Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wujudkan Mimpi Jadi Nyata, Bagaimana Caranya?

Penulis: Sujono Said

Mungkin sering, kita mendengar seorang anak dari TK hingga SD menyampaikan akan jadi apa ia kelak. Ada yang bilang pengen jadi Guru, ada yang pengen jadi Polisi, ada yang pengen jadi Tentara, ada yang pengen jadi Astronot. Itu mereka yang keseringan nonton film kartun atau sering baca buku yang berbau sains. Itulah yang kemudian oleh kita sering menyebutnya dengan mimpi.

Gambar Seseorang Membaca di Perpustakaan

So, kalau dalam bahasa kita itulah mimpi. Maka, jika kita ingin menjadi orang yang punya masa depan, harus punya mimpi atau cita-cita. Sehingga, ketika nanti setelah dewasa arah kehidupan kita menjadi jelas. Nah, begitu pun dengan kita yang sudah selalu kenyang dengan kekecewaan, kenyang dengan penderitaan, atau kurang puas dengan kondisi kehidupan kita baik secara pribadi maupun secara keseluruhan. Maka kita pun akhirnya memiliki berjuta mimpi besar setinggi langit. Tapi salahkah?.

Tidak! Memiliki mimpi sekali lagi adalah sebuah keharusan, karena orang yang tak punya mimpi tak punya motifasi hidup. Namun, yang namanya mimpi itu harus diwujudkan dalam bentuk kerja keras, beribadah dan berdoa, serta memegang prinsip dan nilai yang sesuai dengan hukum agama, Negara, adat, dan nasihat leluhur kita.

Jika misalnya, kita punya mimpi pengen jadi mahasiswa luar negeri, maka sejak SMP, kita sudah harus sering mengikuti English cors. Mulai dari lefel basic, intermediet, advance, dan berakhir di kelas speaking. Setelah itu, untuk memperlancar komunikasi dan memperbanyak vocabulary dalam bahasa Inggris, maka seringlah mengikuti "club malam", eh club meting. Terlebih, club meting tersebut sering-sering menddatangkan natif speaker dari luar negeri. Di omen-momen inilah, anda dapat mempelajari gaya mereka dalam berbicara, budaya dari Negara mereka, dan lainnya. Tentu, dengan tujuan agar tidak terkena culture shok. Setelah itu, barulah anda rajin berburu info beasiswa.

Tentu, tak akan berbeda dengan ketika anda ingin menjadi fownder dari sebuah perusahaan. Tentu, anda harus mengumpulkan modal dengan kerja keras seperti menjadi sels, menjadi manager, CEO atau direktur utama, hingga anda mampu menjadi owner plus fownder. Intinya, wujudkan mimpi dengan kerja, kerja, dan kerja kata pak pres.

Nah, tentu ketika dalam perjalanannya mewujudkan mimpi tertinggi kita akan berhadapan dengan berjuta tantangan yang jika kita tak kuat lahir dan batin, maka kita akan sangat terpuruk. Sebagaimana telah penulis jelaskan diatas, bahwa kerja tentu harus dibarengi dengan doa. Makanya, yang muslim harus Shalat, yang nasrani harus rajin berdoa di gereja, pun dengan mereka yang hindu dan budha, harus beribadah sesuai denngan cara masing-masing. So, hadirkan doa dibalik setiap kerja keras kita.

Selain itu, tentu kita sebagai manusia, pasti jenuh, pasti rapuh, dan kita dalam bekerja keras mewujudkan mimpi kita berkemungkinan untuk mendengar suara sumbang yang meredupkan mimpi-mimpi kita. Sehingga, dalam merumuskan mimpi, kita harus memantapkan diri. Setelah kita mantap sekalipun, kita masih berpotensi tuk rapuh.

Memantapkan diri, adalah dengan mendengarkan masukan dari orang lain. Setelah itu, baru timbang semua dan mantapkan hati. Dalam ilmu NLP ( Neuro linguistic programming ). Untuk menjadi sosok yang optimis, ada 3 hal yang harus dilakukan. Yaitu, afirmasi, repitisi, dan visualisasi. OK! Akan kita bedah semuanya.

Afirmasi, adalah berbicara dengan diri kita sendiri. Hah? Bukankah kita menjadi ODGJ ( Orang dengan gangguan jiwa ) jika kita berbicara sendiri? Tentu tidak! Maksudnya adalah, berbicara tentang apa yang menjadi mimpi kita. Boleh disaat sunyi, atau berbicara dengan berteriak secara lantang, atau cukup dengan hati tapi disertai dengan penekanan yang kuat. Afirmasi, disebut juga dengan "Self Talk" ( berbicara dengan diri sendiri ). Afirmasi, juga boleh dilakukan saat jelang atau bangun tidur.

Repitisi, berasal dari kata "repit" yang berarti mengulang. So, apa yang kita inginkan harus diucap secara berulang. Jadi, katakan dan ulangilah apa yang menjadi mimpimu. Entah dengan berteriak, berbisik, atau berbicara secara datar, dan ulangilah.

Visualisasi, berasal dari kata "visual" yaitu melihat. Artinya, bayangkan mimpi anda telah terwujud. Visualisasi, dapat dilakukan dengan duduk berselonjor, atau duduk di kursi sambil mendengarkan musik, dan seterusnya. Hal ini, sangat sejalan dengan nasihat orang tua dulu, bahwa sebelum kamu bekerja pekerjaanmu sudah harus jadi.

Penulis akan bercerita tentang apa yang menjadi pengalamannya dalam meraih mimpi walau itu bukan mimpi yang sempurna kata Ariel. Jadi begini, penulis dulu sering berbicara sendiri bahwa penulis ingin tahu berbahasa Inggris. Kemudian, penulis pun sering ikut club meting, dan berbicara sendiri dalam bahasa Inggris.

Saat berbicara, penulis membayangkan bahwa penulis berbicara di hadapan puluhan bahkan di hadapan ratusan audience. Alhasil, walau tak sempurna penulis tak malu jika harus bersanding dengan natif speaker dari luar negeri. Kaitan dengan visualisasi, penulis sering jalan-jalan sambil senyum sendiri. Tak jarang, penulis dikatai ODGJ. Namun bagi penulis itu no problem lah. Couse every things gonna b OK.

Namun, penulis ingin menegaskan bahwa dalam mewujudkan impian tersebut kita tidak boleh hanya mengafirmasi, repitisi, dan memvisualisasi tanpa disertai dengan berbagai usaha, kerja keras, pengorbanan dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya, penulis dengan hobi menulis, ( yah namanya saja penulis kan, hehehehe...). Jadi begini, penulis berkeinginan untuk kuliah di jurusan sastra. Pastinya sastra Inggris dong!. Dengan tujuan, agar hobi penulis dapat tersalur dengan baik. Ia ingin menulis bukan sekadar hobi. Tapi hobi yang dijiwai dengan "seperangkat kaidah kepenulisan dibayar mahal, karena Allah, sah!" Tapi, tuhan maha baik, karena penulis justeru diuji dengan kenyataan lain. Akhirnya, masuklah penulis ke FH ( Fakultas hukum ).

Ya! Fakultas dengan jurusan yang menjadi momok bagi penulis dikarenakan paradigmanya sendiri tentang jurusan ini. Namun, setelah penulis masuk smester 5, penulis bertemu dengan teman-teman FLP ( Forum lingkar perempuan, eh forum lingkar pena ). Dengan begitu, impian penulis untuk lebih terarah terwujud sudah.

Setelah penulis selesai kuliah, penulis bergabung dalam sebuah group kepenulisan yang berskala nasional di dunia maya. Di sanalah, penulis mengimproove ilmu kepenulisan yang penulis punya. Hingga akhirnya, hanya berselang sebulan penulis pasca wisuda, penulispun akhirnya menjadi guru dengan mengajar bahasa Indonesia dan Inggris. Kemampuan menulis, dan kemampuan bercakap pun semakin diimprove.

Satu lagi mimpi yang ingin penulis share. Pada sekmen kali ini adalah, judulnya mengumbar mimpi, hehehe... Begini, dulu ketika penulis smester 2 di Fakultas hukum, penulis ingin jadi pembicara public seperti Andrie wongso. Bahkan penulis sering membayangkan diri disorakin, dan ditepuktanganin, habis itu dibayar mahal. Apa yang penulis lakukan? Penulis sering membuka kelas motifasi dan kelas training. Hingga akhirnya, saat penulis sudah masuk smester 7, penulis berkesempatan untuk mengajar public speaking di kalangan santri TPA dan remaja masjid dekat kostan. Itu, tak berlangsung lama, karena penulis harus mengikuti program KKN.

Namun, Allah maha tahu yang terbaik bagi hambanya. Mungkin, jika penulis menjadi motifator berkelas, penulis akan tinggi hati. Sehingga, akhirnya menjadi guru seperti yang telah dijelaskan diatas. Tapi, setelah 5 tahun menjadi guru dan lama tak menyalurkan sedekah, eh menyalurkan hobi menulis maksudnya, entah mengapa, penulis kembali berkeinginan untuk menjadi seorang pembicara public. Tapi bukan untuk menggurui, melainkan, sebagai seorang yang hanya punya gagasan untuk dituangkan dalam bentuk ceramah public. Dan akhirnya, pada tahun 2020, entah mengapa penulis akhirnya menggarap sebuah program di social media yang kemudian dinamai "Gagasan Lelaki Biasa". Dan tahun ini, tepatnya 3 Juli 2021, sudah punya chanel youtube pula.

Akhirnya, kini penulis pun menuangkan buah pikirannya kembali lewat tulisan setelah fakum sekian lamanya. So, penulis hanya ingin mengatakan bahwa jika kita punya mimpi besar, maka kita harus berusaha mewujudkan dengan kerja keras, doa, sabar dan mengorbankan banyak hal. Mulai dari harta, waktu, tenaga, hingga air mata sekalipun. Mengapa? Itu pun terjadi pada para pendahulu kita dan mereka sang inspirator.

Nah, berdasar dari bacaan penulis dari auto biografi mereka yang telah sukses, pun juga para inspirator, ada beberapa hal yang penulis simpulkan secara garis besar. Pertama, harus berani keluar dari "confert zon". Sebagaimana BJ Habibie, setelah menikah dan memboyong bu Ainun ke Acen Jerman. Kemudian beliau harus hidup bersusah-susah. Hingga, pertemuan beliau dengan Presiden Soeharto di Cendana, Jakarta pada 28 januari 1972. Akhirnya, beliau pun pulang dengan kontribusi besarnya di Indonesia hingga akhir hayat beliau.

Ngomongin kompor Jon, eh confert zone, itu juga terjadi pada Mis Mery Riana, seorang perempuan dengan mimpi sejuta dollarnya, sewaktu di Jakarta ia hidup dalam asuhan orang tuanya yang hidup berkecukupan. Namun, saat kuliah di NTU ( Nannyang tecnologi university ) di Singapore, ia pun akhirnya hidup seadanya dengan usia yang masih muda.

Kemudian, jika kita punya mimpi, kita harus bersabar ketika menghadapi tantangan hidup. Sebagaimana KH Hasyim azhari, saat mendirikan Nahdhatul-ulama, mendapat pertentangan. Bahkan, pesantren yang ia dirikan dibakar oleh Belanda. Juga dengan KH Ahmad dahlan sebagai pendiri Muhammadiah, yang masjidnya dirobohkan dan diratakan dengan tanah pada bulan ramadhan, saat santri sedang tadarusan di masjid.

Belum lagi, ketika KH Ahmad dahlan membeli kotak bir untuk dijadikan bangku dan meja belajar saat membangun sekolah di rumahnya, banyak yang menjuluki beliau sebagai kiyai gila. Karena, tindakan beliau yang membeli kotak bir dari pasar di Gede kauman. So, inti dari semua ini adalah kesabaran dan kelapangan jiwa yang dibutuhkan.

Karena, orang sangat mungkin berkata apa saja pada kita karena banyak factor. Pertama, ia belum tahu apa yang menjadi tujuan kita. Ada juga yang tahu, tapi ia takut merasa tersaingi oleh kita karena yang bersangkutan kurang berani melompat lebih tinggi. Atau, ada factor lain sehingga mereka tak mau keluar dari confort zone.

Hal lain yang menunjang kita dalam merealisasikan mimpi adalah berpegang pada beberapa prinsip seperti komitmen, konsisten, melakukan lompatan yang extra atau orang mengenalnya dengan istilah go extra miles. Mengapa? Karena, dengan begitu maka kita akan mampu meraih mimpi-mimpi kita. Selebihnya, semangati diri dengan 3 hal tadi, dan maksimalkan doa kita kepada tuhan yang maha mengatur hidup dan kehidupan.

Penulis bukanlah seorang motifator, bukan pula seorang inspirator. Namun penulis berani menulis dan membahas hal ini, karena penulis juga mempunyai beribu pengalaman tentang mewujudkan mimpi menjadi nyata. Tentu, berdasar dari buku orang-orang sukses serta para tokoh yang banyak mempunyai pengaruh.

Selain itu, penulis juga sering membaca buku-buku yang berbau motifasi. Buku tentang NLP, dan Hipno teraphy. Insya Allah, penulis akan sajikan tentang Manfaat NLP dalam kehidupan penulis pada waktunya kelak.

So, menutup tulisan ini, izinkan penulis mengutip perkataan dari Yakop esra, bahwa mimpi itu harus diwujudkan. Karena jika mimpi tidak diwujudkan, maka kita bukan pemimpi hanya tukang mimpi. Anda sering dengar cerita tentang "hayalan si cebol" waktu SD dulu? Dari kisah si cebol ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mimpi harus diwujudkan dengan kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas.

Hal ini, juga telah dipertegas dalam al-quran Surah Ar-Raad ayat11 yang berbunyi, "Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika ia sendiri tidak melakukan perubahan atasnya." Artinya, lagi-lagi kerja keras, kesungguhan, dan menjalankan prinsip-prinsip agama yang kita anut berikut nasihat dari leluhur. Sehingga dengan begitu, mimpi akan terwujud menjadi nyata. Dan kita, akan takjub pada diri kita sendiri bukan?. Tidak ada yang tak mungkin, jika kita berusaha keras disertai dengan doa pada tuhan yang maha kuasa.

Foto Sujono Said

Sekilas Tentang Penulis

Nama sujono said. Tempat tanggal lahir Selayar, 21 Februari 1987. Lebih senang dipanggil kak jono sejak mahasiswa sampai kakek-kakek. Hobi menulis, membaca, ngopi dan karaokean.

Post a Comment for "Wujudkan Mimpi Jadi Nyata, Bagaimana Caranya?"