Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Manfaatkan Masa Mudamu Sebaik Mungkin!

Masih segar dalam ingatan penulis, masa ketika berada di bangku Taman Kanak-Kanak. Saat itu di ruang kelas, di jam pelajaran sang guru bertanya tentang cita-cita masing-masing dari kita. Alih-alih ingat dengan impian sendiri, hanya cita-cita teman lainnya yang terekam baik dalam memori. Sebagian dari mereka menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot, kapten kapal, tentara dan sebagainya. Entah saat ini mereka telah menjadi sesuatu yang sesuai dengan harapan saat itu, atau ada yang memilih jalan lain.

Gambar Seseorang Mengetik di Atas Meja

Penulis sendiri, yang saat itu masih berpemikiran polos menganggap bahwa dunia hanya tempat untuk bermain. Banyak hal yang bisa dimainkan. Di antaranya Playsation yang penulis dapatkan sebagai hadiah dari om di Jakarta, komputer yang baru saja dibeli oleh bapak, handphone milik mamak yang bisa digunakan untuk bermain ular-ular, sebuah bola sepak yang biasa penulis mainkan di halaman rumah, dan masih banyak lagi. Namun, pemikiran itu terbantahkan dengan kata-kata mamak saat penulis beranjak ke kelas 2 SD. Beliau mengatakan, "Tidak boleh orang main terus." Bahkan, sejak kelas 3 SD di rumah telah diterapkan aturan bermain PS hanya boleh dilakukan di hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya. Batasan bermain PS itu terkadang membuat rasa tak sabar menanti akhir pekan tiba. Pun jika sudah memasuki masa penaikan kelas, penulis selalu menghabiskan waktu dengan PS tercinta.

Walau di tengah aturan itu, penulis tetap dibiarkan membuka permainan di komputer. Menurut mereka permainan di komputer lebih ringan dari pada PS yang mampu membuat candu. Dan benar juga, di komputer hanya ada permainan kartu, catur dan sebuah perjalanan pesawat yang kita kenal dengan nama "Demonstar". Tak hanya bermain game, penulis yang sering memperhatikan bapak dan mamak sibuk menarikan jari-jemarinya di atas papan ketik sembari memantau huruf perhuruf yang muncul satu persatu di layar, mulai penasaran dan sedikit demi sedikit memperhatikan bagaimana langkah-langkah menyalakan komputer, membuat dokumen, sampai mencetak hasil ketikan. Akhirnya mamak bersedia mengajari bagaimana cara membuat dokumen dengan menggunakan aplikasi "Microsoft Word 2003". Sebagai latihan, penulis mencoba memulai mengetik ulang sebuah cerita yang diambil dari salah satu buku pelajaran sekolah. Setelah puas, hasil ketikan itu akhirnya dicetak. Tak terbayangkan wajah polos yang terlukis di waktu itu tatkala memperhatikan sebuah mesin yang bisa menuliskan sesuai yang diketikkan di layar monitor.

Saat itu, mulailah penulis melakukan eksplorasi ala anak-anak. Ternyata perangkat ini juga bisa digunakan untuk memutar media seperti musik, video, melihat foto dan gambar dan menonton film. Tak jarang komputer mengalami kerusakan system akibat rasa penasaran ini, hehe...

Sejak tahun 2009, di rumah telah terfasilitasi akses internet melalui koneksi modem. Dan lagi-lagi, yang menjadi penguasa atas piranti itu adalah penulis. Mengenal media sosial Facebook dari saudara sepupu, akhirnya membuat candu bagi penulis. Rasa penasaran muncul seketika, "Apa lagi yah, yang bisa dilakukan di internet?" Perlahan Youtube menjadi platform terfavorit untuk menonton video, mendengarkan lagu, serta alat penelusuran Google yang biasanya digunakan untuk mencari informasi terkini. Semuanya penulis coba dan lakukan. Sampai akhirnya, beberapa kali penulis membuka berbagai alamat situs yang diakhiri dengan kata "blogspot.com", atau "wordpress.com". Taka jarang pula, ada yang memberikan nama pada situs tersebut dengan nama "Aldy's Blog", "Ryan's Blog", dan sebagainya.

Penulis akhirnya menemukan situs yang menerangkan tentang cara membuat blog. Setelah mencoba dan berhasil, sedikit demi sedikit penulis belajar membuat tulisan sederhana. Bisa dikatakan, aktifitas itu hanya sekadar keisengan semata, namun asyik dilakukan. Ada kepuasan tersendiri tatkala melihat statistik pengunjung yang membaca tulisan ecek-ecek itu. Sejak saat itu, menulis blog menjadi salah satu aktifitas sampingan penulis.

Belakangan, penulis menyadari bahwa menulis menjadi aktifitas yang lebih nyaman dibandingkan berbicara di depan umum. Walau demikian, aktifitas menulis pernah ditinggalkan beberapa waktu lamanya. Blog akhirnya tidak terurus. Hari-hari penulis habiskan untuk aktifitas lain. Hingga akhirnya masa perkuliahan tiba.

Bangku kuliah, bisa dikatakan sebagai tempat untuk mencari jati diri. Di sana kita bertemu dengan beragam perspektif. Dan memang kita dilatih untuk mengutarakannya. Namun, penulis yang introvert, yang hanya memiliki sedikit energi untuk berada di tempat ramai terkadang merasa tidak memiliki keahlian. Kemampuan bermusik yang pas-pasan, minat yang kurang di bidang olahraga, dan pengetahuan komputer yang sudah tertinggal memunculkan sebuah pertanyaan yang terbesit, yakni "Saya punya keahlian di bidang apa yah?" Hingga suatu hari, penulis mengutarakannya kepada seorang teman. Dirinya memberikan saran agar tetap melakukan hal yang digemari. Fokus pada aktifitas positif yang bisa memberikan nilai lebih untuk sekitar. Hal-hal sederhana di antaranya adalah membuat video tutorial di Youtube, menulis blog, ikut kegiatan organisasi dan sebagainya.

Baru saat itu, penulis menyadari kebiasaan lama yang telah ditinggalkan. Aktifitas blogging yang dulunya menjadi motivasi untuk langsung pulang ke rumah usai pelajaran di sekolah, yang biasa menjadi bahan berbagi dengan salah seorang teman di bangku SMK, terlebih wadah untuk membagikan gagasan kepada warganet. Mulailah sejak itu kembali menekuni aktifitas dan membangun blog dengan jargon dan sedikit adopsi dari Ilmu Komunikasi yang dipelajari dari bangku kuliah.

Seandainya saat itu penulis tidak penasaran dengan internet, tidak mencoba membuat blog, dan tidak pernah sama sekali mencoba menulis. Entah seperti apa yang bisa dilakukan sekarang ini. Seusai tamat dari kampus, menulis masih menjadi salah satu aktifitas yang bisa dikerjakan penulis dalam kehidupan yang nyata saat ini. Di mana kita telah dilepaskan dari kampus untuk mengambil jalan masing-masing.

Maka dari itu, pelajaran dari coretan sederhana ini adalah, pentingnya untuk menggalih potensi diri di masa mudamu. Gunakan waktumu untuk penasaran. Coba hal-hal baru selagi kamu memiliki waktu luang sebelum tiba masanya hidup akan menuntutmu.

Mengapa?

  1. Usai kuliah, kamu akan menjalani hidup yang sebenarnya. Tersedia beberapa pilihan, seperti mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Perusahaan menuntutmu untuk bisa menerapkan keterampilan yang kamu miliki untuk kemajuannya. Sementara, keterampilan yang kamu dapatkan dari bangku kuliah tidak seberapa. Hal ini dikarenakan bangku kuliah adalah wadah untuk mengasah kemampuan akademik. Walau pun ada, tetapi praktik di bangku kuliah mungkin sekitar kurang dari 35%.
  2. Masa mudamu idealnya tidak menuntutmu kecuali belajar. Bangku SD, SMP, SMA dan kuliah adalah masa yang tidak mengharuskanmu untuk melakukan sesuatu demi menyambung hidup. Prosesnya pun terbilang cukup lama untuk setidaknya mendalami keterampilan tertentu. Akan sulit jika kamu baru akan memulai menggalih potensi saat lepas dari perkuliahan. Karena berbenturan dengan tuntutan hidup dan hal yang harus kamu dalami.
  3. Tak jarang harapan dan kenyataan tidak sejalan. Tak menutup kemungkinan, kamu akan mengambil jalan yang berbeda dari cita-cita yang kamu junjung tinggi sebelumnya. Hal ini tentu disebabkan oleh berbagai faktor.
  4. Ingat, ketika lulus dari perkuliahan kamu akan bersaing dengan jutaan lulusan dari bidang ilmu yang sama. Pesatnya perkembangan teknologi pun sedikit demi sedikit mulai menggeser lahan kerja yang bisa dilakukan manusia. Serta terciptanya bidang-bidang kerja yang baru. Kamu memerlukan ciri khas tersendiri untuk bisa bersaing dengan yang lain. Apa lagi, saat ini kita berada dalam era bonus demografi, di mana jumlah orang yang produktif lebih banyak ketimbang ketersediaan lapangan pekerjaan.

Sebagai contoh, Rommy bercita-cita menjadi pengembang perangkat lunak bidang keuangan. Ia bermimpi suatu saat bisa menciptakan aplikasi pembayaran yang termutakhir. Ia pun memilih program studi Informatika di salah satu perguruan tinggi di kotanya. Namun, ia hanya mengandalkan pelajaran dari mata kuliah yang ia terima, tanpa mengeksplorasinya. Tak ada kiat untuk mendalami bahasa pemrograman, dan melatih keterampilan umum lainnya seperti berbicara, menghadapi tes wawancara dan sebagainya. Padahal, untuk terjun ke sebuah perusahaan harus melalui tahapan rekrutmen yang terdiri dari berbagai tes seperti tes pengetahuan dasar, wawancara, psikologi dll.

Dari contoh di atas, Rommy nampaknya belum menyisihkan sebagian waktunya untuk menggalih potensi diri. Menurutnya, materi di bangku kuliah sudah cukup dan tidak perlu dieksplorasi. Dirinya pun masih sering gugup jika berbicara di depan umum. Dan tidak memiliki skill menulis sama sekali. Tantangan Rommy saat ini, bagaimana untuk bisa bersaing dengan pelamar lain yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan memiliki wawasan yang lebih dibandingkan dirinya. Dan yang terpenting adalah, bagaimana meyakinkan HRD bahwa dirinyalah yang pantas untuk dipilih dari sekian banyaknya pelamar di perusahaan itu.

***

Post a Comment for "Manfaatkan Masa Mudamu Sebaik Mungkin!"

Advertisement: Dapatkan Layanan Domain dan Hosting Murah!