Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Malaikat Insecure

Karangan: Miftah Hilmy Afifah

Sabar itu memang tak berbatas. Melainkan manusia itu sendiri yang membatasinya. Itu sebabnya, banyak yang mengatakan manusia punya batas kesabarannya masing-masing. Atau dengan kata lain tingkat kesabaran tiap insan itu berbeda-beda.

Gambar Pasangan Sedang Piknik Romantis

Tak terkecuali Angel, mahasiswi yang terlalu teladan. Ya, itu kata teman-temannya. Bagaimana pun, kapan pun, di mana pun, berbagai macam buku selalu dipelukan, lengkap dengan kacamata minus yang setia bertengger di mata. 3C, cupu, cuek, dan culun adalah sebutan yang bukan sekali dua kali ditujukan padanya. Lihat saja ketika musim ujian datang, semua yang mengata-ngatainya 3C itu tanpa secuil pun rasa malu meminta jawaban, tak lupa dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin dan senyum yang dibuat-buat seolah tak pernah terjadi suatu peristiwa yang merugikan salah satu pihak.

“Angel, lo udah punya pacar belum sih?” tanya Wulan Dwi atau kerap disapa Wulan.

Pertanyaan itu ditujukan sekadar memecah keheningan diantara dua insan yang memilih berdiam diri di dalam kelas. Tenggelam dalam kesibukan masing-masing sembari menunggu jam mata kuliah berikutnya dimulai. Angel dengan novel di tangannya, sedang Wulan dengan benda pipih persegi panjang yang menampilkan video-video lucu dari salah satu media sosialnya yang sesekali memecah tawa renyah dari pemiliknya.

Pertanyaan itu sontak membuka kenangan kelam lima tahun silam. Di mana saat itu Angel yang mempunyai prinsip tidak akan pacaran sebelum mendapat gelar sarjananya, tiba-tiba ditembak oleh Hamdan, cowok populer di sekolah itu. Banyak gadis yang tergila-gila karena ketampanannya dan keahliannya dalam segala bidang. Tak terkecuali Angel. Angel yang ditembak secara tiba-tiba di depan banyak siswa-siswi yang mengelilingi keduanya membuat Angel serasa dibuat melambung tinggi ke angkasa. Membuat riuh suara tak percaya dan tak suka dengan apa yang dilakukan Hamdan terdengar dari segala arah. Tatapan sinis pun tak lepas ditujukan pada Angel.

“Angel, sebenarnya gue udah lama suka sama lo. Tapi baru sekarang gue punya keberanian buat nyatain sama lo. Angel, lo mau nggak jadi cewek gue?” tembak Hamdan sambil menggenggam setangkai bunga mawar dan berlutut ala-ala pangeran dari negeri antah berantah yang datang melamar sang putri impian.

Melihat kesungguhan di mata Hamdan, tanpa banyak pertimbangan lagi, tanpa mengingat apa prinsip yang telah ia ikrarkan sendiri, Angel menerima bunga pemberian Hamdan dengan senyum simpul tanda rasa bahagia. Tak berbersit sedikit pun firasat akan malapetaka telah mengintainya sebelum itu.

“Hahahahaha ooh hahahaha ohhoo oohooo lucu banget sih lo! Siapa juga yang mau jadi cowok lo? Hah? Hahahaha… ngaca dong makanya. Kita tuh nggak sepadan. Memang sih lo pintar, tapi pintar lo cuman buat mancing yang lain supaya mau deket sama lo. Asal lo tahu ya, gue nggak suka sama cewek kuper kayak lo. Percuma pinter, tapi kuper, alias kurang pergaulan, hahahahaha…” Kata Hamdan mempermalukan Angel di muka umum, seraya berbalik beranjak meninggalkan perkumpulan siswa-siswi yang ia buat.

Angel yang wajahnya telah memerah akibat rasa marah, benci, malu, dan tersakiti semuanya bercampur jadi satu menjadi air mata yang tak terbendung lagi. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain berlari menyembunyikan diri dari ganasnya teriakan mereka yang tak mengerti bagaimana jika mereka ada di posisi Angel, mereka hanya bisa menertawai, membuli, mengasihani, mengejek dirinya yang terlalu polos.

“Angel, kok lo bengong? Sorry deh kalau gue lancang nanya kayak gitu. Soalnya kalau gue lihat teman-teman yang lain tuh suka ngomongin kisah percintaan mereka. Sedangkan lo enggak. Tapi nggak Cuma lo kok. Ya, termasuk gue sih, paling males banget ngomongin hubungan seseorang, udah kayak ahlinya aja tuh. Entar kalau kebiasaan, sampai nikah kalau ada masalah dalam rumah tangganya, diumbar-umbar deh kemana-mana. Lagian gue juga belum kepikiran ke sana sih. Fokus kuliah aja, ngebanggain orangtua, dan memperkuat ibadah. Kalau lo mau cerita, gue siap kok jadi pendengar lo...” kata Wu lan menyadarkan Angel dari lamunan sambil merapatkan bangkunya ke sebelah bangku Angel. Tak lupa binar di matanya memancarkan persahabatan dan senyum ceria yang tertangkap jelas walau sebagian dari wajahnya tertutupi oleh cadar.

Mendengar penuturan Wulan, sepertinya bukan hal yang sulit bagi Angel untuk menceritakan lembaran kelam dari kisah hidupnya. Ya, setidaknya Angel tak perlu menyimpan dan memendam sendiri unek-uneknya yang selama ini selalu menghimpit di dada. Bak sebuah batu besar yang tertanam di sana dan seolah tak bisa disingkirkan meski Angel berusaha melupakan.

“Ya ampun, tragis banget kisah lo, nggak nyangka gue. Ya, wajar aja sih kalau sampai trauma gitu. Tapi, menurut gue, lo harus bisa keluar dari zona ini sedikit demi sedikit. Gue nggak bilang insecure itu buruk ya. Insecure itu ada baiknya juga sih. Yaaa, kayak lo deh, lo merasa diri lo serba kurang akhirnya lo berusaha buat cari kegiatan yang bisa membuat diri lo punya nilai lebih. Tapi kalau lo terus membiarkan diri lo terpuruk, tertutup, dan minder, itu merugikan diri lo juga loh. Jadi meskipun lo punya skill di bidang tertentu, orang nggak bakalan ngelirik lo, karena lo tersembunyi dan menutup diri. Mungkin bisa jadi orang akan meragukan kemampuan lo. Hehe, ini gue bukan mau menggurui lo yaaaa, tapi gue berusaha buat lo supaya bisa jadi lebih baik lagi. Gue yakin kok, lo pasti bisa. Karena gue tahu lo orang baik”. Kata Wulan setelah mendengar semua kisah kelam Angel di masa lampau.

Setetes air mata meluncur dari kedua mata Angel yang sudah berkaca-kaca sedari awal ia bercerita. Ia tak menyangka bahwa masih ada manusia yang peduli dengannya. Hidup sendiri selama ini tanpa sadar telah membangun benteng pertahanan kokoh yang me nghalanginya bertemu dengan orang-orang baik. Membantah semua prasangka bahwa di dunia ini ia tak pernah sendiri. Mereka yang selalu bisa memasang topeng kebahagiaan seolah mereka yang paling beruntung hidupnya, tak sepenuhnya benar. Mereka tidak ingin terlihat lemah di depan umum, sebab itulah yang pada akhirnya akan membuka jalan bagi yang lain membuli dan menjatuhkan orang-orang yang terlihat lemah.

Foto Diri Miftah Hilmy Afifah

Sekilas Tentang Penulis

"Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh, halo teman-teman! Namaku Miftah Hilmy Afifah. Biasa dipanggil Afifah. Aku adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi Sumbawa ( UTS ). Hobiku menulis, membaca novel, memasak, dan berbicara di balik layar. Maksudnya, aku suka berbicara melalui media yang tidak langsung tatap muka dengan audiens-nya gitu loooh. Beberapa tulisanku sudah dimuat di beberapa website dan majalah. Untuk berkenalan denganku bisa lewat instagram-ku yaaa, di @afifah.pisc dan facebook dengan nama akun yang sama dengan nama lengkapku. Terima kasih telah membaca karya-karyaku dan mohon doa serta dukungannya agar aku tetap semangat dalam berkarya. Sampai jumpa di tulisan-tulisanku selanjutnya! Bye – Bye!"

1 comment for "Malaikat Insecure"