Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fairy

Karangan: Nur Azizah

Adakah hati yang tak bisa terluka? Mungkin saja ada. Namun bukan hati kakakku. Termasuk aku. Hatiku pun teramat perih ketika lagi-lagi harus mendengar hinaan itu.

Gambar Dua Tangan Sedang Berjabat

Cacian, perkataan kasar tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka. Orang-orang yang tak pernah bisa mengerti dengan kondisi kakakku. Sudah tak terhitung berapa kali Kakakku menangis sambil mengurung diri di kamar.

Akulah yang biasa membelanya. Balik, memarahi orang-orang yang berkata seenaknya itu. Tapi itu tak cukup. Ucapan-ucapan mereka terus terlontar hingga membuat hati kami teriris-iris.

Dan yang membuat segalanya semakin hancur adalah sikap Ayah. Satu-satunya orangtua yang kami miliki saat ini itu juga tak bisa memahami putrinya sendiri.

“Anak bodoh! Kenapa nilai-nilaimu selalu jelek hah? Dasar pemalas! Pasti kamu tak pernah belajar hingga rata-rata nilaimu merah. Cuma satu saja yang bagus. Tapi apa gunanya kalau yang lain jelek? Kenapa kamu tidak mengikuti adikmu yang selalu mendapat nilai bagus? Kamu itu sudah kelas tiga SMA, sebentar lagi lulus. Tapi Ayah masih tak habis pikir kenapa nilaimu tak berubah. Dasar anak tak tau terima kasih. Untung saja Ayah bisa menyuap guru-guru di sekolahmu agar tak mengeluarkanmu.”

Kalimat makian Ayah dengan nada tinggi itu akan terus terdengar setiap hari. Sampai para tetangga pun hafal dengan teriakkan Ayah. Namun mirisnya, bukannya turut prihatin, mereka malah ikut mencaci, mengolok-olok kakakku. Padahal mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kakakku itu tidak bodoh. Tidak pemalas seperti yang mereka katakan. Justru aku menjadi rajin belajar, karena melihat kegigihan kakakku, yang berusaha memahami buku-buku. Sebetulnya Ayahku juga tahu tentang hal itu. Tapi ia seolah-olah menutup mata. Menurutnya serajin apapun kakakku belajar, kalau nilainya tetap jelek itu karena ia memang tak pandai.

Enam tahun yang lalu, ketika kakakku, Fairy duduk di bangku kelas enam SD, menurut guru-gurunya mungkin ada yang salah dengannya. Itu yang membuat ia tak bisa membaca dan menulis, hingga sulit mengikuti pembelajaran. Akhirnya almarhuma Ibu kami membawanya ke dokter. Dan kata dokter, Fairy mengalami disleksia. Suatu gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca.

Sebetulnya hal itu bisa diatasi. Akan tetapi, takdir berkata lain. Apa yang terjadi setelah itu mengubah semuanya. Sepulang dari rumah sakit, Ibu dan Fairy mengalami kecelakaan.

Syukurnya Fairy selamat. Namun tidak dengan Ibu. Setelah kejadian itu Ayah sangat terpukul atas meninggalnya Ibu. Dan jadi membenci Fairy. Menurutnya, Fairylah penyebab meninggalnya Ibu. Hingga detik ini, Ayah masih belum dapat menerima kenyataan pahit itu. Padahal sudah jelas kalau Fairy juga korban di kecelakaan enam tahun silam.

Hal itu sudah menjadi takdir dari sang kuasa. Fairy pun melakukan berbagai macam cara agar Ayah tak membencinya. Namun sia-sia saja. Ditambah kondisi Fairy yang disleksia, malah menambah rasa benci Ayah padanya. Ayah dan para keluarga jadi tak mengacuhkannya. Ia seolah-olah diasingkan dari lingkungan.

Siang itu, seperti biasa. Setelah Ayah memarahi Fairy, Kakak yang beda dua tahun denganku itu hendak masuk ke dalam kamar, dan mulai terisak. Tanpa mengetuk pintu, langsung saja aku masuk, dan duduk di sampingnya.

“Ryn, sampai kapan Ayah akan membenciku? Kapan Ayah bisa mengerti keadaanku?” tanyanya, sembari terisak di bahuku. Pertanyaan yang setiap hari ditanyakannya padaku.

“Entahlah, Kak. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa agar Ayah dapat berubah, dan terus berusaha menunjukkan padanya kalo Kakak tidak seperti yang Ayah katakan.”

Seminggu kemudian. Ketika aku baru pulang dari sekolah, Fairy langsung menyambutku dengan antusias.

“Ryn, ada yang mau Kakak sampein ke kamu,” ujarnya dengan wajah berbinar.

“Apa?”

“Akhirnya Kakak terpilih mewakili sekolah untuk olimpiade matematika sekota ini.”

Yeah, ia memang sulit membaca dan menulis. Namun Fairy sangat jago di bidang matematika. Di semua mata pelajaran nilainya buruk, tapi tidak dengan matematika. Kakakku selalu mendapat nilai sempurna. Jadi aku tak heran kalau ia akan mewakili sekolahnya di olimpiade matematika.

“Wah! Selamat ya, Kak. Aku yakin pasti kakak bisa menangin perlombaan itu. Dan sekalian nunjukkin ke yang lain, kalo perkataan mereka tentang kakak tuh tidak benar.”

“Iya, Ryn. Dan tidak hanya itu, dihari yang sama, malamnya Kakak juga mewakili sekolah untuk lomba menyanyi solo di festival lomba seni siswa nasional.”

“Wow! Kakak hebat bisa ikut dua lomba sekaligus. Akhirnya doa kita selama ini dikabulkan. Dengan kakak ikut lomba-lomba itu, kakak bisa nunjukin ke mereka kalo kakak bisa. Aku tidak akan nyuruh kakak buat dapatin juaranya. Tapi kakak harus tampilkan yang terbaik. Tunjukkin siapa kakak sebenarnya! Kakak bukan orang lemah yang seperti mereka katakan,” ia membalas pelukkanku lebih erat.

“Terima kasih, Airyn. Kamu selalu mendukung kakak, kamu selalu ada buat kakak, selalu nyemangatin kakak. Kalo tidak ada kamu, kakak tidak tau lagi harus bagaimana. Kamulah satu-satunya yang buat kakak bertahan selama ini.”

“Kakak tidak perlu berterima kasih. Aku nih adik kakak. Pasti kakak juga akan melakukan hal yang sama kalo posisi kita ditukar,” ia lalu mengusap rambutku dengan sayang.

“Ya,” bisiknya."

Hari itu pun tiba. Tepat pukul 08.00, aku menemani Kakakku ke salah satu sekolah menengah atas yang akan menjadi tempat olimpiade dilaksanakan. Tentu saja. Kami juga mengajak Ayah. Akan tetapi,

“Untuk apa Ayah ikut kalian? Hanya bikin Ayah malu. Anak ini tak akan menang,” ujar Ayah dengan teramat ketus.

Hampir saja tadi Fairy meneteskan air mata. Namun aku buru-buru menariknya keluar. Kubisikkan pada Fairy,

“Sudah! Tidak usah hiraukan perkataan Ayah. Itu hanya buat kakak jadi tidak fokus sama lomba. Anggap saja, itu penyemangat kakak lomba nanti. Semakin kakak direndahkan, semakin kakak tunjukin kalo kakak bisa!” Fairy hanya mengangguk.

Satu setengah jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Semua peserta lomba keluar dari ruangan. Termasuk Fairy.

“Gimana soal-soalnya? Susahkah?” tanyaku, saat menghampirinya di depan pintu. Ia hanya tersenyum kecil.

“Sudah. Tidak apa-apa. Aku yakin pasti tadi kakak bisa ngerjainnya. Terus pengumumannya kapan?” tanyaku lagi.

“Malam nanti. Setelah lomba menyanyi. Sekaligus pengumuman lomba-lomba lainnya juga.”

“Oh. Ya sudah. Kalo begitu kita pulang yuk! Kakak masih harus berlatih untuk lomba malam nanti kan?” kataku, sembari mengedipkan sebelah mata.

Yup! Sama dengan matematika, bidang lain yang dikuasai Fairy adalah menyanyi. Aku masih ingat perkataan almarhuma Ibu sewaktu Fairy berumur sepuluh, dan aku delapan. Sejak itu Kakakku mulai senang bernyanyi. Setelah ia bersenandung kecil, Ibu akan bilang,

“Suara Fairy seperti suara para peri yang bernyanyi untuk bunga-bunga. Amat merdu, dan siapa pun yang mendengarnya akan merasa damai.”

Yeah, aku setuju dengan Ibu. Fairy memang memiliki bakat alami dalam bernyanyi. Tanpa ada yang mengajarinya, ia dapat mengeluarkan suara yang indah.

Tak terasa, malam pun tiba. Fairy sudah menyuruhku bersiap-siap untuk menyaksikan penampilannya. Namun, aku memintanya untuk berangkat terlebih dulu.

“Tapi kamu akan datang kan?”

“Iyalah, Kak. Tidak mungkin aku melewatkan penampilan kakak yang pasti memukau itu,” Fairy tersipu. Ia lalu berpamitan, dan mengingatkanku lagi untuk datang.

Aku hanya mengangguk. Setelah Fairy pergi, aku menghampiri Ayahku yang tengah bersantai sembari menonton televisi.

“Ayah...” aku memanggil dengan lirih.

“Ada apa?” Ayah hanya melirik sekilas ke arahku.

“Ayah, Airyn mohon Ayah datang malam ini ke perlombaannya Kak Fairy! Ayah harus lihat penampilan Kakak.”

“Tidak, Airyn. Ayah tidak mau dipermalukan di depan umum.”

“Aku tau Ayah pasti tau kalo Kakak tidak akan mempermalukan Ayah. Kakak sayang banget sama Ayah. Kakak mau buktiin kalo Kakak juga bisa bikin Ayah bangga.”

“Tidak! Sekali Ayah bilang tidak, itu jawaban final.”

“Ayah, Kakak sudah nyiapin penampilannya ini khusus untuk Ayah. Airyn mohon Ayah datang.” Mataku mulai berkaca-kaca. Kembali terbayang di benakku, bagaimana Kakakku berlatih sangat giat untuk persembahan malam ini.

Itu semua demi Ayah. Yup! Ayah yang enam tahun terakhir sangat membencinya. Ayah yang tak pernah lagi memedulikannya. Ayah yang selalu memarahi, dan berkata-kata kasar padanya.

“Daripada kamu membujuk Ayah yang tak akan ada gunanya, sebaiknya kamu pergi! Temani saja kakakmu yang tak berguna itu!”

Oh! Ingin rasanya aku memaki pria separuh baya di hadapanku ini. Hatiku tak tahan lagi mendengar kalimatnya yang barusan. Dengan geram, kubalikkan tubuhku, lalu berlari keluar. Kalau tak mengingat ia Ayah kami, mungkin aku sudah akan menyemburkan kata-kata kasar yang sedari tadi kusimpan di hadapannya.

Sesampainya aku di tempat lomba, untung saja Fairy belum tampil. Ia mendapat nomor urut terakhir. Jadi kami harus menunggu sembilan peserta lain.

Sembari menunggu itu, Fairy terus meremas jemariku. Aku balas meremas tangannya, menyalurkan semangat lewat genggaman. Dan saat yang ditunggu pun tiba. Nomor urut Fairy dipanggil untuk naik ke atas panggung.

“Semangat! Dan jangan lupa berdoa!” bisikku. Ia mengangguk mantap, lantas berjalan menuju panggung.

Sebuah instrument piano mulai terdengar. Fairy yang menggunakan gaun panjang berwarna putih tampak sangat cantik di tengah panggung. Dengan tangan kanan yang menggenggam microphone, ia mulai bernyanyi.

“Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja. Indahnya saat itu, buatku melambung. Disisimu terngiang, hangat napas segar harum tubuhmu. Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu."

"Kau ingin kumenjadi, yang terbaik untukmu. Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin kulakukan, dalam waktuku beranjak dewasa. Jangan sampai kau takut, terbelenggu jatuh dan terinjak.” Fairy menyanyikan lagu dari Ada Band, "Yang Terbaik Untukmu".

Ia terlihat sangat menghayati lagu yang dibawakannya. Hingga penonton ikut larut di dalamnya.

“Tuhan tolonglah! Sampaikan sejuta sayangku untuknya. Kuterus berjanji, takkan khianati pintanya. Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya kumencintaimu. Kan kubuktikan, kumampu penuhi maumu.”

Kakakku itu mulai berkaca-kaca. Aku tahu apa yang tengah dirasakannya. Sebab itu pula yang kurasakan.

Kembali flash back pada kehidupan kami enam tahun silam. Bagaimana kami hidup bertiga. Kehidupan yang berbanding terbalik dengan sewaktu Ibu masih ada. Bagaimana Ayah yang membedakan kami. Ayah yang sangat peduli dengan putri bungsunya, namun tak acuh dengan putri sulungnya. Bagaimana Ayah sangat memanjakanku, sedangkan Fairy tak pernah diperhatikan.

Ketika hal itu terjadi, Fairy pernah memerotes, namun itu hanya membuat Ayah semakin tak suka padanya. Ia pun pernah iri denganku. Ia bahkan sempat memusuhiku. Aku memperbaiki kejadian itu dengan selalu berbagi dengannya. Yup, karena memang itu yang akan kulakukan. Apapun yang kudapatkan selalu kubagi dengan Fairy. Lama-kelamaan, ia tak lagi iri padaku. Ia mulai menerima kalau mungkin perlakuan Ayah kami akan selamanya begitu. Kutepis hal itu dari benaknya.

“Jangan pesimis! Semua orang bisa berubah. Termasuk Ayah. Berdoa dan berusahalah agar Ayah dapat menganggap kita sama,” bisikku selalu padanya. Ia baru tersenyum, dan menggenggam erat tanganku.

Dari bawah panggung, penonton terus saja menganga kagum dengan penampilan Fairy.

“Penampilan kakak keren banget,” pujiku, tulus. Tanpa kami sadari, seorang pria yang duduk di barisan paling belakang sedari tadi mengamati Fairy. Sewaktu Fairy bernyanyi. Pria itu juga turut meneteskan air mata.

Waktupengumuman yang mendapatkan juara pun tiba. Terasa sekali kalau inilah saat yang paling mendebarkan. Fairy lagi-lagi meremas jemariku, menandakan bahwa ia sangat gugup.

Saat pengumuman juara untuk olimpiade matematika, nama Fairy disebut untuk yang meraih juara kedua. Seketika itu aku memeluknya erat.

“Aku bangga sama Kakak.” Cuma itu yang mampu kukatakan disaat air mataku mengalir.

Tentu saja, ini adalah air mata kebahagiaan. Puji syukur tak henti-hentinya keluar dari bibir kami. Inilah hasil dari usaha yang disertai doa kami. Berharap, dengan ini tak ada lagi yang mengolok-olok kakakku. Pria yang memperhatikan Fairy pun berniat menghampiri. Namun, langkahnya terhenti saat MC ingin mengumumkan yang mendapat juara pada lomba menyanyi.

Nama Fairy kembali disebut. Namun bukan menjadi juara kedua, melainkan mendapat juara pertama. Pria itu langsung berlari ke arah Fairy, lantas memeluknya erat.

“Maafkan Ayah yang sudah berlaku tak adil padamu. Ayah sangat menyesal sudah melampiaskan kesedihan padamu. Maafkan Ayah, Fairy! Ayah berjanji akan menjadi Ayah yang lebih baik untukmu.” Ayah tampak sangat menyesal. Fairy yang berada dipelukkan Ayah tampak syok. Ia benar-benar tak menduga Ayah kami akan hadir malam ini. Begitu pun Aku. Aku sangat terkejut melihat kemunculan Ayah.

Setelah tadi aku pergi dari rumah, Ayah kembali terpekur di depan televisi. Kata-kata putri bungsunya tadi seperti menusuk hatinya. Selama ini, ia memang berlaku tak adil dengan kedua putrinya. Tapi menurutnya itu benar. Karena putri pertamanyalah istri tercintanya pergi untuk selamanya. Andai saja waktu itu mereka tak pergi ke dokter, istrinya tak akan kecelakaan. Namun, bukankah putrinya juga menjadi korban di kecelakaan itu? Mengapa ia malah menyalahkan putrinya? Tiba-tiba saja, kesadaran itu pun muncul. Sontak pria itu merasa amat bersalah. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi enam tahun terakhir. Dan kini ia ingin memperbaiki semuanya. Dengan hati kalut, pria separuh baya itu pun menyusul kedua putrinya.

“Iya Ayah. Ssebelum Ayah minta maaf, Fairy sudah memaafkan Ayah.”

“Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mau memaafkan Ayah yang sangat jahat padamu.” Ayah lalu menarikku ke dalam pelukkannya juga. “Mulai sekarang Ayah janji, Ayah akan menjaga kalian berdua sebaik-baiknya. Karna kalianlah berlian-berlian Ayah. Ayah sangat menyayangi kalian. Dan terima kasih karena kalian selalu ada satu sama lain untuk saling menjaga,” kata Ayah, dengan suara bergetar.

“Iya, Ayah,” aku dan Fairy berkata serempak. ** End

Foto Nur Azizah

Sekilas Tentang Penulis

"Hai, hai, halooo! Saya Zhizie, seorang mahasiswi di jurusan Pendidikan Khusus, fakultas ilmu pendidikan, universitas negeri Makassar yang senang menghayal. Masuk ke dunia fiksi. Sudah jadi hobby saya sejak balita. Makanya suka banget menuangkan imajinasi fiksi saya ke dalam tulisan. Mau tahu lebih banyak tulisan-tulisan saya lainnya, bisa kepoin di facebook Azizah Zhizie. Dan follow juga IG saya @Azizahzhizie311."

Post a Comment for "Fairy"