Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tere Liye, Sang Gladiator di Coliseum Mafia Buku Bajakan

Penulis: Ramadianto Machmud

Sang Gladiator, itulah sebutan yang pantas buat disematkan pada sosok Tere Liye. Wujud itu terpancar dari kegigihan dan keberaniannya dalam mengungkap praktek mafia penjualan buku bajakan di Negeri Warawiri. Ada ratusan buku hasil karyanya dibajak dan diperjual-belikan dengan harga murah. Miris sekaligus ironis, ketika pemerintah, dan beberapa platform online tak bergeming dengan keluhannya.

Gambar Seseorang Membaca di Perpustakaan

Bagi seorang penulis, buku bukan saja media bacaan. Tapi juga periuk bagi pembuatnya. Ada banyak kehidupan yang menggantung disana. Laksana pohon dengan asupan energi yang baik dan benar, membuat pohon itu semakin tinggi, besar, cabang-cabangnya pun melebar, membentuk sebuah atap, juga rumah guna menaungi makhluk-makhluk didalamnya.

Setiap huruf, kata yang digubah menjadi sebuah kalimat hidup yang sarat makna itu, hingga membentuk alur cerita, tidaklah mudah bagi seorang penulis. Butuh proses panjang, hingga berdarah-darah. Tujuannya, agar setiap pembaca dapat menikmatinya. Di setiap tulisan, ada suka dan duka, serta memori tersendiri bagi penulisnya. Itulah kenapa disebut sebagai Maha Karya.

Namun, disaat yang berbeda, secara terang-terangan, para mafia dengan sengaja melucuti semua kenangan itu. Dengan liarnya menggerogoti gengsi dari sebuah karya yang dihasilkan dengan susah payah. Mereka diibaratkan seperti benalu yang tak tahu malu. Menempel di batang pohon dan menyerap semua asupan energi yang ada. Perlahan-lahan namun pasti. Pohon itu akan kering dan tak bermanfaat sama sekali.

Sang Gladiator, Terkesan Kasar dan Arogan

Tere Liye ‘Sang Gladiator’ kini berada di arena ‘Coliseum’ para mafia buku bajakan. Tak mungkin ada asap mengepul, kalo tak ada api yang membara. Awalnya sopan serta santun dengan segala bujuk rayu yang dimiliki seorang Tere Liye. Mengajak, merangkul, mengimbau untuk membeli sebuah karya yang original dan bukan bajakan. Namun, segalanya dirasa sia-sia.

Butuh waktu cukup lama, sikap seorang Tere Liye, berubah kasar dan arogan. Semakin gencar kampanye #StopBeliBukuBajakan, bukan semakin sadar, tapi peminat buku bajakan pun makin gila dan liar. Tak berhenti disitu, dengan gencarnya meremehkan hasil karyanya. Sungguh mencelengkan tingkah laku warga Warawiri. Bukannya menyadari kesalahan, malah menyerang balik.

Panas, hujan, dingin, hangat, semuanya punya batas waktu. Apalagi bentuk kesabaran yang dibangun sebagai bentuk pertahanan. Mengalah bukan untuk berserah, tapi menunggu satu kesempatan. Menyerang bukan untuk menyakiti, namun membangunkanmu dari ketidaksadaranmu. Sebegitu parahnya, mereka yang tak menghargai kerja keras seorang penulis. Kasar dan arogansi sangat cocok ditujukan bagi mereka.

Silih berganti, ada yang memuji, ada pula yang nyinyir. Tak mengapa. Asalkan celoteh Sang Gladiator didengar, dan mendapat tempat dihati para pembaca sekaligus haters. Mengutip kalimat penulis Khrisna Pabichara Marewa, “kalaupun Tere Liye memilih bersikap keras, dengan menggunakan kata "dungu". Boleh jadi itu strategi, agar seruannya didengar dan diindahkan.

Petarung Gladiator Mahal Harganya, Murahan Itu Budak

Kata mahal tidak cocok dialamatkan bagi seorang penulis. Ada prestige yang harus dijaga. Dan itu tidaklah gratis. Prestige adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi seorang penulis. Soal mahal harga sebuah buku, itu bisa dijelaskan sangat sederhana. Kertas kena pajak, percetakan dan penerbitan ada pajaknya, pajak penghasilan buruh, dan terakhir royalti penulis pun kesambet pajak.

Adakah yang tersisa? Tentu saja ada. Sisanya buat ongkos bayar editor, dan modal cetak buku selanjutnya. Membayar seorang editor cukup menguras otak. Berandai-andai dari 1000 buku yang dicetak, cacat ada sekitar 5 persen, yang tak laku 10 persen. Laku hanya sekitar 60 persen, sisanya ya dibawa pulang. Dengan harga 100-150 ribu, apakah bagi kalian pecinta keadilan, masih merasa mahal? Kalau pun iya. Kalian termasuk orang yang tak berprikemanusiaan.

Bandingkan saja dengan buku bajakan. Jelas lebih murah. Semua didapatkan dengan cara yang tidak halal. Mafia buku bajakan, seperti budak keserakahan, tidak pernah bayar pajak ke negara, tidak bayar editor, desainer, illustrator. Bentuk bukunya pun sangat tidak layak. Kertas murahan mudah copot, binding dan kelimannya tidak rapi, dan cetakannya muram dan kusam. Bagian terpentingnya, nilai karya dalam sebuah buku bajakan, murni hasil rampokan.

Namun, sekali lagi ini bukan soal harganya. Tapi bentuk penghormatan atas hasil karya orang lain. Ada slogan membaca buku, “buku adalah jembatan ilmu,” membayangkannya saja, sudah gemeteran. Jika sebuah jembatan yang bernama buku itu tidak ada. Bisakah jembatan itu datang dari langit, ataukah dapat dibangun dengan gratis? Bagaimana dengan ilmu yang hanya bisa didapat melalui jembatan yang bernama buku?

Ingin Beli, Tapi Tak Mampu

Setidaknya diawal, memahami apa yang telah dialami penulis. Perjuangannya, kegigihannya, serta tekad yang kuat dalam menelurkan sebuah karya. Apalagi menghadapi sebuah tragedi pembajakan. Bentuk dukungan, cukup dengan tidak beli buku bajakan Tere Liye. Bila tak berkemampuan, daftarkan diri di perpustakaan nasional ataupun daerah. Yang menyediakan buku-buku Tere Liye. Atau bisa pinjam teman yang sudah membeli originalnya.

Atau bisa juga, dengan kesabaran yang extra untuk menabung. Paling tidak buku original Tere Liye, didapatkan berkat kesabaran dan kerja keras mengumpulkan sedikit demi sedikit. Alhasil, ketika terlaksana membeli bukunya Tere Liye, perasaan gengsi dalam diri pasti hadir dengan sendirinya. Ada banyak manfaat serta faedah yang bisa dipetik dari tindakan yang gigih. Berkat ketekunan, semua pasti ada balasan yang setimpal. Apalagi buat sekelas mafia buku bajakan. Semoga tercerahkan. ***

Foto Diri Ramadhianto Machmud

Sekilas Tentang Penulis

Ramadianto Machmud, akrab disapa Danny. Aktif sebagai kontributor di beberapa media lokal, salah satunya Kompasiana.com. Saat ini berposisi sebagai Manajer Jurnal Akademik “Jurnal Administrasi Bisnis” serta pendiri Organ Intra Kampus “Communal Research” di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi, Manado.

1 comment for "Tere Liye, Sang Gladiator di Coliseum Mafia Buku Bajakan"

  1. Aku kan follow juga instagramnya tereliye. Hampir semuanya postingan tentang teguran keras dari TereLiye. Miris sih ngebacanya.

    ReplyDelete