Monday, July 20, 2020

Meningkatkan Minat Membaca dan Menulis Era Millenial - NGOPI GELIS by Kartunet.com

  Ismail Naharuddin       Monday, July 20, 2020

Menjadi tunanetra tidak membutakan semangat seseorang untuk berekspresi melalui suatu karya. Inilah yang menjadi pegangan para tunanetra kreatif dalam mengaktualisasikan diri di hadapan berbagai pasang mata bahkan pada panggung media. Seperti yang selalu menjadi jargon dari salah satu Komunitas Cyber Tunanetra yang satu ini. Kartunet.com, "Mengatasi Keterbatasan Tanpa Batas".


Bertujuan membagikan pengalaman dan motivasi terhadap minat baca dan tulis kepada tunanetra, Kedai Menulis Kartunet kembali mengadakan program virtual sharing session yang bertema "Meningkatkan Minat Membaca dan Menulis Era Millenial". Acara yang dinamakan "NGOPI GELIS" ini berlangsung selama 2 jam melalui aplikasi Zoom dan disiarkan secara streaming melalui Youtube pada Minggu, (19/7) malam.


Acara yang menghadirkan dua narasumber yakni Cheta Nilawati yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis Tempo, dan Grace Caroline yang merupakan kontributor kartunet.com ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta yang aktif secara virtual. Dimas Muharram, selaku Author of Kartunet.com pada kesempatan itu bertindak sebagai pemandu diskusi.


Mengawali diskusi, kak Cheta menjelaskan bahwa menulis itu penilaiannya subjektif. Menurutnya, sebuah tulisan akan menghadirkan penilaian yang berbeda dari pembaca yang berbeda pula.


"Menulis itu penilaiannya subjektif. Setiap orang memiliki gaya penulisan masing-masing." uujarnya.


Ia menambahkan, penulis itu tempatnya di nomor dua. Tidak ada penulis nomor satu.


"Penulis itu selalu nomor dua. Tidak ada penulis nomor satu. Yang nomor satu itu adalah pembaca atau penilai. Seperti editor, komentator, bahkan netizen." tambahnya sembari berceloteh.


Cerita Di Balik Meredupnya Hingga Bersinarnya Kembali Cahaya


Grace, selaku narasumber kedua menceritakan pengalamannya dalam menempuh pendidikan. Ketunanetraan yang dialaminya ketika berusia 6 tahun membuatnya terhambat dalam menempuh pendidikan formal. Selama 9 tahun, ia lebih banyak beraktivitas di rumah dan tidak mendapatkan akses ke buku-buku pelajaran. Namun pada akhirnya dia berhasil mengikuti program Kesetaraan dan mengejar semua ketinggalannya tatkala berusia 17 tahun.


Berkat teknologi, ia mendapatkan kesempatan untuk membaca buku-buku elektronik yang selama ini tidak pernah ia sentuh. Dan ia mengaku nekat bercampur ragu saat memutuskan akan mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Kartunet.com.


"Waktu itu aku nekat tapi ragu-ragu juga sih. Takut banyak salah dari penulisan atau tanda bacanya. Tapi, mungkin berbekal pengalaman sering-sering baca buku dan membaca perkata dan karakter, dari situlah sedikit-sedikit kemampuan aku juga bisa terbangun." ujarnya.


Hal senada juga dialami oleh kak Cheta. Mengalami ketunanetraan di tengah karirnya sebagai jurnalist Tempo, membuatnya khawatir akan kehilangan pekerjaan.


"Waktu itu saya berpikir nanti saya sudah tidak boleh masuk kantor lagi, terus diberhentikan dari pekerjaan dan tinggal di rumah. Tapi saya berusaha bagaimana caranya biar tetap eksis. Dan berkat informasi yang saya dapatkan, ada sebuah lembaga disabilitas yang orang-orang di dalamnya menggunakan pembaca layar. Ahirnya saya belajar dari situ."


Menurutnya, sebenarnya ia banyak belajar dari kawan-kawan lain yang lebih dulu merasakan ketunanetraan. Sebelumnya ia mengira bahwa menjadi tunanetra akan memberhentikan produktifitas. Karena stigma yang berkembang di masyarakat saat itu tentang tunanetra hanya berprofesi sebagai tukang pijat dan penjual kerupuk. Namun, setelah banyak bersosialisasi dengan kawan-kawan di lembaga, ia menyadari bahwa tunanetra juga bisa produktif dan berkarya. Sebuah paradikma baru tersebut kemudian ia tuangkan dalam tulisannya untuk pembaca Tempo.


Tunanetra Tidak Berarti Non Produktif


Disfungsi visual yang dialami seseorang tidak serta merta menghambat seluruh aktivitas yang semestinya dilakukan. Kegiatan keseharian masih bisa diselesaikan meski tanpa penglihatan dan dengan cara yang berbeda. Begitu halnya dengan dunia jurnalistik. Informasi tidak hanya ditangkap oleh indera penglihatan.


Cara memperoleh informasi yang berbeda sebenarnya bisa memperkaya persepsi terhadap sesuatu. Mungkin daging sate yang secara visual berwarna hitam dan bentuknya kecil akan menjadi makanan yang tidak disukai. Tapi, beda halnya ketika dimakan. Dagingnya yang gurih dan rasanya yang lezat akan membuat persepsi yang berbeda. Bisa jadi daging sate menjadi makanan terlezat sedunia. Seperti itulah kira-kira gambaran dari penjelasan kak Cheta tentang perbedaan dalam mengangkap informasi antara tunanetra dan nontunanetra.


Contoh lain, saat menonton konser Beyonce secara umum indera yang paling banyak bekerja sebagai channel untuk menginterpretasi makna dari sebuah lagu adalah telinga. Namun, kawan-kawan tuli mempunyai cara yang berbeda untuk mengakses gagasan dari lagu tersebut. Dari gerakan bibir dan gestur tubuh mereka mampu menafsirkan sebuah makna dari lagu dengan penangkapan yang sama dengan orang pada umumnya. Demikianlah bahwasannya meskipun dengan cara yang berbeda, tapi para penyandang disabilitas mempunyai penangkapan yang sama secara umum.


Berdasarkan penjelasan tersebut, kak Cheta kembali menyatakan bahwa dengan adanya kedisabilitasan tidak menghambat produktifitas seseorang. Tunanetra tetap bisa berkarya melalui tulisan meskipun tidak menggunakan pena. Tapi dengan cara yang lebih modern dengan memanfaatkan teknologi aplikasi pembaca layar yang diintegrasikan pada komputer maupun gadget.


Perlunya Wadah Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis


Menurut Grace, komunitas atau kelompok menulis juga sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan. Dengan begitu, karya yang dipublikasikan akan lebih mudah untuk dibenahi dengan mempertimbangkan kritik dan saran dari kawan-kawan komunitas. Selain itu, adanya mentor atau seseorang yang mampu mengarahkan untuk menulis dengan kosakata, ejaan, dan struktur yang baik akan sangat menguntungkan.


"Bergabung di komunitas menulis bisa mendapatkan banyak teman untuk berbagi pengalaman. Kita bisa saling memperbaiki dan motivasi. Seperti kemarin waktu aku ikut lombanya Kartunet pas baca karya-karya yang diposting di sana rasanya kayak luar biasa bagusnya. Tapi aku berpikir masa mereka bisa sebagus itu aku nggak."


Ide Dalam Menulis Adalah Permasalahan Yang Lumrah


Di dalam menulis, ide menjadi bahan utama yang akan ditransferkan kepada pembaca. Kekurangan ide bisa dialami oleh semua orang. Tidak hanya bagi yang baru belajar menulis, melainkan semua orang harus menyiapkan ide terlebih dahulu sebagai bahan tulisan.


Kak Cheta menjelaskan, pengalaman yang dilalui hendaknya dituangkan dalam tulisan. Bahkan, kejadian-kejadian di sekitar tidak ada salahnya dituangkan ke dalam catatan kecil. Menurutnya, ide tidak selalu harus dari sesuatu yang besar. Namun, fenomena-fenomena kecil yang terjadi di sekitar bisa dikembangkan menjadi cerita.


"Kejadian-kejadian yang dialami jika dibuatkan dalam satu catatan kecil nantinya akan bisa dikembangkan. Ide itu tidak selamanya harus dari hal-hal yang besar. Tapi, fenomena-fenomena kecil di sekitar bisa menjadi ide untuk tulisan kita." jelasnya.

Adanya bahan informasi sebagai data juga bisa membantu eksplorasi pembahasan dalam tulisan. Pemanfaatan fitur pencarian di internet bisa dilakukan untuk melakukan riset terhadap tema tulisan.


Hal ini disampaikan oleh Grace saat bercerita tentang tema yang menjadi kriteria lomba Kartunet sebelumnya. Berbekal jaringan internet, ia berhasil mengumpulkan data terkait tema yang telah ditentukan.


Menghadapi Narasumber Untuk Mengumpulkan Informasi Aktual


Informasi aktual sangat diperlukan dalam tulisan jurnalistik karena berkaitan erat dengan kejadian di lapangan. Setiap rubrik pada media masing-masing memiliki isu terhangat yang mana bisa menjadi referensi informasi.


Namun, keberadaan narasumber menjadi sumber utama informasi yang paling aktual. Maka sebagai seorang jurnalis, berhadapan dengan para narasumber menjadi hal yang mutlak.


Sedikit kak Cheta membagikan pengalamannya saat mewawancarai narasumber. Sudah menjadi hal yang biasa sebagai jurnalis tunanetra ketika mendapatkan kesulitan saat hendak menemui mereka. Kesandung, terbentur bahkan terjatuh pasti dialami oleh semua tunanetra. Bahkan, keliru dalam memastikan posisi narasumber saat wawancara sudah biasa terjadi.


Ia menambahkan, dalam mengumpulkan dokumentasi berita berupa foto maupun video tak jarang ia memohon bantuan kepada orang sekitar. Namun, menurutnya dengan kebijakan yang diberikan oleh perusahaan telah memberikan kemudahan dalam setiap aktivitas peliputannya. Dalam situasi tertentu, seringkali ia juga memanfaatkan teknologi aplikasi yang mendukung pengguna tunanetra dalam menangkap objek tertentu.


Penulis Yang Cerdas Adalah Setia Pada Kerangka Acuan


Sebelum memulai menulis, hendaknya untuk menentukan kerangka sebagai acuan penulisan. Jangan sampai pembahasan tidak konsisten dengan tema. Akibatnya akan membuat hasil yang tidak karuan.


Setiap cerita mempunyai alur yang secara umum adalah awalan, pertengahan dan akhiran. Dalam menyelesaikan tulisan, tergantung dari seberapa jauh informasi yang dikumpulkan dan pengetahuan. Jika dirasa cukup, lebih baik untuk mengakhirinya dengan penutup yang sesuai. Tulisan yang singkat namun terarah masih lebih baik dibandingkan tulisan yang pembahasannya panjang tapi keluar dari alur yang telah ditentukan sebelumnya. Bahkan, untuk beberapa jenis tulisan yang menggantung tapi tetap berada dalam kerangka yang telah dibuat dapat menjadi cerita yang bagus.


Menjelang akhir diskusi, kak Cheta kembali menegaskan bahwa posisi penulis selalu berada di nomor dua. Nomor satunya adalah editor, komentator, dan pembaca. Artinya, tidak aada penulis yang berhasil memuaskan seluruh pembaca.


Maka dari itu, menghadapi komentar dan kritikan dari pembaca perlu ditanggapi secara bijak. Mengambil hal positif dari kritikan menjadi salah satu di antaranya. Bahkan, menurut kak Cheta, banyaknya kritikan terhadap tulisan kita berarti banyak orang yang membacanya. Dan banyaknya pembaca merupakan satu pencapaian bagi seorang penulis.


Sebagai kesimpulan, kak Dimas merangkum seluruh pembahasan terkait tema diskusi. Dalam meningkatkan minat menulis, sebaiknya diawali dengan peningkatan minat membaca terlebih dahulu. Hal ini guna memperluas wawasan dan referensi informasi yang nantinya akan menjadi bahan tulisan. Dan jangan lupa untuk mencari ekosistem yang sesuai sebagai wadah berbagi pengalaman dan pengetahuan.


logoblog

Thanks for reading Meningkatkan Minat Membaca dan Menulis Era Millenial - NGOPI GELIS by Kartunet.com

Previous
« Prev Post

No comments: