Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MARJINAL

Penulis: Rizka Arumdapta

Wiji Thukul adalah seniman pada masa orde baru yang lantang meneriakkan perlawanan lewat kata-kata sederhananya, yang sebetulnya sarat akan makna magis, dan mampu mengusik rezim Indonesia. Membaca puisi-puisinya dalam buku Aku Ingin jadi peluruh membuat saya merasa belum melakukan apa-apa untuk melawan tindakan diskriminatif bagi disabilitas. Sebab, perjuangannya belum bisa dijadikan sebuah komparasi untuk dipetik persamaannya.

Gambar Seseorang Memegang Pena di Dekat Laptop

Di buku Prahara-prahara Orde Baru, menceritakan perjalanan hidup seorang Wiji Thukul yang pelik. Sebab hidupnya sewaktu-waktu akan lenyap di ujung senapan. Dia juga telah menanggalkan rasa rindu dan kebahagiaanya dengan meninggalkan istri dan kedua anaknya yang masih kecil, untuk memperjuangkan satu kata (lawan).

kini dia hilang seraya spekulasi yang merebab, perihal hidup atau matinya tidak ada yang tahu, lalu dia lenyap ditelan misteri. Perempuan tangguh itu kehilangan sosok yang dia cintai, pada tahun 1998. Namun, Sipon atau Siti Dyah Sujarah meyakini bahwa, suaminya akan kembali tiga puluh tahun lagi.

Puisi Wiji Thukul bukan kata-kata, melainkan peristiwa dan mampu melampaui dirinya sendiri. Perjuangan untuk mematahkan stigma dan tindakan diskriminatif, seperti sanjungan Wiji thukul, untuk rezim orde baru kala itu. Penuh dengan kemudahan, rasa manis, dan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Hingga mati menjadi sebuah taruhan, demi perjuangan kecil yang tak berharga.

Saya pikir kita semua tahu dengan perumpamaan gila ini. Sebab, menjadi sesuatu yang punya nilai, kita harus mampu melakukan geliat di luar dari batas kemampuan. Bila tetap merasa nyaman di buaian belas kasih, partikel penyusun perubahan hidup akan enggan menyentuh, titik awal dan titik akhir hidup ini akan terasa sama saja. Saya tidak mau berada dalam zona itu, begitu pula kawan-kawanku yang baik, jangan pernah mau selamanya terpuruk.

Lupakan kata maklum, jika hendak melucuti kewarasan, hingga anggapan kono itu akan karam, perihal disabilitas adalah penggugur dosa.

LAWAN KAWAN!

Foto Rizkah Arumdapta

Sekilas Tentang Penulis

Saya perempuan Bugis yang lahir di Makassar, 28 November 1988. Menurut saya, kekecewaan adalah sesuatu yang sangat wajar. Tapi yang tidak wajar jika rasa kecewa itu melemahkan harapan. Saya suka warna kuning, suka ketawa, tidak suka makanan yang pedas, tidak suka makanan yang terlalu manis. Tapi suka dengan orang yang manis-manis, dan perkataan bisa melebihi pedasnya cabe rawit.

Post a Comment for "MARJINAL"