Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Pendidikan yang Humanis

Penulis: Sujono Said

Masih segar dalam ingatan kita, ketika kurikulum 2013( kurikulum 13) menjadi perdebatan di era Mendiknas M.Nuh?. Namun, hal itu tak berlangsung lama lantaran pelanjutnya dalam hal ini Anis baswedan mencabut dan melakukan penyempurnaan di sana sini. Hasilnyapun, dalam kaca mata penulis sangat memberikan efek bagi guru, murid, dan orang tua. Walau dalam perjalanannya, masih banyak yang kebingungan termasuk dalam hal ini penulis, terlebih pada kurikulum tematik untuk guru kelas.

Gambar Seseorang Membaca di Perpustakaan

Sedangkan untuk maple, pun juga banyak memiliki perubahan. Lantaran guru diberikan petunjuk praktis untuk melakukan tahapan pembelajaran, termasuk dalam hal ini pembuatan perangkat. Hal yang paling penting menjadi notes(catatan) penulis adalah posisi antara guru, murid, dan wali murid lebih memperoleh perlakuan humanis. Seperti apakah itu, kita bedah satu demi satu. Pertama, di kelas guru tidak lagi dalam posisi paling smart. Kasarnya, tidak lagi sebagai orang yang diatas segalanya.

Atau, dalam bahasa lain guru tidak melulu menjadi superior atau diatas segalanya yang dengan begitu saja memperlakukan murid sebagai sosok yang harus disuap tiap hari. Namun, guru lebih pada sebagai fasilitator atau teman yang baik bagi murid atau siswa dalam proses pembelajaran. Artinya, guru tertantang untuk memberikan pengalaman bagi murid/siswa untuk faham sesuatu dengan caranya sendiri dengan cara yang lebih fun (menyenangkan) tanpa merasa tertekan oleh suasana di dalam kelas.

Rumus 5M yang diterapkan baik untuk maple dan tematik, memberikan kesan tersendiri bagi murid/siswa dalam belajar seperti membaca, menanya, melakukan, mendiskusikan, dan menalar, akan memberikan pengalaman tersendiri bagi siswa untuk lebih kritis dan tidak membebek pada apa kata bapak/ibu guru di kelas. Melainkan, guru memberikan arahan dan mempersilakan siswa/murid melakukan explorasi bersama orang tua di rumah serta mempersilakan siswa untuk belajar dari pelbagai sumber seperti media elektronik, cetak, dan online, serta lingkungan sekitar dibawah dampingan guru, orang tua, tokoh masyarakat dan agama. Bagi bapak/ibu guru yang tuhan berikan kreatifitas, curahkanlah kreatifitas anda secara maksimal bagi anak didik kita tercinta.

Pun juga buat ayah bunda, para orang tua/wali murid yang tuhan kasi kreatifitas, curahkanlah kreatifitas anda untuk membimbing anak kita di rumah. Dengan begitu, tak ada lagi siswa/murid yang bodoh, dungu, atau tolol di mata bapak ibu guru. Pun juga, tak ada lagi siswa yang pulang ke rumah dan menjadi bulan-bulanan orang tua/wali ketika memperoleh skor rendah dari bapak/ibu guru di sekolah, betul-betul humanis kan?.

Izinkan penulis sedikit bercerita hal yang memilukan hati penulis dari system pendidikan yang lama. Bayangkan, anak kita diperlakukan bak suami yang baru pulang narik bajai, ojek, angkot atau apalah. Begitu anak kita pulang bilang Assalamualaikum dijawab dapat berapa? Si anak dengan terpaksa harus mengeluarkan buku tulis berikut tugas dengan angka nol besar dari bapak/ibu guru di sekolah dan melayanglah sebilah pelepah kayu di betis sang anak berikut cacian dan makian yang tak pantas hingga membuat anak kita tak berdaya, tertekan dan merasa minder. Belum lagi, perlakuan diskriminatif juga terjadi kepada anak. Anak yang dapat skor 10 lebih mendapat porsi besar ketimbang anak yang hanya dapat skor 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, 0 ditulis besar-besar.

Akhirnya, banyak dari anak kita yang sering merasa kurang mampu menjadi anak yang baik. Karena apa? Karena system pendidikan di masa lalu yang salah. Betapa tidak, bagi yang mungkin sering membaca sejarah, tahu siapa tomas A. Edison? Ia adalah seorang yang dulunya sering dikatai bodoh, dungu, dan kata-kata lainnya oleh guru kelas di sekolah hingga dikeluarkan dari sekolah. Akhirnya apa? Ia menjadi seorang penemu dan apa yang menjadi penemuannya telah dinikmati sekarang ini belum lagi dengan mereka para ilmuan seperti Isak Newton, Steven Hocking, dan lain-lainnya. Artinya, ada kesalahan dalam system pendidikan di masa lalu. Sehingga, memberikan dampak yang kurang baik bagi anak-anak kita. Mereka, tak ubahnya seperti robot yang di program.

Mengapa demikian? Karena,tiap hari anak kita hanya disuap dalam artian diceramahi di kelas, kemudian disuruh mengerjakan tugas hingga jenuh. Belum lagi, ketika saat proses ulangan seperti smester, guru menganggap salah tatkala siswa menulis tidak sesuai dengan buku literature yang menjadi pegangan bapak dan ibu guru.

Pendeknya, anak kita hanya menjadi anak yang mampu menghafal angka dan tex. Sehingga, banyak yang betul-betul hafal apa pengertian taharah sebelum ulangan, ketika ulangan usai tingkatan najis pun klasifikasinya dilupa. Mengapa? Karena, mereka bersusah paya sebelum ulangan, hanya untuk nilai 90 bukan untuk memahami pelajaran.

Artinya, mereka dididik untuk mendapatkan angka-angka saja. Sedangkan dalam pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, ada 4 pilar, dan keempat-empatnya sangat metch dengan formula kurikulum 13 terutama dalam hal proses pembelajaran. Yang mana itu? Learning to know( belajar untuk tahu. Nah! Tahu bukan hanya sekadar tahu tapi juga memahami, menginternalisasi, dan melakukan inofasi sesuai kebutuhan.

Learning to do, artinya kita diajar untuk melakukan, maka dalam pembelajaran tematik banyak hal yang dilakukan dalam PBM yang bersifat atraktif, baik bersama guru dan teman, maupun bersama dengan orang tua di rumah. Learning to be, yaitu belajar menjadi. Artinya, kita belajar untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita.

Jadi, dalam proses pembelajaran, kita mengajak anak atau peserta didik kita bermain peran atau rol play game. Misalkan, belajar menjadi guru, belajar menjadi hakim, lawyer, dokter dan permainan lainnya. Sehingga, dengan begitu, kita lebih menghayati apa yang menjadi lakon(peran) kita. Sehingga, dengan begitu kita akan menemukan bakat dan potensi dirikita yang merupakan anugerah ilahi yang harus dirawat dan dikelola menjadi asset yang boleh jadi kita gunakan untuk bermasyarakat.

Berdasar apa yang telah penulis urai secara panjang dan lebar yang sangat menyiksa diri kata Dian pisesa, tentu tidaklah semua guru berprinsip kebanyakan. Banyak pula bapak dan ibu guru kita di masa lalu yang berpikir keluar jauh di sana(out of the box). Namun demikian, inofasi yang dilakukan tentu sangat terbatas, karena dulu hal baru selalu dianggap tabuh, karena di zaman orba kala itu sebahagian bapak ibu guru yang terlena dengan statusnya yang superior itu takut pamornya tergeser oleh sang pembaharu.

Buat ayah bunda, janganlah menuntut anak untuk menjadi apa yang anda inginkan. Artinya, janganlah minta mereka harus dapat nilai9 dan itu harga mati tidak boleh ditawar lagi. Tapi, yang terpenting, ajarkan nilai-nilai seperti nilai kebaikan dan kebenaran yang dipertajam lewat norma seperti sopan santun, tatakrama, dan lain sebagainya. Karena, dengan begitu banyak anak yang merasa diri menjadi anak yang gagal. Dan akibat dari semua itu banyak anak yang tidak bahagia, akhirnya mereka terjerembap ke dunia hitam dengan membawa semboyan terlanjur sudah jadi anak yang tidak baik, jadi mau apalagi? Teruskan saja. Maka dari itu ayah bunda, dukung dan hargailah usaha mereka serta bimbinglah saat mereka kesulitan dan terjatuh.

Sebagai benang kusut, eh benang merah dari persoalan ini dalam perspektif penulis, bahwa system kurikulum saat ini adalah system yang mengakomodir semua dan memanusiakan semua. Apa yang kita dapat petik dari cara kerja system ini. Mulai dari posisi siswa dan guru yang sama, sebagai sahabat, sebagai teman belajar, dan sebagai fasilitator yang baik. Kedua, transparansi, karena orang tua boleh tahu apa yang kurang dari anaknya berdasar penilaian guru. Sehingga, tidak lagi sertamerta ayah bunda menyalahkan anak yang telah melakukan usaha secara maksimal.

Buat rekan guru yang penulis hormati, dengan adanya kurikulum yang berlaku sejalan dengan system sekarang, maka anda semua adalah pembelajar, karena sesungguhnya kita sebagai manusia selama hidup harus selalu belajar sebagai mana idiom yang popular di kalangan kita yaitu long life education. Bukan karena anda telah menjadi guru sehingga anda tak lagi belajar. Itulah, mengapa biasanya kita menemukan bapak ibu guru menjadikan acara baca Koran bukan baca yasin setiap pagi di koridor sekolah? Karena, itu akan menunjang mereka untuk menambah wawasan kita sebagai siswa. Pun juga, ketika kita sering menemukan ayah kita membaca Koran atau ibu kita yang membaca buku resep kue di ruang keluarga. Artinya, itu akan menjadi pembelajaran bagi kita bahwa tak ada waktu untuk berhenti belajar, karena banyak hal yang harus dipelajari. Karena, sebagaimana diatas, belajar tak hanya untuk tahu tapi untuk berkembang, agar kita tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang maju pesat.

Nah kembali pada persoalan transparansi, maksud penulis terkait transparansi, guru lebih leluasa menunjukkan bahwa anak kurang dalam hal apa, dan anak baik bahkan sangat baik dalam hal apa. Itu dapat kita lihat pada format raport anak kita yang tak lagi hanya berisi tolong anaknya dibina seperti buku raport bersampul merah, biru, dan abu-abu pada masa lalu. Peniadaan rangking atau peringkat kelas oleh sebahagian guru bagi penulis juga baik untuk anak. Walaupun, sebenarnya menghilangkan spirit kompetisi. Namun, satu hal yang pasti dalam perspektif dan penerawangan penulis yang tidak lebih sakti dari mama Lauren dan Mbakyu bahwa bapak atau ibu guru mampu menciptakan kompetisi yang bersikap edukasi dengan menanamkan nilai-nilai sportifitas di kalangan siswa. Sehingga, dengan begitu tak ada lagi siswa yang merasa dikucilkan. Maka dengan begitu, siswa dapat menuntut ilmu dengan suasana hati yang bahagia, tak adalagi kekerasan fisik dan psikis dengan alasan pendisiplinan dari bapak ibu guru dan orang tua.

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Nama sujono said. Tempat tanggal lahir Selayar, 21 Februari 1987. Lebih senang dipanggil kak jono sejak mahasiswa sampai kakek-kakek. Hobi menulis, membaca, ngopi dan karaokean.

Post a Comment for "Sistem Pendidikan yang Humanis"