Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kolom Kerukunan

Penulis: Ahmad Dahri

Kalau bisa rukun, mengapa harus terpecah belah? Salah satu pesan dalam Babad Tanah Jawi yang patut kita renungkan bersama adalah perihal wewaler, pantangan. Salah satu kisah ketika Adipati Anom menjadi sultan di Mataram. Dua saudaranya pernah membangkang setelah diberi kekuasaan wilayah olehnya. Pangeran Puger dan Pangeran Jaya-Raga.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Pangeran Puger diberi kekuasaan di Demak. Namanya manusia, pasti ada obsesinya. Agaknya ungkapan bahwa “Semakin diberi dan dijunjung, maka semakin kurang rasanya.”. Hal ini terjadi, ketika pangeran Puger berniat untuk membangkang dan menguasai Mataram. Tentu karena hasutan Adipati Gending.

Namun usahanya untuk membangkang akhirnya juga sia-sia. Ia kalah perang dengan adiknya. Lalu diboyong dan diasingkan ke Kudus. Begitu juga dengan Jaya-Raga. Setelah mendapat kekuasaan di Ponorogo, niatnya untuk mbalelo muncul. Ia juga ingin berkuasa di Mataram. Namun usahnya lagi-lagi gagal. Akhirnya ia diasingkan ke Masjid Watu.

Usut punya usut, ternyata ada wewaler atau pantangan dari mendiang Ayahnya, Panembahan Senopati bahwa seluruh sanak saudara agar selalu rukun, dan barang siapa tidak mengindahkan, maka tidak akan selamat hidupnya.

Poin utama dari gambaran di atas adalah “rukun”. Dengan kata lain, siapa pun itu, bagaimana pun status sosialnya, maka yang perlu diperjuangkan adalah kerukunan. Saling menjaga satu sama lain. Dalam berbagai konteks di kehidupan ini. Justru yang kemudian menimbulkan kemelut adalah ketidak-rukunan itu sendiri.

Semisal, berawal dari rasa iri, kecemburuan sosial, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi pemicu munculnya ketidak-rukunan.

Kalau saja dalam konteks kitab suci dikatakan bahwa “Kuu anfusakum wa ahlikum naara” maka yang perlu dijaga dalam tafsir ini adalah agar tidak terjerumus dalam ketidak rukunan. Karena sifatnya “Nar” atau api adalah panas dan membara. Oleh sebab itu, bukan masalah bagaimana menjaga posisi aman atau berdiam diri di zona nyaman. Tetapi menjaga diri untuk saling menhargai dan menghormati itulah yang kemudian menjadi tantangan.

Jika orientasi kehidupan adalah tata tentrem karta raharja, gemah ripah lohginawe, maka tumpuan utamanya adalah kerukunan. Kerukunan bersifat saling menghormati dan menghargai. Sehingga perbedaan bukan menjadi alasan sebuah perpecahan. Justru nafsu ingin menjadi yang “paling” itulah yang menjadi penyebab perpecahan.

Lantas, bagaimana dengan kondisi di negara kita hari ini? Anda boleh menilai dengan cara anda sendiri. Saya sepakat dengan Mbah Sujiwo Tejo ketika mempertanyakan masalah di mana pancasila, ketika masih banyak orang miskin, ketika masih banyak pengangguran, ketika masih banyak perdebatan dengan hal-hal yang intim, sebut saja keimanan, atau agama lah.

Pancasila adalah ideologi bangsa yang multikultur ini. Dengan bineka tunggal ika-nya seharusnya tidak ada saling mendiskreditkan satu dengan yang lainnya. Pertanyaan paling mendasar adalah, jika perbedaan sudah ada sejak dulu, lantas kita mau protes kepada siapa? Tuhan? Lah wong diberi nikmat sehat saja masih sering lupa bersyukur, apalagi diberi anugerah kekayaan dan keberagaman baik pada posisi agama, budaya, ras dan suku bangsa.

Permasalahan utamanya adalah kita sering kepo dengan kepentingan orang lain. Kita sering ikut campur urusan orang lain. Akhirnya melupakan fokus pada apa yang sedang dikerjakan, atau potensi yang dimiliki.

Di samping terlalu sering gawok, kagetan, kita atau mungkin saya, masih sering menganggap orang lain tidak lebih baik dari kita. Hal inilah yang perlu bersama-sama untuk dikaji dan direnungkan. Karena bisa jadi, maksud dari afala tatafakkarun, afala ta’kilun, afala tatadabbaruun, adalah sikap pikir kita terhadap konteks sosial atau kepekaan terhadap apa yang ada di sekitar kita.

Lagi-lagi ada sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan kerukunan, mengapa kita lebih sering atau lebih suka menyalahkan orang lain? Jawaban paling mendasar, mengutip apa yang disampaikan mas Sabrang, kita terlalu berat untuk menyalahkan diri sendiri.

Artinya, langkah pertama untuk saling menghormati satu sama lain adalah mengenali diri sendiri sedalam mungkin. Dengan demikian prinsip kemanusiaan dan kepekaan itu muncul. Pertama, manusia sebagai hamba, maka selayaknya seorang hamba wajib melayani tuannya. Kedua, manusia bergantung kepada manusia yang lain, hal ini tidak perlu sama, karena manusia yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Ketiga, manusia sebagai khalifah maka, bukan menguasai melainkan menjaga anugerah dan amanah dari Tuhan.

Oleh sebab itu, persoalan kerukunan bukan pada agama atau budaya tertentu, melainkan menjadi persoalan kemanusiaan. Karena kemanusiaan lebih utama dari obsesi-obsesi satu kelompok, atau pemaksaan kebenaran yang belum tentu benar bagi yang lain. Artinya permasalahan yang selama ini muncul, sehingga mengakibatkan kita terkotak-kotak adalah persoalan dari sesuatu yang bersifat fleksibel.

Semoga kita semua selalu dijaga dan mendapat kekuatan dari Tuhan untuk menjaga kerukunan.

Foto Ahmad Dahri

Sekilas Tentang Penulis

Ahmad Dahri, penjual kopi dari Malang. Merintis Usaha kopi sejak semester awal kuliahnya. Menulis dan membaca menjadi hobinya. Kumpulan cerpen "Purna Ke Seratus" (Gubuklawas, 2017) adalah buku kumcer pertamanya. Bisa saling menyapa melalui email lekdah91@gmail.com.

Post a Comment for "Kolom Kerukunan"