Friday, May 29, 2020

Belajar Daring Bagi Anak, Lanjut Atau Tidak?

  Ismail Naharuddin       Friday, May 29, 2020

Hasil Wawancara Bersama Narasumber : Zaldi Zulkifli ( Aktivis Save The Children Indonesia )


Menjelang penerapan New Normal, segala hal tengah dipersiapkan. Konon kedengarannya, beberapa perusahaan dan lembaga-lembaga akan kembali beroperasi dan menyesuaikan dengan kondisi darurat COVID-19. Sekolah dan Kampus tak terkecuali digadang-gadang akan didesain untuk berjalan berdampingan dengan protokol kesehatan.


Namun, dalam suatu pemberitaan di media, terdapat pernyataan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Aris Merdeka Siarit yang meminta bahwa, sebaiknya siswa tetap belajar di rumah walaupun penerapan New Normal dilakukan.


“Intinya, selama Indonesia belum bebas dari serangan virus corona, kebijakan anak belajar di rumah saja harus tetap dijalankan sekalipun ada kebijakan pemerintah menjalankan tatanan normal baru menghadapi Covid 19," ujarnya dalam konferensi pers pada Rabu, (27/5) yang dikutip dari suara.com.


Ia berharap agar segala biaya operasional penyelenggaraan pembelajaran selama belajar di rumah ditanggung oleh pemerintah melalui program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).


“Untuk memenuhi fasilitasi kuota pulsa, internet dan fasilitas yang timbul dan berhubungan dengan proses belajar mengajar selama belajar di rumah saja,” ujarnya.


Mendapati berita tersebut, saya memberanikan diri untuk menghubungi salah satu aktivis yang menggeluti persoalan di bidang perlindungan dan pemenuhan hak anak, yakni kakanda Zaldi Zulkifli yang merupakan aktivis organisasi Save The Children Indonesia.


Menanggapi hal di atas, kak Zaldi memberikan gambaran bahwa yang terpenting adalah terjaminnya keselamatan anak.


"Yang harus menjadi prinsip utama adalah terjaminnya keselamatan anak. Nah yang mungkin perlu dikonfirmasi adalah apakah situasi saat ini sudah cukup aman bagi anak-anak untuk kembali belajar di sekolah. Tiap-tiap daerah tentunya memiliki situasi yang berbeda tingkat kegawatannya. Di sisi lainnya anak terus belajar di rumah juga tidak baik, karena model pembelajaran online tidak bisa menggantikan model pembelajarn di sekolah."


Pembelajaran Daring, Efektifkah?


Menurut kak Zaldi, untuk beberapa situasi mungkin pembelajaran daring bisa menjadi efektif selama anak ataupun orang tua mampu mengakses media pembelajaran tersebut secara finansial dan teknis. Namun sebaliknya, hal ini justru menjadi masalah bagi mereka yang kurang mampu mengakses jaringan internet.


"Yang menjadi persoalan ialah ketika anak ataupun orang tua belum mampu mengoperasikan secara teknis model pembelajaran tersebut atau bagi mereka yang terhambat dari sisi finansial. Namun dalam situasi seperti ini, memang bahwa pembelajaran daring ini merupakan alternatif yang tepat. Walaupun model pembelajaran seperti ini tidak akan sebagus model pembelajaran dalam kelas. Karena dalam pendidikan tidak hanya ada transfer ilmu saja, namun pembentukan karakter dan sosialisasi juga diperlukan."


Dalam mengatasi hal itu, kak Zaldi menambahkan bahwa pihak lembaga pendidikan harus mengidentifikasi siswa mana yang memiliki hambatan dalam mengikuti proses pembelajaran daring.


"Yang pertama ialah identifikasi siswa mana yang terhambat dalam proses pembelajaran daring. Kemudian, siapkan akomodasi bagi mereka agar dapat tetap mengikuti proses pembelajaran. Salah satu caranya ialah dengan memfasilitasi siswa yang tidak mampu mengakses jaringan internet dengan cara tetap membuka sekolah untuk mereka, namun tujuannya hanya untuk mengambil bahan bacaan dan soal-soal untuk dibawa ke rumah. Sama seperti yang dilakukan oleh beberapa sekolah di Makassar. Tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ada."


"Di beberapa RT juga saya pernah mendengar ada sebuah komunitas yang berinisiatif untuk mengadakan kelompok belajar yang jumlahnya kecil dan bergiliran. Itu juga bisa dijadikan opsi untuk mengakomodasi anak yang terhambat proses pembelajarannya," lanjutnya.


Pentingnya Pola Asuh Anak Yang Baik


Dalam situasi seperti ini, psikologis anak menjadi perhatian utama. Bukan hanya bagi mereka yang mempunyai hambatan dalam belajar daring, namun anak yang lain pun juga akan bosan di rumah. Makanya, peranan orang tua dalam membahagiakan anak juga sangat penting.


"Jangankan mereka, kita saja yang dewasa sudah stress di rumah. Apalagi mereka. Makanya, berbicara tentang anak, tidak sebatas merujuk ke anaknya saja, tapi juga orang tuanya. Di sinilah orang tua didorong untuk mengadakan kegiatan yang rekreatif. Karena kondisi seperti ini sangat berpengaruh pada psikologis anak."


"Hal yang wajar ketika anak seringkali mengeluh rindu sekolah dan teman-temannya. Bahkan mereka ada yang bertanya-tanya kapan bisa kembali ke sekolah. Yang terpenting ya itu tadi. Tugas kita ialah ciptakan suasana yang aman dan nyaman untuk anak selama berada di rumah," tangkas kak Zaldi.


Itulah apa yang menjadi perbincangan saya dengan kakanda Zaldi Zulkifli. Dari situ saya memahami bahwa dalam situasi saat ini anak tidaklah aman berada dan bebas bermain di luar. Permintaan bapak Aris Merdeka Siarit untuk tetap memberlakukan pembelajaran daring selama mewabahnya COVID-19 di Indonesia merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Mengingat bahwa anak jika dibiarkan berada di luar tentu membutuhkan pengawalan yang ekstra yang mungkin sulit untuk dikontrol. Belum lagi jikalau anak cenderung mengabaikan protokol kesehatan yang ada.


Tapi, saya rasa itu semua kembali lagi kepada prinsip utama yaitu jaminan atas rasa aman dari hantu global yang saat ini menyapa hampir seluruh penduduk dunia. Sekian dari saya Ismail Naharuddin, Salam!

logoblog

Thanks for reading Belajar Daring Bagi Anak, Lanjut Atau Tidak?

Previous
« Prev Post

No comments: