Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Potret Semarak Lebaran Dalam Kekeluargaan

Sebulan berjalan, Ramadhan seolah meninggalkan pesan kepada para muslim. Pesan untuk tetap menjaga apa yang dibangun selama sebulan terakhir. Yakni menjaga hawa nafsu, menjalankan ibadah, berbuat baik kepada sesama, dan menjauhi maksiat. Begitu yang sering saya simak dari ceramah-ceramah para ustadz di Youtube. Yah, semoga saja kita semua termasuk golongan orang-orang yang istiqomah serta diberi rahmat dan hidayah.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Lebaran adalah waktu yang paling berbahagia bagi saya. Setidaknya itu sangat berasa di dekade sebelumnya. Masa di mana saya seakan jadi orang yang tidak punya masalah sedikitpun. Saat itu lingkungan yang membentuk sebuah kegembiraan itu. Walaupun sepertinya makna kegembiraan bagi saya berbeda dengan anak-anak yang sebaya dengan saya kala itu, tapi saya merasa gembira karena apa yang saya lalui selalu saya renungi dan membentuk wawasan baru bagi saya.

Saya banyak main di rumah. Bukan tipe anak yang suka pulang keringatan, attau lari-larian bersama geng-geng kompleks rumah. Teman saya hanya ada di sekolah dan tempat les. Itupun yang benaran akrab satu dua. Definisi akrab bagi saya itu ketika kita punya teman yang bisa diajak pulang sama-sama, dan mau diajak main PS di rumah. Itu versi SD yah, hehe...

Lagi-lagi, lingkungan yang membentuk masa-masa berkembang saya. Benar kata orang. Apa yang kita mau, belum tentu bisa diraih. Terlepas itu adalah hal yang baik untuk kita atau tidak. Tapi semakin ke sini, saya malah berpikir, ternyata banyak yang bisa saya dapatkan di dalam rumah. Saya mengerti bahasa asing, akrab komputer, kenal Playstation, bahkan membuat coretan sampah pun malah jadi aktivitas saya. Akhirnya, berkat rumah yang terhias dengan komputer dan jaringan, saya mendapatkan perspektif melalui dunia maya.

Lebaran sudah menjadi momen untuk memperbaharui silaturahmi dalam keluarga. Momen ini yang saya maksud paling berkesan semasa hidup. Gambaran saat saya berlari-lari kecil bersama bapak untuk merebut shaf depan di masjid, bersenggolan dengan jamaah lain, walaupun pada akhirnya hanya bisa dapat shaf di pekarangan masjid, tapi entah ada perasaan bangga tersendiri. Kebanggaan yang alasannya tidak diketahui itu datangnya begitu saja. Mungkin saja hanya sebatas kebanggaan melaksanakan shalat 'id bersama bapak, dan menanti sambutan kakek, nenek, om dan tante di rumah.

Seperti yang diketahui, shalat 'id dilaksanakan dua rakaat sebelum ceramah utama disampaikan. Rasa tidak sabar menanti waktu pulang, akhirnya membuat pidato ceramah menjadi kalimat angin lalu. Makanan khas yang menjadi kegemaran sepertinya mengalahkan makna berpuasa yang disampaikan oleh bapak khatib.

Soto ayam dan ketupat menjadi menu yang tidak boleh alfa bagi saya kala lebaran. Tante dan nenek yang jago masak selalu saya mintai untuk menyediakannya khusus. Akhirnya, makanan juga menjadi pemantik euforia lebaran. Meski dibarengi dengan menu lain seperti kari ayam, goreng daging yang biasa disebut "gore-gore", dan satu khas bugis yakni burasa', tapi selagi yang dua tadi masih ada, rasanya memang hanya itu yang mau melaju di kerongkongan.

Tidak hanya makanan berat, ada juga kue yang sangat terkenal dan menurut saya originalnya hanya bisa dibuat oleh orang Sidrap. Yakni roti beras. Hal itu saya simpulkan setelah beberapa kali mencicipi kue yang sama di Makassar, tapi rasanya tidak sama. Bukan hanya rasa, tapi teksturnya juga tidak sama. Dan lucunya, namanya pun agak melenceng. Yaitu kue beras. Terkait apakah antara roti beras dan kue beras memanglah dua makanan yang berbeda, kamu bisa beritahu saya lewat kolom di bawah.

Di beberapa coretan sampah saya lainnya, saya mengatakan bahwasannya bapak menjadi sosok kebanggaan bagi saya. Di tengah-tengah keluarga besar, saya selalu di dekat bapak. Berziarah ke rumah keluarga lainnya, saya selalu mengambil posisi di dekat bapak. Bapak yang tidak banyak bicara di kalangan keluarga, yang lebih banyak mendengarkan, menyambut para tetua, dan tersenyum akhirnya menjadi sesuatu yang non verbal untuk saya. Saya jarang bercengkrama apalagi bercanda dengan beliau. Tapi sepertinya beliau selalu paham apa yang saya mau, yang saya pikirkan, dan rasakan. Dari sini, saya bisa belajar tentang kedekatan batiniyah jauh lebih peka ketimbang kedekatan lahiriyah.

Ritual yang dilakukan setiap 1 Syawal, yakni berziarah ke rumah-rumah keluarga di Sidrap. Senyum dan sambutan beriringan dari rumah ke rumah. Yah, namanya juga hari kemenangan. Berbagi kebahagiaan sudah pasti dilakukan. Semua serasa manis, hingga di makam leluhur pun do'a serasa hikmat.

Itu keluarga bapak. Belum keluarga mamak. Mereka banyak di Polewali Mandar. Entah peristiwa apa yang menjadi alasan perantauan mereka yang asli Sidrap. Atau mungkin ada garis keturunan yang saya tidak ketahui dari silsilah mamak. Yang jelas, "we also take a journey to Polewali Mandar!". Setiap 2 Syawal kami berombongan melaju ke Polman. Bapak dan mamak adalah saudara sepupu. Dan rata-rata keluarga bapak keluarga mamak juga. Rombongan ke Polman biasanya ada 3 mobil. Belum yang memulai keberangkatan dari Makassar.

Di Polman, saya menjadi saksi dari sebuah keluarga besar. Semua anak, cucu, menantu serta kerabat berkumpul dalam satu rumah panggung yang amat luas. Lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran. Setingginya kesuksesan yang dicapai, lingkungan awal tetap menanti kehadiran kita. Kesyukuran tidak hanya dilafazhkan, tapi juga diaplikasikan.

Tapi, seperti lagu Peterpan, "Tak Ada Yang Abadi". Bapak sudah menghadap sang pencipta saat saya baru mengambil langkah pertama untuk kebanggaan orang tua. Setidaknya ereka berpikir "anakku bisa juga, ya!", hehehe... Pun tetua-tetua lainnya yang biasa menjadi icon ziarah keliling yang kami ritualkan setiap lebaran. Satu persatu dari mereka seolah mewasiatkan generasi. Yah, generasi yang telah diimpikan oleh mereka sendiri.

Zaman sudah berubah. Digitalisasi membawa kebiasaan baru. Pandemi juga ikut-ikutan turun ke lapangan membuat "keos" dunia. Tapi, bagaimanapun metode, model, dan cara kita menyambut lebaran, mari semarakkan dan saling berbagi di hari yang fitrah. Semoga kebaikan Ramadhan ada pada kamu sekalian!

Post a Comment for "Potret Semarak Lebaran Dalam Kekeluargaan"