Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yang Bakal Terjadi Saat Mengagumi Tanpa Menahan Dirie

Penulis: Ahmad Dahri

Pernahkah anda kagum kepada seseorang? Kemudian anda selalu menceritakannya kepada siapapun. Bahkan semua hal yang berkaitan dengan seseorang yang anda kagumi akan menjadi tema dalam setiap premis-premis dan konklusi cerita anda.

Gambar Seseorang Bertelanjang Kaki

Kekaguman itu bisa kepada ragam hal yang melekat pada seseorang. Kecantikan atau ketampanannya. Kecerdasannya. Prinsipnya. Bahkan kekayaannya. Tidak menutup kemungkinan, kekaguman itu akan berubah menjadi semacam pengkultusan nantinya.

Akan tetapi, apakah kemudian kekaguman itu benar-benar mewarnai hidup kita? Atau justru menjadi bumerang dan bom waktu di kemudian hari?

Perlu kita garis bawahi, bahwa setiap manusia pasti bergantung kepada manusia yang lain. Dalam ragam teori sosial berkata demikian, "Manusia adalah zoon politicon," kata Aristoteles. Di mana manusia saling berkaitan dan melengkapi satu dengan lainnya.

Artinya ada hubungan timbal balik yang perlu disadari sebagai proses komunikasi. Dalam konteks kekaguman, setiap orang boleh mengagumi siapapun. Atas dasar apapun. Tetapi perlu adanya kontrol, agar kekaguman itu sejalan dengan espektasi kita.

Mengapa espektasi? Jawabannya sederhana. Manusia membutuhkan kepada manusia yang lain. Dengan demikian, kekaguman yang kita miliki justru berdasar pada espektasi dalam pikiran kita sendiri.

Ketika kita Sudah kagum kepada seseorang maka yang perlu kita waspadai adalah rasa muspro. Lebih tepatnya kecewa. “Ternyata Cuma begitu toh?” atau ungkapan yang lain, yang mewakili kekecewaan tersebut.

Biasanya kekecewaan itu muncul setelah ada perjumpaan. Satu contoh yang sering kita temui adalah tentang pacar. Di mana sebelum seseorang yang kita kagumi itu menjadi pacar kita, maka ia adalah bunga yang selalu memberi wangi dan keindahan. Namun sejalan kemudian, setelah menjalin hubungan dengan kita, akan muncul ragam hal yang menodai kekaguman itu sendiri.

Semisal, sebelum menjadi pacar, ia sering membelikan permen coklat. Lantas, setelah lama menjadi kekasih kita, ternyata ia tak pernah lagi membelikan permen coklat kesukaan kita. Ia lupa dengan kesukaan itu. Tentu anda pernah mengalami kekecewaan-kekecewaan yang lain.

Oleh karenanya, yang perlu kita jaga adalah tidak mengikat kekaguman itu dengan pikiran dan kemauan kita. Karena, bisa jadi kekaguman itu hanya pikiran kita saja, dan akan berbeda hasilnya ketika ia tidak sejalan dengan pikiran kita.

Salah satu pesan Nabi Muhammad SAW., "Seharusnya kita tidak terlalu mencintai siapapun. Karena siapa tahu suatu saat ia akan menjadi seseorang yang sangat kita benci. Pun sebaliknya, jangan sampai kita membenci siapapun. Karena suatu saat, bisa jadi ia akan menjadi seseorang yang sangat kita cintai."

Artinya, kekaguman itu biarlah berjalan seadanya. Jangan kemudian dijadikan patokan bahwa yang kita kagumi tidak boleh begini dan begitu. Mereka manusia men… Polanya statis, naik turun, tidak terprediksi.

Ketika yang kita kagumi adalah pemikirannya, maka cukup pada pemikirannya saja. Perlu kita sadari dalam konteks yang lain tentu akan berbeda dengan pemikirannya. Pun dalam ruang-ruang kehidupan yang lain. Karena kekaguman akan ternodai oleh pemikiran kita sendiri.

Pendek kata, kagumlah pada apapun itu, tetapi jangan paksakan apapun itu agar menjadi seperti yang kita pikirkan. Setiap orang punya hak dan prioritas masing-masing.

Paling gampang dalam kehidupan ini adalah menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi masing-masing. Perbedaan itu justu menjadi pelengkap bagi setiap manusia. Bukan justru menjadi pengikat antara yang satu dengan yang lainnya.

Maka, kagumlah dengan sewajarnya. Karena kekaguman adalah puncak dari sesuatu yang harus disyukuri keberadaannya. Bukan untuk dituntut keberadaannya. Walaupun belajar bersyukur itu sangatlah sulit. Semoga kita selalu diberi kesadaran untuk selalu bersyukur. ***

Foto Ahmad Dahri

Sekilas Tentang Penulis

Ahmad Dahri, penjual kopi dari Malang. Merintis Usaha kopi sejak semester awal kuliahnya. Menulis dan membaca menjadi hobinya. Kumpulan cerpen "Purna Ke Seratus" (Gubuklawas, 2017) adalah buku kumcer pertamanya. Bisa saling menyapa melalui email lekdah91@gmail.com.

Post a Comment for "Yang Bakal Terjadi Saat Mengagumi Tanpa Menahan Dirie"