Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa Kau Bahagia?

Karangan: Nabila May Sweetha

Masa itu gedung-gedung tinggi mulai menjulang di kota daeng, Makassar. Kala itu pakaian-pakaian orang Makassar sudah tidak kalah dengan orang Jakarta sana. Saat itu, mobil dan pesawat bukan hal tabu lagi. Tapi, di desamu, sekitar satu setengah jam dari kota Makassar masih begitu-begitu saja. Ini ukan masalah pakaian, gedung tinggi, kendaraan mewah, atau gadis cantik sekali pun. Desamu juga berkemban pesat. Gedung tinggi mulai nampak di beberapa titik, rumah mewah sering dijumpai pandangan, kendaraan dengan harga fantastis juga merambat di sebagian halaman rumah orang. Tapi, pemikiran tetap pemikiran, kan? Waktu itu keluargamu semakin berkembang jua. Seperti gedung-gedung tinggi, seperti kendaraan yang beranak luas, seperti gadis-gadis yang berlalau lalang dengan pakaian zaman sekarang.

Gambar Pasangan Sedang Piknik Romantis

Terkadang, kau menggeleng saat ditanyai ingin apa. Kau memang seperti itu. Aduhai. Siapa yang tidak mengenalmu di kabupaten itu? Putri tunggal Puang Tetta yang cantik. Putri tunggal yang keras hati, pikiran, pun tutur kata. Kau sangat terkenal, Jesi. Bukan karena di kabupaten Pangkep itu tidak ada yang secantik kamu, tapi karena kekayaan leluhurmu. Kau cantik....” “Namun, kau masih kecil dan tidak mengerti banyak hal.

Saat itu kau hanya sibuk bermain-main dengan anak seusia, tertawa-tawa menjaili orang dewasa, berlari-lari di pematang sawah dengan bertelanjang kaki. Kala itu, saat kau belum mengerti apa-apa, sudah banyak mata yang memandang dan mendelik kagum.

Apa kau tahu, Jesi? Teman sepermainan, sepupu Puang Tetta yang hampir seumuran tidak jauh tua sangat menyukai gerak-gerakmu. Semuanya. Mungkin ia suka dengan senyum simpulmu yang malu-malu, mungkin ia suka dengan gerak lincahmu yang terlewat batas, atau juga mungkin dia suka dengan sikap keras kepalamu. Hampir semua orang tahu, Jesi. Kau putri tunggal Puang Tetta,, anak emas di desa itu.

Tidak ada yang berani berkata tidak padamu, Jesi. Apa kau paham? Saat di mana teman-temanmu dilempari sendal bekas jikalah tertangkap mencuri mangga di halaman orang desa, sedangkan kau tidak. Saat anak-anak lain selalu tampil dengan pakaian lusu tak terawat, dan kau selalu dimanjakan dengan pakaian mewah. Ah, kau tidak tahu.

Usiamu sudah genap empat belas tahun saat musibah melanda. Orang-orang bertanya ingin tahu. Bertanya mengapa bisa? Bertanya ke mana adanya obat, bertanya ada apa gerangan. Bahkan, tidak sedikit orang yang menduga kau terkena guna-guna. Puang Tetta tidak kuasa melihat keadaanmu. Putri tunggal yang dia bangga-banggakan kini hanya bisa duduk termenung. Sejak itu, masalah dimulai....

Kau keturunan bangsawan Bone dan Pinrang asli. Kau mewarisi darah terhormat itu, setidaknya di tanah bugis dan makassar. Keluarga besarmu diwariskan banyak sekali harta. Puang Tetta juga seperti itu, diwariskan harta yang tidak habis dimakan seumur hidup. Tapi, harta yang menggunung-gunung itu bisa juga habis jika digunakan sesuka hati. Sejak penglihatanmu mengabur, semua upaya dikerahkan demi menyembuhkan.

Puang Tetta mendatangi banyak dokter, berkonsultasi dengan saudara sepupunya yang spesialis mata anak, mencari orang pintar, memaksa rumah sakit untuk mengoperasi matamu. Wahai... Bapakmu itu tidak pernah mengerti hukum alam dari Tuhan. Bapakmu itu, yang terkenal arogan, yang digelari perusak karena sering berfoya-foya tidak ingin merenung dan mengerti. Takdir tetap takdir, kan? Bisa saja Tuhan memberi istri dan anak cantik padanya. Bisa saja Allah memberi harta yang menggunung, bisa saja Allah mengkaruniai semua kemudahan hidup untuk dia. Namun, benarlah kata pepatah itu. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada putih yang tidak ternoda, tidak ada suci tanpa dosa.

Kali itu, Puang Tetta untuk pertama kalinya merasa gagal. Dia merasa gagal menjadi Bapak yang baik untuk putri tunggalnya....

Kecantikan membuat Puang Tetta tidak kuasa mengizinkan saat kau hendak pergi ke kota Makassar. Lelaki berwibawah itu tidak ingin memasukkanmu ke sekolah luar biasa. Padahal usiamu sudah lima belas tahun. Sudah sepatutnya menduduki bangku sekolah menengah atas. Tapi, rasa sayang yang menjadi membuat Puang Tetta menggeleng tegas saat kau kemukakan keinginan.

Hari berjalan seperti seadanya. Tidak ada lagi tawa melengkingmu di sudut pematang sawah. Petani tidak lagi sibuk berteriak karena kau iseng menyirami padi yang mereka jemur. Desa kala itu menjadi tenang untuk beberapa saat. Paling terasanya karena orang-orang kampung itu tidak lagi melihat senyum simpulmu yang aduhai manisnya.

Semua tetap berjalan. Kecuali kehidupanmu, mungkin. Bisnis Puang Tetta juga berjalan, meski tidak sepesat biasanya. Kini ia hidup mengandalkan hasil panen sawah dan empang. Tapi, jumlah itu banyak juga. Yang jelasnya, Puang Tetta tidak sekaya dulu lagi.

Kau berteriak histeris, Jesi. Melompat-lompat girang saat Puang Tetta mengizinkanmu kembali bersekolahk, tepatnya di sekolah luar biasa. Agak jauh memang, di kota Makassar sana. Hidupmu yang kelabu pelan-pelan berubah. Matamu saat itu sudah sempurna tidak melihat. Kau mengenal banyak orang di sekolah luar biasa, kau juga tinggal di asrama sana, menganggap semua teman sebagai saudara.

Lamat-lamat kau menjadi lupa akan kesensaraan hidup dalam gelap. Kau bahagia, Jesi. Kau bahagia meski dengan mata yang tak melihat. Lulus sekolah menengah atas, kau memutuskan untuk kuliah, bergabung dengan mereka yang sempurna melihat. Di sekolah luar biasa, kau terkenal dengan otak cerdikmu. Pintar memang, tapi kau juga terkenal dengan sikapmu yang kaku. Pemikiran, hati, dan tutur kata yang keras. Kau memang selalu begitu, Jesi. Sulit menghargai orang, karena mungkin terlalu sering dihargai. Terlebih pada lelaki.

Tahun terus berganti. Kota Makassar semakin modern saja. Lampu-lampu megah menghiasi kota di malam hari. Dan saat itu, di antara banyaknya pengujung pantai losari, kau terselip di sana. Bersama lelaki pujaanmu. Ya, kau akhirnya jatuh cinta. Sisi kelabu, kekerasan, kaku, bahkan pemarahmu hilang begitu saja di depannya. Iya, Jesi. Kau jatuh cinta. Lelaki itu berasal dari Pinrang.” “Sejak kalian menjalin hubungan, sering sekali kekasihmu membawa berjalan-jalan. Menuntunmu dengan lembut. Dia juga tidak sempurna melihat, Jesi. Tapi, setidaknya dia masih bisa melihat sedikit, cukup untuk berjalan dan menuntun.

Kalian akan bertemu di akhir pekan. Bercerita dengan tawa malu-malu, kemudian saling memberi senyum. Orang yang melihat kalian langsung bisa mengerti, Jesi. Kalian saling mencintai.

Akhirnya di sela-sela kebersamaan, ia ingin membuat komitmen. Dia menempatkan kalian ke suatu tempat, tepat di bawah matahari senja yang menyiram. Mengambil tanganmu, lalu menyelipkan cincin indah di sana. Dia bertanya kapan bisanya dia berkunju ke kampung dan melamar. Dia benar-benar serius, Jesi.

Kau mengatur waktu. Betapa bahagianya saat lelaki impianmu ingin melamar ke kampung. Akhirnya ketakutan Puang Tetta tidak terbukti. Karena, ternyata kau bisa juga menikah, walau dengan penglihatan yang tak sempurna.

Jadi sekarang hendak kutanyakan, Jesi. Apa kau bahagia? Apa kau bahagia saat lelaki dambaanmu pergi dengan pundak yang terkulai. Apa kau bahagia, Jesi? Saat Puang Tetta dengan congkaknya menolak lamaran kekasihmu. Apa kau bahagia, Jesi? Saat uang panai yang segunung dijadikan alasan oleh Puang Tetta.

Hari itu saat orang-orang datang melamar, Puang Tetta tidak menolak, Jesi. Tersenyum ramah, mempersilahkan tamu untuk masuk, kemudian dengan ringan menceritakan perihal dirimu. Semuanya. Bukankah bapakmu memang begitu, Jesi? Tidak bisa menerima kekurangan, terlebih lagi kecacatan. Kekasihmu itu, yang tidak sempurna melihat, akhirnya harus menelan dalam-dalam niatnya untuk memperistrikan gadis seperti engkau.

Puang Tetta meminta uang panai yang sungguh tidak terduga. Mungkin, kau tidak terkejut mendengar nominal itu. Kau sudah terbiasa, bukan? Bahkan yang tiga dua kali lipat dari itu kau sudah pernah mendengar. Tapi, tidak begitu dengan kekasihmu. Pemuda itu pergi, Jesi. Uang seratus juta tidak sedikit. Trlebih bagi difabel sepertinya. Dia memutuskan untuk menghapus saja rasa cintanya, Jesi. Kau gadis pemberontak, keras kepala, keras pemikiran.

Setelah jenuh membujuk Puang Tetta yang tetap dengan angka seratus juta, kau berangkat menemui pemuda itu . Di kota Makassar kalian bertemu. Kau memohon untuk dibawa lari saja. Tidak bisa memang kamu hidup tanpa cinta.” “Cinta yang murni, akan tetap bertahan bagaimanapun kondisinya.

Kau ditemukan terbujur kaku semalam sepulangmu dari kota. Menurut keterangan polisi, kau sengaja menenggak obat sakit kepala dengan berlebihan. Hari itu kau benar-benar membuktikan, Jesi. Kalau kau memang tidak bisa hidup tanpa pemuda itu. Tidak bisa, bagaimanapun keadaannya. Tapi kau sungguh lupa. Jika cinta dan benci hanya beda tipis-tipis sajalah. Kekasihmu, yang sangat mencintaimu, setelah ditolak mentah-mentah berbalik membencimu. Dia tidak datang, Jesi. Dia tidak datang bahkan saat tubuh kakumu diturunkan ke lubang yang berlumpur.

Apa kau bahagia, Jesi? Apa kau bahagia melihat keluarga merasa terpukul dengan kematian yang tak biasa. Mereka malu sekali, Jesi. Tapi, kuyakin kau bahagia. Sesuai perkataanmu dulu, bukan? Kau pernah bilang di depanku. Kau rindu Ibu, kan? Kau rindu wanita yang diusir dari rumah hanya karena dianggap tidak sederajat dengan keluarga bangsawan. Kau rindu dia, bukan? Wanita yang pergi jauh setelah diusir Puang Tettamu. Kau merindukannya, Bukan? Wanita korban adat sepertimu.” “Apa kau bahagia, Jesi?

***

Foto Nabila May Sweetha

Sekilas Tentang Penulis

Nabila May Sweetha adalah anak sulung yang terobsesi pada coklat, Harry Potter, dan lego Hello Kitty. Sehari-harinya aktif di PerDIK (lembaga independen yang fokus ke isu-isu difabel), dan sedang belajar menulis di Institut Sastra Makassar. Perempuan yang akrab disapa Lala itu telah menulis beberapa karya sastra, diantaranya adalah Warisan Kematian (novel), Ubur-ubur Di Matamu (novel, dan Kenangan Mengajari Kenangan Lainnya (kumpulan cerpen). Dia selalu menyuarakan hak-hak difabel perempuan, tentang betapa sebenarnya difabel perempuan semestinya berdaya alih-alih diam di bawah tekanan kaum patriarki. Tahun ini, gadis Bugis peranakan Nedherland itu baru saja tamat dari SMA Negeri 11 Makassar, dan fokus untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Post a Comment for "Apa Kau Bahagia?"