Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

LANA

Karangan: Miftah Hilmy Afifah

Apa pun yang akan Ahyoona katakan, tak mampu mengubah apa pun. Papanya sudah mendaftarkan ke universitas yang merupakan option terakhir bagi Ahyoona setelah beberapa universitas ternama. Sejak duduk dibangku menengah pertama, Ahyoona acap diiming-imingi kuliah di luar kota. Namun, pada akhirnya mereka pula yang tak bisa melepas Ahyoona. Dengan alasan Ahyoona anak perempuan dan tidak ada keluarga yang akan menemaninya selama menempuh pendidikan perguruan tinggi. Ya, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Ahyoona akan melewati hari-harinya tanpa seorang sahabat yang telah lama mengenalnya.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Hari pertama masuk kuliah, Ahyoona lebih banyak bermain game online di HP-nya. Tak mau menyapa lebih dulu, apalagi sekadar menebar senyum. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan mengira Ahyoona adalah seseorang yang tertutup dan seolah membentengi diri dari pergaulan.

Seseorang menarik bangku dan meletakkannya tepat di sebelah Ahyoona.

“Assalamualaikum,” sapanya. Ahyoona menoleh, memastikan sapaan salam itu benar-benar ditujukan kepadanya.

“Waalaikumsalaam,” jawab Ahyoona, dengan senyum ramah.

“Kenalin, aku Lana,” katanya seraya mengulur tangan.

“Ahyoona,” jawabnya singkat.

Awal perkenalan yang tidak terlalu akrab. Memberi salam, Tanya nama, dan berakhir dengan pertukaran nomor whatsapp. Sepertinya hal demikian itu sudah selazimnya dilakukan, apalagi oleh teman sekelas. Dalam pikiran Ahyoona, mustahil ia akan mudah mendapat seorang sahabat dilingkungan yang baru. Akan tetapi, pemikiran itu keliru. Sebab, apa yang terpikirkan jika mendengar kata sahabat? Bukan hanya ada dalam suka dan duka. Bukan selalu bersama-sama. Bukan kesenangan yang membuat dunia serasa milik berdua, bertiga, atau jumlah berapa pun yang mengikat suatu persahabatan. Melainkan lebih dari itu. Sahabat adalah seseorang yang akan memperjuangkanmu meski ditengah kesibukannya. Akan menyelipkan namamu saat kau terlupakan. Membantumu saat kesusahan, walau berapa kali kau meminta tanpa mengharap balasan. Menasihatimu saat kau salah arah ataupun keliru dalam bertindak. Ahh, bahkan yang telah kusebutkan belum bisa mendeskripsikan arti sahabat sesungguhnya.

“Aku ingin menjadi sahabatmu sampai ke jannah-Nya,” begitu isi chat yang dikirim Lana. Ahyoona yang serasa sedang dilamar, tersenyum simpul mengetikan balasan.

“Iya, aku bersedia.”

“Haha, kamu tahu tidak? Aku sampai keringat dingin menyampaikan kalimat tadi. Serasa aku sedang melamar seseorang,” balasnya, disertai emotikon wajah menyeringai.

“Haha, aku juga tadi mikirnya begitu.”

Tibalah hari dimana semua mahasiswa baru Fakultas Ilmu Komunikasi berkumpul untuk mengikuti kegiatan serupa ospek, akan tetapi ini suasananya lebih santai. Sebab masa ospek mereka sudah selesai dua bulan lalu. Jadi ini semacam streaching bersama kakak tingkat. Jalan santai sepanjang enam kilo meter tentu tak kan terasa jika banyak teman yang ikut serta. Apalagi, teman seangkatan Ahyoona dengan jurusan yang sama berjumlah lebih dari seratus mahasiswa, ditambah kakak tingkat sebagai panitia kegiatan sekitar belasan orang.

Perjalanan panjang sekaligus melelahkan itu berakhir pada satu titik, dimana sebuah bendungan terkenal di kota ini. Sembari melepas penat, Ahyoona, Lana, dan semua yang hadir di sana membuka perbekalan yang mereka bawa. Ada yang bawa roti, wafer, biscuit, keripik, minumannya pun beraneka ragam. Sebenarnya mereka juga membawa perbekalan makan siang. Namun, karena belum ada instruksi dari kakak-kakak panitia, mana mungkin mereka mendahului. Bisa-bisa dicap tidak solid oleh yang lain.

Sekonyong-konyong Bang Azrul selaku ketua panitia kegiatan streaching berdiri seraya meminta perhatian.

“Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh. Bagaimana kegiatan pagi ini? Apa semua berbahagia?!”

“Bahagiaaaaaa!!” jawab seluruh mahasiswa baru serempak.

“Nah, biar tambah seru lagi, kakak punya beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab. Tapi khusus yang kakak tunjuk aja. Pertanyaannya nggak sulit-sulit kok. Siap?!” suara Bang Azrul Lantang.

“Siaaaaaap!!” jawab mahasiswa baru semua kompak.

“Lana, apa alasan kamu mengambil jurusan ini?" kata Bang Azrul sambil mengarahkan telunjuknya ke Lana.

“Kalau saya, karena senang dengan dunia desain grafis. Jadi saya ingin memperdalamnya di sini,” jawab Lana, mantap.

“Ok. Ahyoona, bagaimana menurutmu dengan teman-teman sekelasmu?" tanya Bang Azrul kali ini kepada Ahyoona.

Tanpa ba, bi, bu lagi spontan Ahyoona menjawab “kurang!” Namun, jauh dilubuk hatinya tak ada niatan mengatakan itu. Ahyoona memang sejak kecil sudah memiliki kebiasaan buruk yaitu seenaknya berkata tanpa memikirkan akibatnya terlebih dahulu. Hanya orang-orang yang sudah lama mengenal Ahyoona yang bisa memahami hal itu. Tak jarang, orang yang baru mengenal Ahyoona akan mundur teratur jika baru mengetahui tabiat Ahyoona.

Semua yang ada di lokasi streaching memusatkan pandangan pada Ahyoona. Ada yang menatap penuh Tanya, ada yang menatap tak percaya, bahkan ada yang seolah ingin protes. Namun yang ditatap malah senyum seolah tidak terjadi sesuatu yang buruk. Bang Azrul tidak melanjutkan sesi Tanya jawabnya melainkan langsung memarahi teman-teman Ahyoona. Barangkali Bang Azrul juga tak menyangka akan mendengar jawaban tak berperikemanusiaan itu.

Keesokan harinya ada mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Setibanya Ahyoona di kelas, suasana masih lengang. Seharusnya bukan itu suasana yang ia dapatkan. Sebab, biasanya kalau semua sudah berkumpul, kelas itu berubah menjadi pasar. Ada yang bergosip, ada yang nyanyi sambil bawa gitar, ada yang main game di hp-nya sambil volumenya disetel paling keras, dan ada juga yang tilawah. Itu adalah Lana. Terkadang Ahyoona tak habis pikir, masih sempatnya Lana tilawah ditengah hirukpikuk suasana kelas yang betul-betul memecah konsentrasi. Ahh, tapi hal itu ada bagusnya juga. Setidaknya lantunan ayat suci mampu menyejukkan dikala kebosanan merambah. Jam sudah menunjukkan pukul 08:30. Namun belum ada tanda-tanda dosen akan masuk. Seharusnya perkuliahan sudah dimulai setengah Jam lalu. Lana yang biasanya menyapa terlebih dulu, kini diam membisu. Ahyoona yang tak tahan dengan kecanggungan ini lantas membuka suara.

“Hari ini masuk apa nggak ya? Kok udah lewat sekali jamnya. Apa sudah dihubungi dosen untuk mata kuliah hari ini?” sayangnya yang ditanya bungkam. Melihat itu, Ahyoona hanya bisa berpikir dan membuyarkan rasa penasarannya.

Terbersit Tanya dibenak Ahyoona, “Pasti ada yang tidak beres. Tapi apa ya?” Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki berdarah Sunda yang biasa disapa Raja mendekat.

“Saya mau bicara sama kamu. Boleh?” ucapnya, datar.

“Silakan… ada apa ya?” jawab Ahyoona, heran. Tak pernah sebelumnya Raja menghampirinya apalagi seperti ada hal serius yang harus diselesaikan.

“Apa maksud kamu bicara begitu kemarin?” tanyanya, masih dengan datar.

“Maksud kamu?” Ahyoona pura-pura tak mengerti. Padahal ia sudah menerka arah pembicaraan ini akan kemana.

“Kamu tahu tidak, kami tidak menyangka kamu akan berkata seperti itu! Apa sih kurangnya kami? Bayangkan saja, kamu sudah terlalu diistimewakan di kelas ini. Kami selalu menyediakan bangku kosong di depan supaya kamu bisa duduk di depan. Karena kami tahu kamu suka duduk di depan. Setiap kamu jalan kami selalu memberikan ruang agar kamu mudah berjalan. Kalau kamu bertanya kenapa kami tidak pernah mengajak ngobrol, itu karena kamu selalu membatasi diri. Kami berusaha menjadi teman kamu, masuk ke dalam duniamu. Tapi kami tidak bisa, sebab kamu sendiri yang menciptakan benteng bagi kami,” tutur Raja, menggebu-gebu.

Lana yang sedari tadi diam, kini angkat bicara juga.

“Mungkin kami yang terlalu bodoh memperlakukanmu. Jadi tolong kasih tahu, dimana letak kekurangan kami. Biar kami bisa perbaiki. Saya nggak mau kalau ini jadi salah paham,” kata Lana, mencoba mencairkan suasana yang menegang.

“Kalian nggak bakalan ngerti maksudku,” jawab Ahyoona setengah terisak.

“Karena itulah, coba buat kami mengerti. Biar masalah tidak semakin pelik. Kamu kan sering curhat sama saya, saya juga sering jadi pendengar setia buat kamu. Asal kamu tahu, dengan kamu ngomong seperti kemarin, kamu telah merusak citra kelas ini. Jujur, saya kecewa sama kamu.”

Oh tidak! Mimpi buruk apa yang sedang menimpah Ahyoona? Kalau benar ini mimpi, tolong bangunkan Ahyoona sekarang! Ahyoona sungguh tak ingin berada dalam situasi seperti ini. Namun, beribu sayang ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan yang mesti Ahyoona hadapi. Lebih parahnya lagi, seseorang yang menjadi sandaran Ahyoona kala susah, malah menjadi garda terdepan yang menyudutkannya. Ahyoona benar-benar kehilangan pegangan. Dalam pikirannya saat ini ialah ingin segera pulang. Ya, pulang dan menumpahkan segala kepedihan.

Syukur kali ini Tuhan langsung menjawab doa Ahyoona. Ketua tingkat menyampaikan bahwa dosen mata kuliah ini berhalangan hadir. Jadi semua boleh pulang. Dengan mata sembab dan bibir masih terisak, bersama langkah gontai ia menuju sebuah parkiran. Melewati Raja yang entah merasa bersalah ataukah malah sebaliknya. Ups, mengapa Raja yang harus merasa bersalah? Jelas-jelas di sini yang membuat kesalahan adalah Ahyoona. Akan tetapi, apakah semua kesalahan itu bersumber padanya?

Setibanya Ahyoona di rumah, rupanya rumah tidak sedang kosong. Ada Kak Luthfi, seorang kakak sepupu Ahyoona yang juga tinggal bersamanya lantaran rumah Ahyoona yang lebih dekat dari tempat kerjanya. Ahyoona yang sedang rapuh dan butuh tempat mengadu lantas duduk di sebelah Kak Luthfi yang sedang menonton acara siraman kajian Islam di TV bersama secangkir wedang jahe menemani.

“Kenapa? Kok nangis,” kata Kak Luthfi, masih asyik dengan acara favoritnya.

“Kak, Yoona kelepasan lagi. Yoona salah ngomong lagi. Teman-teman Yoona tersinggung, terus mereka marah.”

“Hah... itu penyakit lama masih dipelihara juga. Memangnya, kamu ngomong apa?” tanya Kak Luthfi mulai serius.

Ahyoona menceritakan secara detail apa yang ia alami, tak membiarkan ada satu bagian pun yang tertinggal.

“Saran kakak, mending kamu minta maaf sama mereka. Bila perlu kamu berdiri di depan kelas dan minta maaf. Atau, kalau kamu malu, buatlah acara makan-makan dan niatkan dalam hati sebagai wujud rasa penyesalanmu. Itu sih kalau kamu mau. Karena kamu tidak boleh lari dari masalah. Kalau tak ingin dicap pecundang,” kata Kak Luthfi, menasihati.

Ahyoona berpikir. Ahyoona berusaha merenungi kalimat demi kalimat yang dilontarkan sang sepupu. Dalam hatinya berbisik, “Mampukah ia melakukan semua itu. Ia memang tak ingin lari dari masalah. Ia juga tak mau dicap sebagai pecunndang. Namun, menuruti nasihat Kak Luthfi butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan segenap keberanian. Apalagi dirinya yang jarang bicara dengan teman sekelas.

Ahh, Ahyoona bukan pecundang. Ia tak akan lari dari kesalahan yang ia perbuat. Meminta maaf pasti akan ia lakukan. Namun, ia akan melakukannya dengan cara sendiri. Entah dengan menulis surat ataukah membuat bangga teman-temannya. Satu hal yang pasti ingin Ahyoona ungkapkan, “Ahyoona sayang kalian.”

The end

Foto Diri Penulis, Mifta Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh. Halo, perkenalkan namaku Miftah Hilmy Afifah. Biasa disapa Afifah. Tanggal lahir 2 Maret tahun 2000. Tempat tinggal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Aku seorang mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Aktifitas sehari-hari selain kuliah yaitu menulis cerpen dan puisi. Selain itu aku juga seorang penyiar radio streaming Langgam Mutiara. Hobiku menulis, memasak, dan mendengarkan lagu-lagu Korea.

1 comment for "LANA"

  1. Keren FIFA cerpennya, terus berkaria jangan cepat puas dan jangan ngedrop kalau ada komentar mirin. Jadikan itu sebua acuan agar kamu lebih semangat lagi, semoga kedepannya kamu bisa menerbitkan bikumu sendiri dan kariamu dikenal oleh masyarakat.

    ReplyDelete