Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rahasia Hati

Karangan Redaksi

Sebuah gerobak biru, yang nampak segar dipandang mata. Disisipkan sebuah lemari kaca berukuran minimalis di dalamnya. Di bagian depannya bertuliskan "Bakso Mas Gondrong". Seseorang tengah sibuk melengkapi sajian dengan rempah, sesuai pesanan. Sesuai namanya, pemilik dagangan itu memang memiliki model rambut panjang yang diurai ke belakang. Perawakannya ramping, tapi bertenaga.

Gambar Bunga

Seperti itulah pemandangan yang asyik kuperhatikan sejak tadi. Mengambil gambar pedagang bakso kaki lima, yang memilih mangkal di depan sebuah kursus bahasa Inggris. Namun, bukan karena perawakannya yang menarik. Pun demikian dengan para pelanggan yang rela berdesakan untuk memesan. Ialah karena kemampuannya menggunakan bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan pelanggannya.

"Okay, please wait for a minute!" sambutnya kepada pelanggan yang memesan seporsi dagangannya.

Hampir 7 tahun lamanya aku baru memijakkan kaki di mana masa remaja telah terukir menjadi kenangan. Setelah abah dan ummi memutuskan untuk kembali ke tanah leluhur di seberang pulau sana, tibalah aku di sini dengan sebuah tuntutan profesi. Aku ditugaskan untuk meliput peristiwa naas yang baru-baru ini hangat diperbincangkan publik. Baru sekian jauh berjalan, nampak sebuah papan reklame berukuran sedang terpampang dari halaman sebuah gedung. Di sanalah aku pernah memperdalam bahasa Inggris.

Empat tahun lamanya aku menimba ilmu di tempat ini. Hingga kini tidak ada perubahan yang signifikan. Termasuk mas bakso. Yang berubah hanya ketiadaan mesin telepon umum yang dahulu ramai digunakan.

Aku pun niat mendekat dan memesan seporsi. Namun, sosok gadis yang familiar dengan hijabnya kemudian menyapa.

"Jordan?"

"Kamu Juli bukan?" Aku balik memastikan.

"Iya, kamu sudah lama di sini? tanyanya sembari memesan seporsi bakso.

"Ah, kita bicara di sana saja, yah!" Aku menunjuk ke arah pekarangan sebuah gedung yang dulunya adalah kantor pemerintah. Entah saat ini masih berfunsi sama atau tidak, jelasnya kami memungkinkan untuk masuk ke dalam karena gerbangnya dalam kondisi tak terkunci, dan gedungnya tak berpenghuni.

Menurut Juli, ia telah mengetahui ketibaanku di kota daeng dari linimasa yang kuunggah dalam akun sosial media. Kami berdua memang telah kenal sejak lama, tapi tidak begitu akrab. Jika kami berdekatan, hanya karena sedang berkumpul dengan kawan-kawan lain. Sekolah kami terletak tidak jauh dari sini. Di sana kami sekelas, tapi namun tidak di kursus ini. Kemampuan speakingnya jauh di atasku, sehingga tingkatannya lebih tinggi.

Menjelang pengurusan administrasi untuk kepindahanku ke tanah Jawa beberapa tahun silam, kuputuskan untuk memberanikan diri menyatakan perasaanku. Namun, agaknya Ryan yang bangkunya bersebelahan denganku lebih tangkas. Mereka jadian, dan perasaan yang telah lama tertimbun harus kulenyapkan tanpa ia ketahui seperti apa perihnya.

"Gimana kabar Ryan?" tanyaku memecah kesunyian usai membeberkan pengalaman masing-masing.

"Kita udahan."

Segera kualihkan pembicaraan. Aku hampir terlambat bertanya tentang alasan keberadaannya di tempat ini. Menurutnya, ia sedang menunggu adiknya yang mengikuti kelas tingkat menengah.

Kami pun berpisah setelah adiknya menghampiri. Sebelum beranjak, ia berjanji akan mengajakku ke situs wisata termutakhir di kota ini. Hal itu setelah kuceritakan tentang profesiku sebagai wartawan di salah satu media online berskala Nasional. Selain meliput perkembangan peristiwa naas yang baru saja terjadi, aku pun ditugaskan menjelajahi seluk beluk kota metropolitan dan mencari keunikan yang menjadi ciri khas lokal.

Malam hari, sepulang dari warung coto yang terletak tidak jauh dari Hotel, kusempatkan mengintip pesan masuk dari aplikasi pesan instan. Jessica ternyata menanyakan kabarku sejak sore tadi. Namun, karena asyik mengobrol dengan Juli, notifikasinya tak kudengar.

"Sayang, kamu udah liputa belum?" tanyanya.

Tanpa banyak gerakan lagi, jempolku kemudian mengarah pada papan ketik untuk menjawab; "Sorry sayang. Aku baru buka WA. Baru aja aku udah makan. Kamu kabarnya gimana?"

Belum lama kutekan tombol "Kirim", jendela munculan tiba-tiba terpampang berikut nada notifikasi pesan masuk dari nomor yang tak kusimpan dalam daftar kontak. Setelah menelusuri dan memperhatikan foto profil yang terpajang dalam akunnya, aku baru menyadari bahwa dialah Juli.

"Hai! Besok tidak ada jadwal liputan khusus, kan? Aku mau ngajak kamu ke Masjid 99 Kubah. Sebenarnya ada satu tempat lagi yang menurutku recomended buat kamu liput dan buatin featurenya."

"Tempat apa itu, Jul?" tanyaku spontan karena penasaran.

"Pulau Kodingareng. Di sana lautnya indah banget, lho! Nggak tau' sih yah kalau udah banyak yang nulis tentang tempat itu. Tapi menurutku, kalau aku boleh kasih saran, siapa tau tulisanmu bisa ngangkat awarenessnya pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan masyarakat di sana. Secara banyak yang kurang tau kalau di sana masih bagian dari wilayah kota ini."

Aku sampai lupa. Juli memang memiliki social awareness yang kuat. Tak jarang kudapatkan beberapa dokumentasi kegiatannya dalam Beranda sosial media. Walau pun begitu, ia adalah sosok yang tegas dan berwibawa. Hal itu terbukti dari karisma kepemimpinannya saat menahkodai organisasi PMR sekolah. Karena itulah, aku sempat menaruh hati padanya. Namun, karena merasa insecure dengan diriku yang tidak seeksis dirinya, perasaan itu akhirnya hanya menjadi angin yang menari kemudian berlalu dari kepalaku.

Esoknya, ia menjemput dengan mobil berwarna Grey Metalic, yang dari dalam terdengar alunan musik penyanyi kelas dunia, "Agnez Monica". Aku bergegas meninggalkan lobby dan melebarkan pintu depan yang sedari tadi telah dibukanya dari dalam. Kaca jendela dalam keadaan terbuka, mungkin untuk membantuku mengenali kalau ini benar dirinya.

Suasana seketika berubah. Aku menyadari bahwa orang yang duduk di samping adalah sosok yang pernah menjadi nomor satu di benakku. Tiba-tiba sikapku tak karuan. Padahal, aroma semerbak yang ditiupkan dari parfum yang bergelantungan di lubang pendingin berhasil membuat suasana yang sejuk.

"Kita mau ke mana?" tanyaku asal.

"Lho, semalam kan aku udah bilang mau nganterin kamu ke Masjid 99 Kubah, terus kalau ada kesempatan kita ke Kodingareng."

"Ohehehe... Iya juga yah!"

"Santai aja lagi! Mau nyetir sendiri?" tanyanya seolah tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja.

"Nggak, kok. Lanjutin aja! Pelancong kan memang semestinya nyantai aja," sahutku sembari menarik setelan kursi lalu menekan sandaran ke belakang untuk mengambil posisi sedikit terlentang.

"Huh... Dasar! Mentang-mentang orang sini, aku jadi supir."

Perlahan aku mulai bisa mengendalikan suasana. Perbincangan pun mengalir ke arah sana dan ke mari. Sesekali kuperhatikan maraknya kemajuan kota dibandingkan beberapa tahun lalu. Kamera digital yang selalu kuikut sertakan, sedari tadi dalam kondisi aktif. Bahkan, terkadang aku meminta Juli berhenti sejenak untuk mengambil gambar bangunan tinggi, serta jembatan yang bentuknya unik.

Sesampai di lokasi, aku segera mengambil sudut yang tepat. Pencahayaan dan kecepatan pengambilan gambar lalu kuatur sedemikian rupa agar menciptakan citra objek yang menarik. Benar kata Juli. Warna merah kekuning-kuningan yang mendominasi bangunan ini memancarkan pesona yang monumental.

Setelah puas mengambil gambar dan mewawancarai beberapa pengunjung, Kami kemudian beranjak menuju dermaga yang menyediakan jasa penyeberangan ke Kodingareng. Pemandangan indah dari atas kapal motor menjadi sensasi yang kami nikmati berdua. Tak jarang kami saling membenarkan pendapat satu sama lain; "Lautnya indah yah!" celetup Juli sembari memandangilaut yang terbentang.

"Iya. Anginnya juga bersahabat."

Kembali perasaanku mulai aneh. Seperti sebuah sugesti yang memberikan isyarat bahwa kondisi ini adalah saat-saat ternyaman dalam hidup. Apalagi tatkala aku mulai terjaga dan menyadari kalau Juli sedang terlelap dengan posisi kepalanya tersandar di bahuku. Entah tak rela membangunkannya yang sedang pulas, atau tak ingin kehilangan momen ini. Jelasnya, hal ini usah berlanjut dan kubiarkan diriku bergeming.

Kami pun tiba di daratan dan banyak berinteraksi dengan tokoh masyarakat setempat. Usai berkeliling, terlihat sebuah pohon yang rindang. Kami berdua beristirahat di bawahnya dan menyadari matahari akan segera terbenam. Buru-buru aku mengaktifkan kamera dan mulai mengambil gambar yang sulit ditemukan di kota metropolitan. Namun, tiba-tiba Juli menyela.

"Kamu nggak mau nikmatin suasananya?"

"Ini lagi nikmatin. Makanya aku foto," jawabku sembari menoleh ke Juli.

Terlihat ia memalingkan wajah ke matahari jingga. Namun, itu tak berlangsung lama. Dirinya menghela napas, lantas bertanya.

"Kamu memang nggak capek? Dari tadi fotoo terus, wawancaraa terus. Aku aja yang liatin kamu, capek."

"Masa kamu udah lupa sama fotografer andal di kelas kita dulu. Coba, sangking hobinya, aku cuma bertugas ngejepret seisi kelas. Sampai-sampai nggak kebagian."

Juli yang membenarkan hal itu, terlihat seperti menahan tawa sembari menutup mulutnya. Tak lama, ia pun mencoba memecah keheningan.

"Hepi juga yah, di tempat ini?"

"Eh, iya."

Kali ini aku mencoba berspekulasi dengan mengarahkan pandangan ke sana ke mari.

"Dan, aku boleh nanya nggak? Tapi jangan marah, yah!"

"Oke..."

"Nah, dulu kan Novi sama Jono, aku sama Ryan, Niko sama Gita. Kalau kamu sama siapa?"

Untuk kesekian kalinya, aku tersentak gara-gara momen bersama Juli. Lidahku keluh. Seperti mau bilang kalau aku dulu suka sama kamu, tapi terlanjur pergi sama sahabatku sendiri.

"Oh, kalau aku dulu sama Vera."

"Vera? Anak mana tuh? Yang kakak kelas?"

"Bukan, dong. Vera itu nama kamera pertamaku. Hadiah dari abah. Beuh... Waktu itu lagi ngetrend, lho!"

"Apaan sih! Orang nanya serius," timpalnya sambil berusaha memasukkan tas kamera ke mulutku. Aku yang tertawa sambil mengaduh berusaha menghindar.

"Memangnya ada cewek yang naksir sama cowok kayak Jordan?" lanjutku.

"Huh... Dasar cemen!" Kini ia menggantungkan jempolnya ke bawah persis di depan wajahku. "Belum apa-apa udah pesimis."

"Yah, mau gimana lagi? Habisnya dia kelihatannya udah bahagia sama coker. Alias cowok keren di kelas B1."

"Dia siapa?" tanyanya dengan sorot mata tajam ke arahku.

Melihat itu, aku menjadi gugup. Merasa kalau apa yang kuucapkan sebenarnya salah. Sebaiknya ia tak perlu tahu soal ini. Karena sekarang aku sudah punya Jessica.

"Dan...!" panggilnya. Kini dengan suara agak pelan, tapi terdengar tegas.

"Ah, kenapa?"

"Kamu tuh, yang kenapa." Perlahan Juli membatalkan antusiasmenya. "Ya sudah. Kalau kamu nggak mau cerita.Itu kan privatenya kamu. Tapi, lama-lama aku bosen sama kamu."

"Loh, kenapa?"

"Kamu ngomongnya dari tadi muteer aja. Kalau nggak mau cerita ya bilang aja, sorry yah Jul. Aku nggak bisa cerita tentang itu. Kan jelas!"

Merasa tidak ingin menghilangkan mood Juli yang sepanjang hari ini telah banyak membantu, perlahan aku memberanikan untuk berbicara.

"Oke... Aku nggak keberatan kok kamu tau, dulu aku naksir sama siapa." Kulihat Juli sudah mulai tidak peduli.

"Aku suka sama kamu, tapi Ryan lebih dulu nembak. Nggak jadi deh!"

"Kamu serius?" tanya Juli membenarkan posisi duduknya.

"Kapan sih, aku main-main soal beginian?"

Sekiranya 5 detik, keheningan mulai menyertai datangnya gelap yang menandakan kami berdua tidak mungkin kembali ke dermaga hari ini juga. Sebelum Juli mengetahui apa yang lama terpendam dariku, dan merasa tidak akan ada lagi suasana yang lepas di antara kita.

"Ta... Tapi Dan... Kenapa kamu baru bilang?"

"Yah, aku cuma merasa tidak pantas aja sama kamu. Kamu cantik, cerdas, ketua PMR lagi. Apalagi waktu Ryan nembak kamu. Kapten tim futsal yang penggemarnya udah kayak seisi sekolahan. Kalian juga romantis. Sering boncengan sama-sama. Aku mana punya motor? Ke sekolah aja naik angkot. Lagian aku bukan anak futsal, basket atau bulutangkis. Aku cuma ikut-ikutan majelis di remaja masjid. Nggak ada tandingannya dengan..."

"STOP! Cukup bandingin kamu dengan Ryan, Dan!" sela Juli dengan nada yang agak meninggi.

"Siapa bilang kamu nggak ada apa-apanya dibanding yang lain? Kamu yang terlalu tertutup, dan nggak pernah mau berdamai sama dirimu sendiri. Coba ingat! Siapa yang dulu jago ngeditin foto? Siapa yang bantu pak Adi buat ngedit desain website sekolah? Siapa yang selalu dipuji sama pak Surya di pelajaran Fisika? Kamu memang beda sama mereka. Tapi bedanya bukan ibarat ini kece dan itu nggak. Tapi itu kayak keahlian masing-masing. Yang satu jago bola, yang satu jago IT, yang satu jago sketsa. Itu semua kan skill, Dan!"

Seperti dililit kawat yang kuat, kepalaku terasa pening. Spontan aku melontarkan pertanyaan kepada Juli.

"Sorry yah, Jul. Tapi kenapa kamu tiba-tiba mojokin aku?"

"Aku nggak mojokin kamu. Tapi, Aku cuma ngasih tau kamu,, kalau kamu terlalu rendah diri. Dan gara-gara kamu..." Seketika Juli terlihat seperti putus asa.

"Gara-gara aku? Apa?"

"Aku pernah, ngasih info ke teman sekelas kalau kamu lagi ulang tahun. Waktu itu nggak ada yang tahu atau mungkin nggak ada yang peduli. Pulang sekolah, aku baca di notifikasi dari Facebook kalau kamu lagi ulang tahun. Besoknya, aku ngajakin anak-anak buat nyorakin kamu yang lagi main game di pojokan kelas. Akhirnya, anak-anak ngasih kamu ucapan. Terus, kamu pernah teriris pisau waktu di lab Kimia. Aku langsung ngambil antiseptic dari kotak P3K dan nyuruh Rino, solmet kamu buat bersihin lukamu. Aku nerima Ryan, karena aku merasa kamu nggak pernah peduli sama aku. Aku takut perhatianku cuma ke kamu cuma sebatas karena aku suka sama kamu."

Semua yang dipaparkan Juli seketika tayang dalam ingatanku. Ini seperti film, yang mana sutradaranya sengaja membuat skenario bahwa dua insan yang saling memendam rasa masing-masing. Kemudian rahasia hati itu terungkap di ending cerita. Namun, bedanya aku tidak mungkin membiarkan hal ini berlarut. Aku teringat Jessica. Adik tingkat yang baru saja kutemui dan mengajaknya tunangan.

"Sorry, Jul. Aku beneran nggak tau kalau kita pernah punya rasa yang sama. Aku berpikir begitu karena aku cuma mau yang terbaik buat kamu. Kamu tau, kan? Setiap kita punya pertimbangan masing-masing."

"Terus gimana? Kamu mau tetap sama pendirianmu yang nggak bakal bikin maju itu?"

"Terus terang, Jul. Dari pertama kita ketemu kemarin, nggak tau kenapa ada yang membuatku nyaman ngobrol denganmu. Dan sepanjang perjalanan tadi, sebisa mungkin kualihkan perhatian ke pemandangan yang kita lalui. Termasuk waktu kita berdua di mobil, di atas kapal, sampai beberapa menit lalu, kamu nanya kalau aku nggak capek yang dari tadinya jepret san-sini. Itu aku nikmatin, Jul. Aku nyaman sama kamu, tak terkecuali saat ini. Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Juli.

"Aku nggak bisa, Jul. Aku nggak bisa."

"Kenapa, Dan? Mau lari lagi?"

"A... Aku... Udah punya Jessica. Adik tingkatku di kampus dulu. Kita ketemuan belum lama ini. Dan, kalau nggak ada halangan melintang, kita udah komitmen buat married habis lebaran."

"Kamu tuh... Sengaja yah, mainin perasaan aku?" ucapnya sambil terisak lalu berlari setelah perlahan mendorongku yang mulai mendekat.

Tak mungkin ku kejar ia menuju penginapan. Apalagi sembari berteriak memanggil namanya. Hanya akan menjadi tontonan warga setempat. Akhirnya, dari dalam bilik kucoba menyapanya melalui pesan instan. Namun, ia tak merespon. Keterangan menunjukkan bahwa ia terakhir aktif pada pukul 14.00. Itu artinya, ia belum pernah membuka akun miliknya setelah kejadian di bawah pohon kelapa itu.

Ditelepon juga tidak diangkat. Dua panggilan terakhirku akhirnya ditolak. Aku pun bergumam, "Bodohnya aku... mengungkit cerita yang sudah lama berlalu." Jalan terakhir, kucoba meminta maaf melalui pesan instan. Entah kapan ia mau membacanya. Jelasnya, hal itu adalah langkah terakhirku untuk memperbaiki semuanya.

Ternyata kekesalannya tidak berlangsung lama. Esok hari ia kemudian meminta maaf atas kejadian semalam. Ia pun mengurus semua keperluan untuk kembali ke dermaga. Namun, sikapnya seperti tidak sama dengan yang kuterima kemarin. Tak ada lagi suasana hangat bersamanya di atas kapal, tak ada lagi tawa lepas karena cerita lucu dari pengalaman masing-masing, bahkan sesampai di dermaga, ia meminta agar aku yang menyetir mobil. Ia akhirnya duduk di belakang, tanpa mengucapkan satu kata dan pertanyaan pun.

Sampai hari di mana jadwal penerbanganku kembali ke kota asal. Ia hanya menjawab, "Take care!" Sungguh aku tak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku merasa berhutang budi, di sisi lain merasa bersalah. Sesekali, peristiwa ini berdampak pada suasana yang absurd dengan Jessica.

"Kamu lagi mikirin apa, sayang?"

"Ah, nggak mikirin apa-apa, kok."

"Kamu baik-baik aja kan, selama di Makassar?"

"Iya, sayang! Aku baik-baik aja."

Empat bulan telah berlalu. Momen lebaran telah berlangsung selama seminggu. Kedua keluarga tengah berunding untuk mempersiapkan acara pernikahan dua insan yang namanya terukir dengan tinta hijau dengan ukiran fonetik yang indah. Tak ketinggalan undangan itu kubagikan dalam grup pesan instan khusus alumni SMA-ku. Berbagai ucapan selamat dari rekan lama menggantikan kesunyian grup yang tadinya berada di urutan paling bawah dari daftar pesan. Ada yang berjanji akan datang, ada pula yang memohon maaf tidak bisa mengikuti karena sebab tertentu. Namun, tak ada satu pun yang tertulis dari akun Juli. Ia hanya membaca undangan tersebut, tak meresponnya. Terlebih tak memberiku ucapan secara pribadi.

Waktu akad akhirnya tersisa dalam hitungan menit. Para tamu undangan telah memenuhi gedung yang telah terhias dekorasi khas budaya setempat. Satu persatu rekan dan kerabat bergantian mengabadikan momen ini bersama kedua mempelai. Hingga akhirnya, aku dan Jessica telah berada dalam satu kamar yang telah diperuntukkan untuk kami, raja danratu sehari. Kami berdua saling melempar senyuman. Namun, suara ketukan pintu berhasil membuyarkan perhatian kami.

"Jessica! Jordan! Ada kiriman paket, nih!"

"Dari siapa, bu?" tanya Jessica yang sedang membukakan pintu.

"Nggak tau. Namanya tidak mau disebutkan oleh kurir."

"Oh iya. Terima kasih, bu! Biar nanti saya dan mas Jordan yang buka," pinta Jessica sambil tersenyum.

"Baiklah. Kalian istirahat yah!"

Pikiranku kemudian mencoba menebak siapa yang mengirim paket tanpa mau memberitahu namanya. Sesekali aku teringat Juli, dan bertanya-tanya, "Apakah ini kiriman dari Juli? Mudah-mudahan semua bakalan baik-baik saja," gumamku.

Tatkala dibuka, ternyata benar bahwa pengirim paket adalah Juli. Namanya yang terukir dari sketsa huruf yang berbahan kertas metalik kilat menghiasi kotak. Di bagian sisi samping terdapat tulisan, “Congratulations on your wedding! Wishing you a lifetime of love and happiness.”

Kutengok Jessica yang tengah menyaksikan ucapan itu. Perlahan ia menyimpulkan senyumannya lalu berkata, "Buka aja, mas! Aku nggak keberatan."

Seperti tahu apa yang akan kutanyakan. Mendengar ungkapan itu, sepintas kulepaskan penutup kotak. Di dalamnya berisi sprei berukuran 200x200 dengan warna yang merona. Tak hanya itu, ada sebuah bantal berbentuk Love yang bertuliskan "Happy Wedding". Menyadari kehadiran Jessica, seketika aku meminta izin untuk membaca surat yang satu-satunya tersisa dalam kotak.

"Silahkan, mas!" Sekali lagi ia membolehkanku membaca surat dari Juli. Meski ia belum tahu persis siapa dan seperti apa hubunganku dengan Juli sebelumnya.

Dalam hati kubaca kata demi kata yang dituliskan Juli. Tak ada indikasi bahwa ia berada dalam masalah. Yang tertulis hanyalah ucapan selamat, dan permohonan maaf darinya karena tidak bersikap bijaksana dalam menanggapi apa yang telah terjadi. Ia menyadari bahwa antara aku, Jessica dan dirinya adalah satu ketentuan yang telah digariskan oleh sang ilahi. Ia pun memohon maaf karena tidak sempat menyaksikan hari bahagiaku bersama Jessica dikarenakan ia harus mengurus persiapan keberangkatan adiknya untuk mengikuti pertukaran pelajar dengan siswa dari negara tetangga.

Akhirnya, ia menutup suratnya dengan ajakan agar aku dan Jessica suatu saat berkesempatan kembali bertandang ke kotanya. Ia menuturkan, bahwa di sana juga sedang marak sebuah isu yang menggaungkan lingkungan yang inklusif, khususnya bagi masyarakat disabilitas. Ia menyayangkan kalau aku tidak segera meliput berbagai macam gebrakan-gebrakan yang dilakukan dari mereka. Menurutnya, semangat dalam menyuarakan kesetaraan di tanah daeng tidak kalah dengan aktivis tanah Jawa.

Melalui pesan instan, aku pun mengkonfirmasi bahwa paketnya telah kuterima dan menghaturkan terima kasih atas ucapannya. Tak lupa aku berjanji akan menyiarkan kabar perjuangan aktivis di kotanya kepada para awak media di perusahaan tempatku bekerja. Setelah itu, kembali kuarahkan pandangan ke Jessica.

"Kamu keberatan?" tanyaku.

"Nggak, kok mas!"

"Lho, kok bisa? Kamu nggak marah?"

"Nggak."

"Kenapa?"

"Kan kamu sekarang udah sama aku," pungkasnya sembari tertawa tipis.

Kembali kulemparkan senyuman ke arahnya. Ia pun menyambut dengan indah, yang selanjutnya hanya kami berdua yang boleh tahu.

*** Tamat ***

Post a Comment for "Rahasia Hati"

Advertisement: Dapatkan Layanan Domain dan Hosting Murah!