Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nilai Positif dari Serial Captain Tsubasa, Untuk Kemajuan Bangsa

* Artikel Utama dari Redaksi

Siapa yang tidak ingat dengan serial "Captain Tsubasa"? Film animasi dari Negeri Sakura yang menjadi pemantik kemajuan sepak bola mereka, yang kemudian berhasil menggugah berbagai penonton di Indonesia, khususnya anak-anak.

Bahkan, dalam sebuah referensi mengatakan bahwa film ini seolah menjadi propaganda untuk peningkatkan prestasi sepak bola suatu negara, ( Simak: Ketika Film Jadi Propaganda Untuk Peningkatan Prestasi Sepak Bola Suatu Negara - Bolaskor.com ).

Saya pribadi membenarkan, hingga saat ini serial Captain Tsubasa adalah film kartun bertema sepak bola terbaik yang pernah ditayangkan di Indonesia. Bukan karena tampilan, atau kemampuan dari para tokohnya yang begitu unik dalam memainkan permainan. Melainkan amanat yang terkandung di dalam cerita tersebut. Suatu hari saya berkesempatan menuliskan pesan moral dari serial Captain Tsubasa tersebut di halaman Geotimes yang dapat dibuka melalui laman Pesan Moral dari Serial Captain Tsubasa.

Kendati demikian, dari kita sebagian masih banyak yang belum bisa memetik pelajaran dari kartun ini. Tak jarang dari sahabat saya sendiri yang mengungkapkan, "Ceritanya terlalu melebih-lebihkan. Masa' nendang bola lama sekali? Terus ada api sama macannya lagi." Yah, ceritanya memang dikemas seperti itu. Namun bukan berarti seluruh rangkaian cerita dari film ini dibuat menyerupai dengan realita. Namanya saja kartun.

Refleksi Terhadap Paradikma Tentang Serial Captain Tsubasa

Dalam konteks ini, bidang studi Ilmu Komunikasi dapat menjadi sumber penjelasan yang tepat. Segala konten audio visual baik berupa film, serial, iklan, apa pun itu pasti memiliki segmentasi pemirsa yang tentunya telah dipetakan sebelumnya. Sama dengan Ilmu Pemasaran (Marketing). Ketika suatu kegiatan usaha memproduksi barang atau menyediakan jasa, tentu mereka telah membuat daftar pasar yang akan dijadikan sebagai target promosi. Dari sasaran pemirsa inilah, muncul sebuah tantangan agar bagaimana menciptakan konten yang menarik perhatian mereka. Dibuatlah berbagai ide-ide yang dalam hal ini mampu membuat takjub para penonton anak-anak.

Anak-anak tentu saja senang dengan tayangan seorang tokoh yang mungkin memiliki kekuatan super, kemampuan menghilang, bertransformasi dan sebagainya. Saya tidak akan mencantumkan teori, namun sedikit banyaknya hal ini telah dijelaskan oleh pakar bahwa perkembangan anak disertai dengan sebuah naluri fantasi. Artinya, anak-anak memang senang menghayal. Buktinya, siapa yang tidak mau mengakui bahwa animasi "Naruto" dan "Boruto" juga menjadi dua dari film kegemaran anak-anak masa kini? Dari sinilah, pengarang cerita dari Captain Tsubasa berupaya mengemas masing-masing karakternya semenarik mungkin di mata target pemirsanya.

Lagi pula, rata-rata yang berpendapat demikian yang saya paparkan di atas adalah mereka yang mencapai usia transisi dari remaja ke dewasa. Wajar jika adegan seperti itu sudah dianggap sebagai abun-abun belaka. Mereka memang telah melewati fase perkembangan yang dimaksud.

Namun, agaknya saya kembali heran memperhatikan fenomena terkait dengan melunjaknya penggemar anime Jepang yang bahkan mampu melahirkan komunitas. Sebut saja serial "Kuroko No Basuke". Apa bedanya dengan Captain Tsubasa? Bukankah adegannya juga sangat bertolak belakang dengan keadaan realita? Bukan hanya itu, anime "Naruto" yang di dalam cerita digambarkan mampu bertarung dan berubah menjadi rubah berekor sembilan pula. Bagaimana sehingga akal kita mampu mencerna bahwa ini adalah film yang menarik? Sedangkan serial yang imajinasinya hampir sama, yakni Captain Tsubasa dianggap sebagai tontonan yang utopia, fiktif, terlalu berlebihan atau semacamnya?

Bijak dalam menyimak suatu tayangan sangatlah penting saudaraku! Ingat bahwa simbol dapat berupa verbal maupun non verbal. Dan simbol tentunya memiliki makna yang semestinya diinterpretasikan secara saksama. Walau pun kemasan film Captain Tsubasa demikian, pesan moralnya ada. Sisi pendidikannya pun ada. Justru jika kita perhatikan, film ini hampir tidak pernah menampilkan adegan yang merujuk pada bagian-bagian wanita yang tertutup. Seperti yang diketahui bersama, bahwa beberapa dari film animasi Jepang tak jarang memiliki adegan dari para tokohnya yang mengagumi bagian-bagian tertentu dari tubuh karakter wanita.

Mengapa Spirit Dalam Cerita Captain Tsubasa Tidak Kita Implementasikan?

Setiap kita memiliki peranan dalam memajukan negara tercinta ini. Jika dianggap terlalu jauh, mari kita berbicara dalam konteks wilayah yang menjadi bagian dari Indonesia. Tanpa bermaksud membuat sekat atau semacamnya, kita bertanggung jawab dalam memajukan daerah masing-masing. Tentu dengan memperhatikan aspek semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki situs wisata atau pun icon yang menjadi ciri khasnya. Berbagai kebudayaannya pun kita junjung tinggi sebagi salah satu manifestasi dari kekayaan yang dimiliki. Kita ingin hadir di mata dunia untuk mewujudkan goresan tinta dalam naskah Pembukaan UUD 1945, yakni "ikut melaksanakan ketertiban dunia dalam asas kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial". Mengapa kita tidak mempraktekkan hal sama yang dilakukan oleh karakter Tsubasa dan teman-temannya?

Mereka sama-sama meyakini, bahwa di masa mendatang akan membawa negaranya terjun dalam kejuaraan tingkat dunia. Dengan segala upaya yang diwarnai dengan kerja keras mereka. Ada yang memilih menitih karir di Jerman, di Spanyol, di Italia dan Perancis. Popularitas pribadi bukanlah menjadi prioritas mereka. Yang terpenting adalah bagaimana membawa sepak bola di negaranya bisa disaksikan oleh miliaran penduduk.

Cara-cara yang ditempuh karakter dalam cerita tersebut adalah manifestasi dari idealisme yang mereka bangun bersama. Idealisme bukanlah suatu hal yang sifatnya lurus-lurus saja, atau merujuk pada sesuatu yang seharusnya begini dan begitu. Namun, idealisme adalah prinsip yang tertanam dalam jiwa. Yang tatkala dilanggar akan mendatangkan perasaan berkecamuk. Makanya, menurut saya tidak ada orang yang idealis atau realistis. Sebab, ukuran idealisme dan realisme setiap kita berbeda-beda.

Kembali ke pokok bahasan, bahwa spirit untuk memajukan negara dan wilayah jika tertanam dan menjadi idealisme bersama pasti akan melahirkan buah yang sangat manis. Bayangkan setiap kita memiliki minat dan bakat yang berbeda. Di antara kita terdapat mereka yang gemar dan memiliki kemampuan dalam bidang kepenulisan, komunikasi publik, tata lingkungan, teoritis, teknisi dan sebagainya jika menyatu layaknya tim sepak bola, apakah bukan menjadi kekayaan sejati dalam sebuah negara?

Memang benar bahwa menanamkan nilai-nilai seperti itu tidaklah mudah. Apalagi dengan berbagai tantangan di era digital saat ini. Gaya hidup hedonis, individualis bahkan apatis harus dilawan dengan diskusi yang bertajuk kebangsaan. Ciptakan aliran positif mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan, terlebih nilai-nilai persaudaraan. Adakan seminar, diskusi terarah dan laksanakan kegiatan yang mampu membangkitkan semangat integrasi Nasional.

Karenanya, cita-cita ini jika ingin diwujudkan haruslah menjadi gagasan bersama. Bersama dalam artian tidak melimpahkan tugas ini hanya kepada satu sektor saja. Misalnya Kementerian Pendidikan, yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya senjata untuk mewujudkan substansi dari tulisan ini. Namun semua harus memulai. Para selebrita tidak lagi menjadi satu-satunya objek public figure. Kini kita mengenal istilah content creator, content writer, influencer dan celegram. Mereka yang disebutkan itu memiliki pengaruh yang besar dengan beragam latar belakang pengikut mereka.

Di era sekarang, coba perhatikan siapa yang masih memiliki jaringan pertemanan di bawah angka 100 orang dalam sosial medianya? Dengan angka seperti itu jika diterjemahkan dalam realita sudah terbilang cukup banyak. Satu unggahan kita dalam sosial media jika mampu merangkul 10 orang sudah luar biasa. Apalagi jika pola itu terus berlanjut seperti yang diterapkan dalam pemasaran berjejaring, atau yang biasa kita sebut dengan Member Get Member (MLM). Nilai-nilai positif yang dalam hal ini adalah spirit untuk memajukan negara dan daerah masing-masing akan terus menjadi topik terhangat seiring merebaknya pengguna sosial media dari kalangan milenial dan generasi yang dikenal dengan "Gen Z".

Sekali lagi, usaha ini perlu perhatian dari kita masing-masing. Tanamkan dan wujudkan adalah satu dari berbagai semboyan yang memiliki makna sama. Saatnya untuk senantiasa mengambil langkah-langkah partisipatif, bukan saling mendorong atau bahkan menghakimi. Ingat masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan dalam negeri ini. Mari percaya dan yakini bahwa berusaha mengatasi masalah tersebut adalah satu loncatan untuk menuju Indonesia yang maju. Mari kita tinjau permasalahan seperti pengangguran, kemiskinan, dan kesetaraan yang menjadi bahan riset dunia yang dijadikan acuan dalam mengelompokkan negara maju dan berkembang. Itu berarti, kita tidak dituntut untuk susah-susah merantau ke mancanegara untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia, tapi kembangkan potensi diri untuk kemudian bisa membenahi permasalahan yang terjadi dalam negeri sendiri ialah cara yang lebih praktis. Dan jika itu berhasil, maka pandangan dunia pasti akan tertuju ke arah bumi pertiwi ini.

Post a Comment for "Nilai Positif dari Serial Captain Tsubasa, Untuk Kemajuan Bangsa"

Advertisement: Dapatkan Layanan Domain dan Hosting Murah!