Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tinjauan Pelaksanaan SBMPTN di Era Pandemi

Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) kini memasuki tahap baru. Dengan dibukanya pendaftaran untuk mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), calon peserta secara otomatis juga akan menentukan pilihan jurusan dan di kampus mana nantinya mereka akan melanjutkan perkuliahan. Tentu proses ini hanya berlaku terkhusus untuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Terbukanya pendaftaran UTBK SBMPTN 2021 pada hari Senin, 15 Maret 2021 menjadi hari yang saya tunggu-tunggu. Bukan karena ingin mendaftarkan diri mengikuti SBMPTN, melainkan sebagai bentuk partisipasi dalam mengawal pendaftaran kawan-kawan tunanetra sebagai peserta di dalamnya. Saya pribadi terus dijanggali dengan perasaan was-was. Entah mengapa dari tahun ke tahun seperti ada hal-hal irasional yang menyapa benak saya.

2019 lalu, sebuah metode baru diterapkan oleh penyelenggara SBMPTN dalam melakukan seleksi mahasiswa. Di Makassar sendiri, ada beberapa dari kawan-kawan disabilitas yang mengikuti tes tersebut. Mereka mengaku awalnya agak kesulitan untuk beradaptasi dengan perangkat lunak yang dipasang untuk memberikan akses bagi peserta disabilitas netra (penglihatan). Namun setidaknya itu tidak menjadi soal karena mereka yang tidak lain kebetulan adalah kawan saya yang saya ketahui telah bersahabat dengan sistem operasi komputer. Sedikit banyaknya mereka sudah dapat mengeksplorasi sendiri navigasi yang tersedia dalam perangkat lunak tersebut. Apalagi, menurut salah seorang dari mereka yang sempat saya ajak berbincang, tepat sebelum tes dimulai, teknisi perangkat sedikit memberikan penjelasan tentang cara mengoperasikan perangkat ujian tersebut.

Kemudian di tahun 2020, UTBK kembali diadakan dengan menyesuaikan protokol kesehatan yang berlaku untuk menghindari penularan COVID-19. Kembali tercatat ada beberapa peserta disabilitas khususnya netra mengikuti tes tersebut. Mereka pun mengaku mendapatkan kesulitan yang sama seperti tahun lalu.

Menurut mereka, tatkala berada dalam ruangan tes mereka dapat bertanya kepada teknisi yang ada di dalam jika mendapat kesulitan. Seingat saya, salah satu dari mereka mengatakan berulang kali meminta bantuan kepada teknisi. Hal tersebut kemudian menjadi indikasi bahwa perangkat yang digunakan dalam UTBK SBMPTN belum sepenuhnya dapat dikuasai oleh peserta disabilitas netra.

Seperti yang diketahui, bahwa tingkat penguasaan IT bagi sebagian masyarakat saat ini masih terbilang rendah. Tak terkecuali disabilitas netra. Menggunakan perangkat lunak pembaca layar pun masih banyak yang kurang menguasai. Apalagi menggunakan perangkat UTBK yang notabene kurang tersosialisasi.

Tidak hanya masalah teknis seperti yang dikemukakan di atas. Salah satu yang menunjang keberhasilan peserta SBMPTN adalah seberapa keras dirinya mempersiapkan untuk mengikuti UTBK. Sebarapa gigih mereka belajar, atau bahkan seberapa mampu mereka untuk akses pada latihan soal-soal SBMPTN.

Tentu kita tidak ingin jika metode UTBK khusus untuk disabilitas hanya dijadikan sebagai pelaksanaan secara formalitas saja. Atau dengan kata lain hanya untuk menggugurkan kewajiban yang katanya memberikan ruang kepada kawan-kawan disabilitas dalam bidang pendidikan. Penerapan kebijakan harusnya dilakukan tidak setengah-setengah, melainkan secara totalitas.

Di Makassar sendiri, terdapat beberapa sekolah khusus yang mempunyai peserta didik disabilitas netra. Saya hanya ingin tahu, seberapa jauh siswa tingkat akhir di dalamnya diberikan bekal untuk mengikuti SBMPTN? Seberapa jauh mereka diberikan pendampingan untuk mengakses soal-soal latihan UTBK? Dan seberapa jauh tingkat penguasaan IT mereka sehingga mereka dapat mengakses laman pendaftaran SBMPTN secara mandiri? Saya rasa sosialisasi SBMPTN kepada calon peserta disabilitas netra tidaklah menjadi hal yang aneh jika merujuk pada premis-premis di atas. Keberadaan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) kemudian meninggalkan pertanyaan di benak saya pula. Sebenarnya tupoksi lembaga tersebut apakah hanya sebatas melaksanakan tes masuk PTN atau juga seharusnya memberikan sosialisasi tentang metode SBMPTN yang berlaku di tahun berjalan.

Selanjutnya, apakah benar sosialisasi teknis penggunaan perangkat lunak bagi disabilitas netra jauh hari sebelum pelaksanaan UTBK tidak perlu dilakukan? Apakah tidak perlu diadakan semacam simulasi seperti ketika Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pertama diterapkan? Apakah tidak perlu untuk memberikan pendampingan kepada calon peserta UTBK disabilitas netra dalam mempersiapkan diri menghadapi soal-soal UTBK, mengingat euforia seleksi PTN saat ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya?

Pandemi COVID-19 mungkin mempengaruhi motivasi belajar siswa mengingat metode pembelajaran yang diterapkan kini menurut saya mempunyai potensi siswa meninggalkan pelajaran-pelajarn sekolah. Sistem pembelajaran online yang melibatkan tenaga pendidik secara virtual saja faktanya tidak mampu memberikan pengawasan sepenuhnya kepada peserta didik. Siswa yang harusnya duduk manis di atas bangku sekolah bisa saja justru rebahan di dalam kamarnya sembari mengabaikan sayup-sayup gurunya dari gadget. Untung-untung kalau tidak terlelap.

Beberapa lembaga pendidikan mungkin memberikan kelonggaran terhadap mekanisme pembelajaran baik di sekolah maupun di perkuliahan. Bahkan yang saya ketahui, sekarang begitu mudahnya mahasiswa untuk mendapatkan nilai A pada mata kuliah di beberapa kampus. Namun, hal ini tidaklah boleh menjadi dasar untuk mengabaikan kebutuhan bagi pelajar disabilitas. Justru dengan pola kebijakan pandemi ini harus memperhatikan kebutuhan mereka. Kebutuhan akan pedoman pendaftaran, persiapan menghadapi tes masuk PTN, dan sosialisasi penggunaan perangkat UTBK.

Kemajuan disabilitas yang selalu digaungkan tentu menuntut sebuah langkah-langkah strategis yang menjadi aksi nyata sebagai konsistensi dalam menjalankan pemenuhan hak bagi setiap manusia. Bukankah pemecahan terhadap masalah-masalah di atas merupakan satu bagian dari aksi nyata tersebut? Bayangkan jika disabilitas benar-benar dibekali dan berhasil masuk ke perguruan tinggi yang berkualitas. Kondisi tersebut seolah menjadi tanda-tanda akan eksistensi disabilitas dalam pembangunan Nasional. Seperti halnya keberhasilan perjuangan emansipasi wanita yang digaungkan oleh aktivis perempuan Indonesia.

Di zaman purbakala tepat saat saya duduk di bangku SMP, saya berulang kali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Try Out Ujian Nasional. Tidakluput dari ingatan saya juga, saya mendapatkan tambahan pelajaran khusus untuk mengkaji materi-materi UN yang tersaji dalam buku UASBN sewaktu saya duduk di bangku SD. Kabar gembira di tahun ini, setidaknya beban siswa sedikit berkurang karena tidak diberlakukannya Ujian Nasional. Namun, sebaiknya hal ini tidak membuat kita luput dari agenda yang seharusnya akan diikuti oleh siswa, yakni ujian masuk PTN. Baik dari sekolah, pemerintah maupun lembaga kemasyarakatan sebaiknya bersama-sama memperhatikan kelangsungan generasi muda yang terdampak pandemi baik secara ekonomi maupun sosial ini. Adakan simulasi UTBK, sosialisasi penggunaan perangkat ujian, latihan soal-soal dan pendampingan terhadap segala tahapan pendaftaran SBMPTN. Hal ini bukankah secara tidak langsung memberikan dorongan bagi siswa untuk memperhatikan kesiapan mereka dalam menentukan pilihan di masa-masa krusial tersebut? Pilihan jurusan dan kampus yang tepat sekiranya dapat mempengaruhi perkembangan dan kesiapan peserta didik dalam menekuni profesi.

Olehnya itu, melalui tulisan ini semoga mampu memantik pergerakan kita untuk tanggap terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia. Bukan pendidikan bagi orang-orang kebanyakan, namun pendidikan yang mampu merangkul segala perbedaan. Bukan hanya memberikan ruang, namun juga mengakomodasi kebutuhan. Dan juga memahami keberadaan kita dengan posisi masing-masing. Seorang guru berusaha mencari cara agar siswanya mengerti, pemangku kebijakan mencari cara agar rakyatnya mendapatkan fasilitas yang sesuai kebutuhan, serta para aktivis tetap mengangkat corong aspirasi demi kepentingan masyarakat.

Post a Comment for "Tinjauan Pelaksanaan SBMPTN di Era Pandemi"