Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Refleksi 8 Tahun Mengajar

Penulis: Sujono said

"Ais! Antaraa mintara mange ngajara na!" (Ais, antar saya pergi mengajar besok na!) ujar penulis kepada sang adik yang bertepatan pada tanggal 10 agustus 2014 silam. Sang adik pun kaget bukan main ketika tahu penulis akan diterima mengajar di SLB yukartuni di bilangan Tamangngapa Antang yang termasuk kecamatan Manggala Kota Makassar.

Foto Sujono Dengan Seseorang Di Tengah Pemandangan Alam

Izinkan penulis melakukan semacam refleksi jauh ke belakang. Semoga penulis kuat untuk mengenang semua ini. Jujur saja, penulis masuk Fakultas Hukum bukan murni keinginan penulis. Melainkan, itu adalah jurusan yang tersedia dan harus penulis pilih ketika penulis mendaftar pada kampus yang penulis ingin masuki.

Dalam artian, ketika penulis ingin masuk ke kampus dengan harapan penulis menjadi tunanetra pertama berkuliah di kampus tersebut. Penulis sebenarnya ingin masuk Sospol, tapi adik penulis lebih condong merekomendasikan penulis masuk Fakultas Hukum (FH). Dan dukungan tersebut diperkuat oleh mama(ALM) yang telah berpulang ke haribaan ilahi 26 agustus 9 tahun silam.

Karena berhubung ada andil mama, maka penulis ridha mengikutinya dan penulis masuk FH tanpa paksaan. Jujur, sebenarnya yang membuat penulis takut masuk FH karena di mata penulis seorang mahasiswa FH harus kuat menghafal produk hukum yang tebalnya masya allah. Tapi, ternyata saat penulis menjalani faktanya tak seperti itu.

Bagi mahasiswa Hukum yang ingin menambah kualitas diri, silahkan hafal dan kuasai produk hukum seperti KUHP, KUH Perdata atau bisaa juga disebut BW (Burgelicky wet buk), KUHAP(kitab undang-undang hukum acara pidana) dan produk hukum lainnya. Penulis tetap belajar banyak dan banyak belajar mengenai ilmu hukum dan selesai dengan nilai A pada 22 nofember, 9 tahun silam.

Ketika penulis masuk semester 3, ternyata kebiasaan penulis yang sudah menjadi hobi sejak SMU, yaitu mengisi kelas training muncul. Dan akhirnya, ketika penulis mempunyai waktu luang, penulis menggunakannya untuk membuka kelas training. Salah satunya adalah training motifasi dan training public speaking. Saat itulah, hasrat menjadi guru muncul. Penulis pun bertekat ingin mengajar di sekolah swasta atau pesantren.

Namun, ketika penulis akan menyelesaikan studi, penulis malah berkeinginan kembali mengajar di SLB, dengan tujuan ingin menanamkan paradigma inklusi pada anak-anak berkebutuhan khusus di SLB yang belum disentuh oleh paradigma inklusi. Bukan seperti tuduhan miring yang sempat dialamatkan kepada penulis yaitu mengajar di SLB karena ingin cari hidup di kantong komunitas tunanetra, Astagfirullah!

Foto Sujono Dengan Seseorang

Akhirnya, tanggal 22 Juni 2014, penulis telah menjalani wisuda, pagi. Saat penulis akan berangkat wisuda, tetiba HP penulis berdering dan ternyata itu adalah dari Firman, teman baik penulis. Dalam percakapan kami, ia berjanji akan mengajak penulis untuk bermain musik di SLB tempat ia mengajar. Alamat baik itu muncul ketika penulis melakukan halal bihalal pasca idul fitri dan mampir ke SLB yang dimaksud untuk shalat ashar. Saat itulah, Firman berkata kepada penulis “Jono! Mauko mengajar di sini?" (Jono apa kamu mau mengajar di sini?) Penulis pun mengiakan tawaran Firman. Mengetahui itu, penulis pun dipertemukan dengan Pak Utsman Hafid sanggana, ketua Yayasan usaha karya tunanetra Indonesia (YUKARTUNI). Singkat cerita, penulis diterima mengajar.

Akhirnya, 11 agustus 2014, penulis memulai karier sebagai guru. Selama penulis mengajar, banyak sekali pengalaman yang penulis rasakan, terlebih ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki karakter beragam. Namun, selama penulis mengajar, penulis selalu mendapat dukungan, baik dari Kepala sekolah, maupun ketua yayasan.

Di luar jam mengajar, penulis selalu berdiskusi banyak hal. Salah satunya adalah menanamkan paradigma inklusi bahwa mereka boleh berkuliah di universitas bersama mahasiswa non tunanetra. Itulah yang membuat mereka seemangat untuk mengejar asa ke perguruan tinggi pasca mereka selesai di SLB jenjang menenga umum.

Saat penulis tersebar kabar akan mengajar, keluarga utamanya papa yang kini tak berdaya karena terserang struk senang bukan kepalang, ketika penulis mengirimkan SMS ke beliau bahwa besok, 11 agustus 2014 penulis akan masuk mengajar. Keluarga lain seperti Om dan Tante juga memberikan dukungan bukan hanya moril. Bahkan, dukungan tersebut ada yang diberikan dalam bentuk insite mengenai pelaksanaan proses belajar mengajar, ada yang memberikan dukungan dalam bentuk property seperti peralatan mengajar dan kostum. Sedangkan papa sendiri menyiapkan seragam linmas dan keki karena tahun 2014-2016 linmas digunakan tiap senin. Perjalanan penulis sebagai guru, ternyata penuh warna. Tapi, yang berkesan bagi penulis kala itu, karena banyak teman seangkatan.

Ya!, penulis saat masuk mengajar berbarengan dengan beberapa orang guru yang kala itu harapan semua pihak adalah pertanda baik bagi SLB YUKARTUNI yang kala itu berada dalam masa keemasan sejak berdiri 2008 silam. Namun, terjadi dinamika yang berujung pada pergolakan akibat ulah oknum pendidik yang tak bertanggung jawab yang mana penulis juga nyaris kena dampaknya hingga banyak guru yang pindah. Namun demikian, setiap peristiwa memiliki hikmah, karena sejak itu SLB YUKARTUNI justru memasuki masa-masa kejayaan. Indikator kejayaan itu, ketika YUKARTUNI sering mengirimkan wakilnya mulai dari O2SN, FLS2N, Festifal literasi, dan even-even lainnya. Mulai dari tingkat gugus, hingga kanca nasional.

Hal lain yang penulis peroleh ketika mengajar di SLB YUKARTUNI tepat pada setahun pertama adalah seringnya penulis ditunjuk sebagai delegasi untuk mengikuti pelatihan dan memperoleh ilmu yang akhirnya penulis terapkan sedikit demi sedikit di sekolah. Penulis banyak memperoleh ilmu dari para pengawas PKLK yang menjadi Widyasuara di tiap pelatihan yang penulis ikuti, plus saat pembinaan di sekolah binaan.

September 2017, secara kebetulan penulis menjadi utusan sekolah untuk mengikuti kegiatan Workshop berketunaan. Di sela-sela covy break, penulis secara kebetulan berbincang-bincang dengan delegasi dari SLBN 1 Kab Kep Selayar. Dari beliau, penulis mendengar bahwa Kepala sekolah SLBN 1 Kab Kep Selayar mendirikan SLB Yayasan yaitu SLB Yayasan Pendidikan khusus An-nisa (YPK an-nisa).

Menindaklanjuti informasi tersebut, Juli 2018, secara kebetulan sedang mudik ke Kab Kep Selayar yang merupakan kampung halaman penulis. Penulis meminta Papa untuk bertemu dengan Ketua YPK Annisa. Dalam hal ini adalah Kepala sekolah SLBN 1 selayar yang juga memiliki hubungan keluarga dekat dengan penulis. Papa bilang, “Apa kita tidak salah jalur nak?” “Tidak” ujar penulis. Beliau kan Kepala sekolah di negeri, bukan di An-nisa” ujar papa. “Ia pak, tapi beliau ketua yayasan, diatasnya kepala sekolah lo!” ujarku. Dengan mantap. Kami pun bertandang ke rumah beliau. Dalam pembicaraan beliau, beliau sangat berterima kasih karena penulis ingin mengajar di tempat beliau. Hal itu diungkapkan dengan suara terisak lantaran menahan haru. Tapi, ia mengatakan bagaimana kamu melaksanakan tugas nak? Karena problemnya kendaraan tak selancar di Makassar menuju ke YPK Annisa. Akhirnya, pembicaraan pun detlok alias tidak membuahkan hasil, dan penulis kembali mengajar.

Akhir 2020, ketika dunia akan memulai masa adaptasi baru atau lebih dikenal dengan istilah knew normal life, secara kebetulan rumah penulis di bilangan Manggatiga Makassar dijual, lantaran hasilnya akan digunakan menikah oleh sang adik. Di masa-masa ini, tepatnya pada 23 desember 2020, penulis bersama ke2 adik penulis menjadi saksi akad jual beli antara Papa dan pihak pembeli. Sepulang dari notaries, adik yang akan menikah ini mengatakan pada penulis “Jon! Siapa tau kamu gerah di Makassar, ikutmi ke Kendari”. “Eh! Kenapaka saya muajak-ajak pindah? Na saya senangma di sini?” Ujar penulis marah. Dan saat penulis berangkat ke Kendari pada 13 Januari 2021 dalamrangka menghadiri akad nikah adik pada 15 Januari2021 silam, perasaan hati penulis tak dapat dibohongi, penulis ternyata jatuh cinta akan kondisi alam Kendari yang masih asri. Mengetahui perasaan penulis, sang adik pun berujar”Makanya carimako sekolah di Kendari”. Sepulang dari kendari, akhirnya penulis melakukan kontemplasi(permenungan). Dan hasil permenungan tersebut makin menguatkan penulis untuk hijrah ke Kendari. Lantaran ketika tak ada rumah di Makassar, penulis akhirnya merasa sendiri. Walau ada keluarga, bagi penulis ketika tak ada asset lagi sama halnya dengan sendiri. Namun, penulis tetap menunggu waktu baik untuk berbicara dengan keluarga. Terutama adik dan ayah penulis sembari mencari-cari reverensi sekolah.

Akhirnya, bulan juli 2021, secara kebetulan penulis berbicara dengan salah satu teman penulis asal Sultra tapi sedang menjalani studi di Universitas Islam nusantara jurusan PLB di Bandung kala itu. Saat pembicaraan berlangsung, penulis mengutarakan maksudhatinya sebagaimana telah dijelaskan diatas dan ia merekomendasikan SLB Kusumabangsa kendari yang secarakebetulan yang menjadi pendiri sekaligus sebagai ketua dewan Pembina yayasan adalah guru dari yang bersangkutan waktu sekolah dulu.

Setelah memantapkan hati, membicarakan hal ini kepada keluarga, dan meminta petunjuk dari yang kuasa, akhirnya pada tanggal 25 april 2022, tepatnya pada 23 ramadhan, penulis mengontak ketua dewan Pembina Yayasan Kusuma Bangsa yang menaungi SLB Kusuma Bangsa kendari. Dalam pembicaraan penulis dengan beliau, beliau di ujung telephone lebih banyak memberikan wejangan dan informasi yang akhirnya membuat hati penulis semakin mantap memilih SLB Kusuma Bangsa sebagai tempat tugas yang baru. Hasil pembicaraan tersebut penulis tindaklanjuti sesampai di Makassar dengan memproses kelengkapan berkas sesuai petunjuk dari beliau di ujung telphone.

Pada tanggal 13 Juni 2022, penulispun bertolak ke Kendari untuk menyampaikan berkas penulis kepada pihak yayasan tanpa diketahui oleh keluarga baik di Makassar maupun di kendari. Akhirnya, pada kamis 16 Juni 2022, penulis bersama dengan adik mengantarkan berkas. Tapi, tidak sempat bertemu dengan pihak yayasan lantaran penulis terlambat tiba dikarenakan berbagai kendala teknis yang penulis alami.

Berdasar komunikasi dan arahan pihak yayasan kala itu, maka berkas penulis titip lewat penjaga sekolah. Namun, 2hari kemudian, penulis mendapatkan info untuk mengikuti vit and propertest. Ada hal menarik, selama penulis mengurus berkas. Lantaran kebetulan sekali ada adik sepupu satu kali akan melaksanakan pesta pernikahan di Kendari dan keluargapun berkumpul. Bahkan, ayah dari sang adik sepupu dalam hal ini adalah om penulis terkejut ketika penulis bertandang ke rumah beliau sehari pasca pengajuan berkas sembari menunggu panggilan untuk vit and proper test.

Hari itu, tepatnya pada sore hari, penulis bertandang ke rumah beliau, beliau bersama sepupu-sepupu yang ada di sana kaget melihat penulis turun dari kendaraan. Penulis ditanya “Kapan ko kesininak” Tanya om “waktu hari senin om”, jawab penulis.

Penulispun menjelaskan bahwa selain ingin menghadiri pesta pernikahan sepupu, penulis juga ingin mengurus kepindahan penulis. Keesokan harinya, tepatnya sehari sebelum vit and proper test dengan yayasan, keluarga dari Makassar sudah berkumpul di kendari, dan kaget bertemu dengan penulis. Kepada mereka, penulispun menyampaikan bahwa besok minggu 19 Juni akan mengikuti vit and proper test dengan yayasan. Mereka(keluarga) merespon dengan mengutarakan keinginan mereka untuk mengikuti dan mengantar penulis mengikuti vit and proper test. Dengan bercanda, kepada mereka penulis bilang monggo(silakan). Ternyata, candaan penulis mereka tanggapi dengan serius. Akhirnya, penulis melakukan perjalanan ke SLB Kusumabangsa didampingi oleh rombongan keluarga. Dalam perjalanan, penulis hanya bisa tertawa dalam hati karena bagi penulis yang hanya akan mengurus kepindahan layaknya orang yang diantar untuk mendaftar jadi calon rector, atau calon presiden RI hehe. Sesampai penulis di SLB kusumabangsa beserta rombongan, penulis disambut oleh pihak yayasan, setelah itu vit and proper test dilakukan secara tertutup, sedang keluarga yang notabene adalah wartawan social media hanya menunggu di pelataran sekolah sambil berswavoto, lantaran pemandangan sekitar SLB kusumabangsa yang asri dan enak dipandang mata.

Selama penulis mengikuti vit and proper test, penulis tidak lagi terlalu banyak dicecar pertanyaan. Lantaran penulis telah banyak dicecar ketika penulis berbicara phia telephone dengan beliau. Saat vit and proper test dilakukan secara tertutup, beliau hanya lebih banyak menyampaikan aturan main yang harus dipatuhi. Setelah itu, penulispun dinyatakan diterima sebagai guru dan vit and proper tes dinyatakan usai.

Selama penulis melakukan vit and proper test di dalam ruangan, penulis tidak terlalu tahu keriuhan keluarga yang menjadi tim sukses di luaran sana. Dan setelah uji kelayakan dan kepatutan atau vit and proper test selesai, pihak yayasan terlebih dahulu meninggalkan ruangan sedang penulis keluar belakangan.

Sesampai di pelataran, penulispun menyampaikan pidato kepada keluarga yang menjadi tim sukses yang juga merangkap sebagai wartawan social media, dalam pidatonya, penulis mengucapkan terimakasih telah sudi mengantar penulis untuk mengikuti uji kepatutan dan akhirnya resmi pindah mengajar dari Makassar ke Kendari.

Akhirnya, 2hari pasca vit and proper test dan ditetapkan sebagai guru SLB Kusumabangsa, penulispun bertandang ke Selayar untuk bertemu dengan ayahanda. Setelah genap 2 hari di Selayar, penulis bertolak ke Makassar untuk mengambil barang dan pamit kepada kepala sekolah SLB Yukartuni beserta pak Utsman hafid selaku ketua yayasan. Akhirnya, pada Selasa 28 Juli, penulis dengan pesawat City link, penulis bertolak menuju Kendari dank eesokan harinya, penulis mengikuti rapat pembagian tugas bersama rekan-rekan guru dan kepala sekolah. Dan hari itu, tepatnya pada sore hari penulispun tinggal di rumah dinas yayasan yang dikenal dengan rumah singga.

Tanggal 11 juli2022, penulispun mulai melaksanakan tugas di tempat yang baru. Di SLB kusumabangsa, penulis tidak menangani siswa tunanetra, berhubung memang tidak ada siswa tunanetra. Melainkan, penulis menangani siswa tuna grahita ringan atau hambatan intelektual dengan skala ringan dan hambatan fisik atau tuna daksa.

Alhamdulillah, selama penulis melaksanakan tugas yang baru, penulis banyak mendapat support dari rekan guru, kepala sekolah, dan pihak yayasan. Dengan anak didik, penulis juga tak ada problem. Akhirnya, kamis 11 agustus 2022 genap sebulan penulis mengajar di tempat yang baru dan bertepatan dengan 8 ttahun perjalanan meniti karier sebagai seorang guru. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada penulis untuk mengemban amanah tuhan yang agung ini.

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Nama sujono said. Tempat tanggal lahir Selayar, 21 Februari 1987. Lebih senang dipanggil kak jono sejak mahasiswa sampai kakek-kakek. Hobi menulis, membaca, ngopi dan karaokean.

Post a Comment for "Refleksi 8 Tahun Mengajar"

Advertisement: Dapatkan Layanan Domain dan Hosting Murah!