangkah baiknya mungkin kalau..." ucapku yang kemudian dipotong oleh mama.

"Jangan begitu! Kau anak mama dan bapak satu-satunya. Coba pikir kepada siapa lagi mama dan bapak akan menurunkan apa yang kami punya? Mama yakin pasti bapakmu juga akan lebih sedih lagi daripada yang dulu, kalau untuk yang satu ini kau juga menolak, nak. Bapakmu itu dibalik kejengkelannya sama kau, ia selalu mengakuimu sebagai pemuda yang tangguh!" pungkas mama membuatku tersadar dari sesuatu yang tidak kuketahui.

"Iya, benar kata mama, kak," sahut Maudy membenarkan.

Suasana menjadi hening sesaat. Aku yang duduk di samping Maudy, memperbaiki posisi Hafidz yang sedang bermain di atas pangkuanku.

"Baiklah. Saya akan menerima tawaran mama. Tapi, tidak usah semuanya, mak. Kita buat simpanan untuk masa depan juga," jawabku mantap.

"Semoga sukses, dan berkah penghasilanmu, nak!" ucap mama, haru.

Tiga pekan kemudian, aku melaunching sebuah bisnis percetakan yang terletak di jalan poros kota. Semuanya telah dipersiapkan seperlu mungkin, dan menyesuaikan dengan kondisi pandemi yang belum kunjung usai. Untuk mengantisipasinya, aku pun merilis sebuah aplikasi yang dapat diakses untuk keperluan orderan dan pemasaran. Tidak hanya itu, berbagai platform pemasaran daring juga dimanfaatkan untuk menjangkau pelanggan dengan segmentasi yang lebih luas.

Bisnis akhirnya berjalan sesuai yang diharapkan. Walaupun belum menghasilkan pemasukan yang berjumlah besar, namun setidaknya cukup untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka yang kusayangi, pun menyayangiku. Merekalah Maudy, mama, Hafidz dan satu lagi anggota keluarga yang baru saja diridhoi kehidupannya oleh Sang Pencipta, putera keduaku yang kuberi nama, Umar. ***

Post a Comment for "Anak Pejabat"

Advertisement: Dapatkan Layanan Domain dan Hosting Murah!