About Me


Nama saya Ismail Naharuddin. Lahir pada 25 Februari 1997 di Kota Makassar. Saat ini melanjutkan pendidikan pada jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Makassar.



Saya seorang disabilitas netra sejak tahun 2013. Saat itu, saya yang tengah masa transisi ke kelas 2 di SMK Telkom Sandhy Putra 2 Makassar tiba-tiba harus menjalani pengobatan akibat kondisi retina pada mata saya mengalami amblas. Sejak saat itu meskipun operasi berjalan dan menuai hasil yang lumayan, namun hal itu tidak berlangsung seterusnya. Berangsur-angsur kemudian saya kehilangan penglihatan.


Hal yang wajar ketika semua itu membuat saya frustrasi. Apalagi saat dokter merekomendasikan untuk beristirahat terlebih dahulu dari kegiatan sekolah. Akhirnya selama dua tahun saya menjalani aktivitas dalam rumah. Rawat jalan pun masih tetap saya lakukan. Hingga akhirnya, dokter akhirnya merekomendasikan saya untuk berlaku layaknya disabilitas netra. Yakni berlatih mobilisasi menggunakan tongkat putih.


Yah, selama dua tahun menjalani pengobatan, perlahan saya mulai mengikhlaskan fungsi salah satu indera yang saat itu semakin menurun. Jadi, menanggapi rekomendasi dokter tersebut sama sekali tidak membuat saya frustrasi untuk kedua kalinya.


Suatu hari, saya kemudian dipertemukan oleh dokter dengan sebuah organisasi yang bergerak dalam isu disabilitas netra. Tidak lain adalah Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Sulawesi Selatan. Berbincang dengan salah satu aktivis organisasi tersebut, saya kemudian tertarik untuk menjalani rehabilitasi dan melanjutkan pendidikan di salah satu Sekolah Luar Biasa di Kota Makassar.


Saya kemudian menjalani rehabilitasi di sebuah asrama bersama dengan kawan-kawan disabilitas lainnya. Di sana saya menemukan sebuah kehidupan dan semangat baru. Itu semua berkat cerita dan pengalaman kawan-kawan dan nasihat sesepuh yang merupakan aktivis DPD Pertuni Sulawesi Selatan. Motivasi akademik, prestasi dan partisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif kemudian menjadi alasan saya bergabung dengan DPD Pertuni Sulawesi Selatan pada tahun 2019.


Dalam memperluas pergerakan, saya juga turut serta dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Makassar. Hal itu saya jadikan sebagai langkah sosialisasi kepada kawan-kawan mahasiswa bahwasannya perbedaan kemampuan tidak menghalangi kekompakan tim dalam sebuah perkumpulan. Dan akhirnya secara tidak langsung kawan-kawan mahasiswa pun kini mengakui berbagai kemampuan yang saya miliki seperti kerjasama dalam tim, berpendapat, manajemen, presentasi, dan sebagainya.


Penyandang Disabilitas Yang Masih Terdiskriminasi


Sejak awal rehabilitasi, saya banyak mendengarkan cerita dan gagasan dari kawan aktivis disabilitas netra di Makassar. Paradikma baru yang dimuat dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas yang masih terbilang cukup baru, ternyata belum sepenuhnya tertanam dalam persepsi masyarakat. Disabilitas penuh dengan stigma negative dikarenakan persepsi yang masih berdasarkan pendekatan medis. Seorang disabilitas dinilai tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, ada yang menganggap bahwa kedisabilitasan seseorang itu karena karma atau penyakit menular sehingga harus dijauhi.


Hal tersebut semakin saya yakini adanya tatkala saya turut mengawal pendaftaran salah satu kawan menjadi peserta didik baru di sebuah SMA di Makassar pada tahun 2019 lalu. Sekolah yang merupakan salah satu unggulan di Kota Makassar, dan telah ditunjuk sebagai pelaksana program pendidikan inklusi masih saja memiliki pemikiran yang dangkal terhadap penyandang disabilitas. Menurut mereka, disabilitas netra tidak masuk ke dalam kriteria calon siswa yang berhak mendaftarkan diri pada sekolah tersebut. Hal itu lantaran disabilitas netra dinilai sebagai disabilitas berat dan tidak dapat mengikuti aktivitas di sekolah tersebut.


Hal ini senada dengan mekanisme pendaftaran CPNS yang diadakan tiap tahunnya di Kota Makassar. Sebagai persyaratan, peserta harus membawa surat keterangan disabilitas yang dikeluarkan oleh tenaga medis yang menerangkan tentang tingkatan disabilitas peserta. Tingkatan disabilitas itu terdiri dari disabilitas ringan, sedang, dan berat. Saya pribadi tidak mengetahui tolak ukur yang dijadikan acuan untuk mengklasifikasinya.


Menurut saya, tingkatan disabilitas tidaklah efektif jika diukur secara medis. Melihat berbagai jenis kedisabilitasan yang meliputi disabilitas netra, daksa, mental, tuli, dan sebagainya yang tertuang dalam UU NO. 8 Tahun 2016 masing-masing mempunyai kemandirian yang berbeda. Seorang tuli tidaklah dikatakan disabilitas ringan lantaran ia bisa melihat, dan disabilitas netra pun tidak dikatakan disabilitas berat lantaran tidak dapat melihat. Kedisabilitasan yang hakikatnya ketidakmampuan secara fisik, sensorik, mental, atau pun intelektual dapat ditutupi dengan cara masing-masing. Seorang tuli membutuhkan bahasa isyarat atau teks untuk berinteraksi, disabilitas netra membutuhkan tongkat putih untuk bermobilisasi dan teknologi pembaca layar pada computer dan gadget untuk mengolah data, mengakses informasi dan berkomunikasi.


Pengalaman lain yang sempat saya rasakan sendiri ialah tatkala mencoba mengakses layanan e-Channel pada Bank. Kekecewaan saya dapatkan ketika saya tidak diperkenankan mengakses layanan Mobile Banking dan sejenisnya dengan alas an kedisabilitasan. Saya dianggap sewaktu-waktu dapat lalai dalam menjaga kerahasiaan data pada akun saya. Padahal, dengan mengakses Mobile Banking atau Internet Banking bagi saya justru akan memudahkan nasabah disabilitas. Teknologi pembaca layar pada gadget atau computer dapat memberikan akses pada aplikasi m-Banking atau e-Banking. Dibandingkan bertransaksi pada ATM yang notabene rata-rata belum aksesibel bagi pengguna disabilitas.


Berbagai permasalahan tersebut membuat saya sadar bahwa pentingnya perjuangan dalam mengaktualisasikan keberadaan kawan-kawan disabilitas akan segala kemampuan yang dimilikinya dan tidak kalah dengan masyarakat di sekelilingnya. Saya pun kemudian terjun ke berbagai kegiatan yang mana memiliki kecocokan dengan minat dan kemampuan yang saya miliki. Saya pun mencoba menuangkan gagasan partisipatif ke dalam satu channel yakni “Coretan Partisipatif”. Tentunya dengan berbekal apa yang saya dapatkan pada konsentrasi jurusan Jurnalistik dan pengalaman organisasi yang saya tempuh.


Dan kali ini saya bermaksud untuk bergabung menjadi Relawan Demokrasi KPU Makassar untuk menyuarakan hak politik bagi penyandang disabilitas sesuai dengan regulasi UU No. 8 Tahun 2016. Sekaligus sebagai upaya politisasi kepada kawan-kawan disabilitas bahwa pentingnya peranan partisipatif dalam demokrasi untuk mewujudkan pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai dasar negara Pancasila yang menerima segala bentuk perbedaan dan mengakomodasi hak untuk seluruh kalangan masyarakat tanpa perlakuan diskriminatif.


Keep Spirit & Express Your Own Style...!

logoblog

No comments: